Pagi di Embung Lampeyan Sleman

Selepas balik ke Jogja hari kamis malam (23 Juli 2015), aku mulai beraktifitas seperti biasa. Bekerja pada hari jum’atnya, kemudian libur sabtu dan minggu. Sabtu ini (25 Juli 2015), aku menyempatkan untuk bersepeda dijalanan Jogja. Berhubung siang ada acara sampai sore, aku hanya keliling kota. Dimulai dari kos menuju Tugu Jogja. Aku malah kebingungan karena tidak ada rute yang kupersiapkan untuk bersepeda. Sejenak aku berhenti di dekat Tugu, kemudian memikirkan rute yang ingin aku tempuh.

Aku teringat dari sebuah blog yang ditulis seorang pesepeda, dia pernah mengulas tentang Embung di dekat Terminal Jombor. Aku langsung mulai mencari di Google melalui hp, setelah membaca lokasinya; sepedapun kukayuh menuju lokasi. Daerahnya adalah Toragan, Mlati, Sleman. Berhubung masih pagi, kukayuh pedal menyusuri jalan Godean, lalu belok kanan menuju jalan Kabupaten, melewati Ringroad, lurus terus sampai bertemu perempatan jalan Kebun Agung, belok kiri. Kususuri jalanan sampai bertemu Lapangan Sepakbola Getas, lurus lagi sekitar 200 meter nanti bertemu perempatan kecil. Aku memasuki gapura belok kanan bertuliskan “Toragan”. Sebenarnya lebih mudah kalau lewat Jombor, tinggal ambil jalan kebun Agung, dan lapangan Getas.
Gapura masuk ke Embung Lampeyan
Gapura masuk ke Embung Lampeyan
Memasuki Gapura merah, kulewati jalan kampung. Disela-sela perjalanan, aku bertanya pada anak-anak yang sedang main sepeda mengenai Embung. Mereka memberi arahan untuk lurus mengikuti jalan sampai mentok. Akhirnya jalan sampai mentok, terdapat pertigaan. Aku kembali bertanya seorang bapak yang sedang mengasuh anaknya, beliau mengarahkan jalan untuk belok kiri. Ternyata jarak dari pertigaan tersebut tidak lebih dari 100 meter sampailah di dekat Embung. Ada sedikit rimbunan pohon Bambu di dekat Embung. Dihadapanku sebuah embung tidak besar, dan pastinya masih sepi. Embung ini pun sangat tenang, namun dibeberapa sudut ada tumpukan sampah. Aku mengabadikan embung ini dari berbagai sudut. Cukup tenang kan airnya?
Embung Lampeyan, Sleman
Embung Lampeyan, Sleman
Embung Lampeyan, Sleman
Embung Lampeyan ini tidak seperti Embung Tambak Boyo apalagi seperti Embung Nglanggeran. Di sini sangat sepi, pagi ini pun hanya ada beberapa warga setempat yang sedang asyik memancing di Embung. Aku pun mengelilingi embung ini sejenak, hanya butuh sekitar dua menit saja sudah selesai mengelilinginya. Aku pun berbaur dengan sekelompok bapak yang sedang memancing, melihat aktifitas mereka; mancing & ngobrol.
Aktifitas mancing di embung
Aktifitas mancing di embung
Aktifitas mancing di embung
Ada pemandangan yang cukup menarik bagiku di sini. Di salah satu beton, terdapat bangkai ikan kecil yang sudah membusuk. Entahlah, mungkin ini adalah hasil pancing salah seorang yang mancing kemarin atau malah kemarin lusa. Ikannya kecil banget, hanya sebesar tiga jari. Pemandangan lainnya yang menarik perhatianku adalah sebuah banner yang terpasang di sebuah pohon. Tulisan banner tersebut adalah “Dilarang Mancing di Malam Hari di Embung Lampeyan.” Entah apapun alasannya, mungkin larangan ini harus dipatuhi para pemancing di embung Lampeyan.
Hasil tangkapan yang ditinggalkan
Tulisan larangan mancing malam hari di embung
Aku menikmati pagi agak lama di Embung Lampeyan. Menyusuri embung tersebut, dan mengabadikan diri di beberapa sudut embung. Sangat menyenangkan, pagi hari bisa menikmati suasana tenang di sini. Embung Lampeyan bisa menjadi tempat alternatif untuk sekedar jogging, tujuan bersepeda, atau sampai dengan menuntaskan hobi mancing. Kalian bisa menikmati tenangnya pagi hari di sini.
Mengabadikan diri dulu bareng sepeda
Mengabadikan diri dulu bareng sepeda
Mengabadikan diri dulu bareng sepeda 
Jika ada waktu, ada baiknya bersepeda ke embung ini. Melihat aktifitas warga yang sedang memancing, atau sekedar duduk santai di salah satu sudut embung. Setelah puas, aku pun melanjutkan perjalanan kembali ke kos. Ya, embung Lampeyan memang tidak besar dan belum banyak dikenal. Jika kalian ke sana, tetaplah menjadi pengunjung yang menaati aturan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan lebih baik lagi menyapa warga yang ada di sana. Semoga embung Lampeyan bisa berbenah menjadi lebih baik ke depannya.
Baca juga postingan yang lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

17 komentar :

  1. amin
    memang lumayan enak juga untuk bersantai mas,apalagi sambil mnum kelapa muda
    juara dehhh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaaa, kalo pagi sepertinya lebih seru kalo nyeruput Kopi haaa

      Delete
  2. Replies
    1. Takut kecebur mungkin mas, apalagi tidak ada penerangannya...

      Delete
    2. Saya kurang tahu, tapi memang lokasinya gelap heeee. Mungkin takut kenapa-kenapa :-D

      Delete
  3. Keren mas artikelnya.. Bakat nich sebagai penulis cerita narasi.. Dapet banget... Jujur, saya tidak suka dengan embungnya, saya sangat suka dengan alur ceritanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak, ini juga masih latihan dalam menulis :-)

      Delete
  4. wah asyik banget tuh mancingnya, btw itu kenapa gak dibolehin mancing di malam hari pak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena masih belum ada penerangannya di sekitar Embung :-)

      Delete
  5. kalau mancing malam hari juga susah kalau gelap sih ya? Ikannya banyak kah disini? asik tuh mancing terus hasil pancingannya dibakar atau digoreng :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya karena belum ada penerangannya mas, takut pemancing terperosok atau gimana gitu heeee.

      Delete
  6. terimakasih gan tentang infonya dan semoga bermanfaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, terima kasih kembali sudah membaca tulisan ini..

      Delete