Jogja Library Center, Terasing Dikeramaian Sepanjang Jalan Malioboro

Perjalanan tak terencana ini dimulai dari beberapa hari saat teman memposting statusnya di FB mengenai kegiatannya menjaga perpustakaan di salah satu lembaga. Dari sana, aku menjadi tertarik untuk mengunjungi beberapa perpustakaan ataupun tempat lain yang searah. Akhirnya, akhir pekan ini aku langsung menaiki Trans Jogja untuk memulai memutari kota Jogja, dan mengabadikan apapun yang aku rasa cukup baik untuk ditulis. Tujuan pertamaku adalah sebuah perpustakaan yang berada dipusat keramaian kota. Jogja Library Center, salah satu cabang dari BPAD (Perpusda) Yogyakarta.
Jogja Library Center di Malioboro
Jogja Library Center di Malioboro
Turun di halte Malioboro I, aku tinggal menyeberang menuju perpustakaan. Lokasinya memang hanya berseberangan saja, aku mendorong pintu yang bertuliskan “Open”. Tidak lama berselang, seorang petugas di Informasi menyapaku, dan mengarahkanku untuk menulis buku tamu sekalian memberikan kunci loker.

“Identitasnya kami bawa dulu ya, mas. Nanti kalau mengembalikan kunci baru kami kembalikan.”

Aku pun mengiyakan. Ada sederet loker yang memanfaatkan ruang kosong tangga untuk ke lantai dua. Di sini tersusun rapi naskah-naskah yang sudah dikliping. Kusapukan pandangan sampai sudut lain, di bagian bawah ini ada tiga orang pemustaka yang sedang asyik membaca kliping-kliping besar. Mereka melahap bacaan, sesekali menulisnya dilaptop.
Ruangan depan Jogja Library Center
Ruangan depan Jogja Library Center
Kususuri rak yang berada di samping kiriku. Tumpukan kliping tersusun rapi dengan sampul yang sudah mulai usang. Pikiranku terbang menuju beberapa tahun lalu ketika masih kuliah, semacam dejavu dengan mata kuliah Filologi; mata kuliah yang membahas tentang manuskrip kuno di Perpustakaan Sonobudoyo Unit I. Tumpukan kliping itu kuamati lebih dekat, di sana ada tulisan Spidol yang mengidentifikasi bahwa kumpulan tersebut dari sebuah media massa “Kompas” tahun 1997an. Walaupun tidak tertata sesuai dengan bulannya, tapi terlihat lengkap; satu kliping “Suara Merdeka” pun terselip di antaranya. Aku pun mengecek tumpukan lain, ternyata di sana ada “Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dan lainnya.”
Tumpukan Kliping Koran
Tumpukan Kliping Koran
Tumpukan Kliping Koran
Ada fasilitas yang menurutku cukup unik di sini, di dekat loker terdapat semacam loker yang berisi colokan listrik lengkap dengan charger. Ternyata di sini juga memberikan fasilitas charger hp, jadi kita bisa mengisi baterei di tempat ini dengan meminjam kuncinya pada petugas. Kalau kita tidak membawa charger, tidak jadi masalah. Karena setiap loker sudah dilengkapi dengan charger yang mempunyai colokan berbeda-beda. Aku rasa ini sebuah terobosan yang bagus untuk diikuti tempat-tempat lain. Dan tentunya yang perlu diutamakan adalah keamanan hp yang sedang diisi.
Loker layanan Charger HP
Loker layanan Charger HP
Memasuki lebih dalam perpustakaan, di sini tertata rapi komputer di atas meja. Di sana samping monitor terpajang sebuah kertas yang bertuliskan mengenai data koleksi yang sudah didigitalkan. Pemustakan dapat mengaksesnya dengan membuka koleksi yang diinginkan. Kulihat seorang bapak sedang asyik membuka file dalam bentuk JEPG. Beliau membaca dan mencatatnya pada sebuah kertas yang sudah disiapkan.

“Baca file apa, pak?” Tanyaku seraya menghampiri beliau.

“Baca tulisan lama dari KR, mas,” Jawab beliau.
Pak Kindro sedang mengakses koleksi hasil digitalisasi
Pak Kindro sedang mengakses koleksi hasil digitalisasi
KR adalah singkatan dari Koran Kedaulatan Rakyat, aku meminta ijin mengabadikan beliau yang sedang membaca. Obrolan kami pun semakin akrab, Pak Kindro; itulah nama bapak yang bersedia aku ganggu sejenak aktifitasnya di perpustakaan.

Sementara itu masih diruangan yang sama, salah satu sudut terdapat sebuah rak yang berisi majalah. Aku mendekati rak tersebut, empat buah majalan yang bertuliskan “Koreana” dihadapanku. Seperti nama majalahnya, isi majalah ini membahas tentang seputar seni dan tempat-tempat di Korea Selatan. Sayangnya di rak ini hanya ada delapan eksemplar koleksi yang membahas tentang Korea. Namun walaupun hanya sedikit, setidaknya koleksi ini bisa membuat kita mengetahui sedikit tentang Korea. Jika ingin lebih detail mengenal Korea, aku anjurkan kalian membacanya di Ensiklopedia. Pasti di sana lebih detail dan luas.
Majalah Koreana; Seni & Budaya Korea
Majalah Koreana; Seni & Budaya Korea
Majalah Koreana; Seni & Budaya Korea
Beranjak dari bangku tempat duduk, kuarahkan kaki menuju ruangan “Kyoto Book Corner”. Sebuah ruangan yang khusus untuk koleksi Jepang. Kali ini tidak seperti koleksi Korea yang berbahasa Indonesia, di sini semua koleksi berbahasa Jepang. Rangkaian huruf Kanji membentuk kalimat yang tentunya tidak bisa aku baca. Jangankan tulisan Kanji, tulisan Aksara Jawa yang notabene-nya aku pernah pelajari selama SD-SMP, dan juga satu semester di kampus (mata kuliah Literatur Aksara Jawa) pun sudah luput dari ingatan. Hanya ingat sedikit-sedikit kalau melihat rangkaiang HA-NA-CA-RA-KA. Jangan tanyakan tambahan seperti Suku, Taling Tarung dan lainnya, aku benar-benar lupa.
Koleksi khusus Jepang di Kyoto Book Corner
Koleksi khusus Jepang di Kyoto Book Corner
Koleksi khusus Jepang di Kyoto Book Corner
Tuntas sudah kususuri lantai satu, setelah ruangan Kyoto Corner di belakang ada sebuah ruangan untuk berkumpul, diskusi, ataupun rapat. Aku kembali ke depan, di sana menaiki anak tangga yang memutar. Suara telapak kaki seakan-akan memecah kesunyian perpustakaan. Di bawah, masih terlihat tiga pemustaka yang berada di ruangan depan. Sesampai di lantai dua, aku dihadapkan ruangan yang luas juga.

Lantai ruangan ini terbalut papan-papan berukuran kecil dengan sebuah ornamen khas kayu. Jejeran rak di sepanjang ruangan menyatu dengan kursi dan meja tertata memanjang. Di sana terdapat dua orang pemustaka yang sedang asyik dengan kegiatannya. Tidak hanya ruangan panjang ini saja, sisi kiriku terdapat tiga ruangan berukuran keci, mungkin 3x3 meter. Di dalamnya terdapat sekitar 5 kursi mengelilingi satu buah meja, dan sebuah jendela dan gorden sangat membantu untuk pencahanyaan. Kulongok ketiga ruangan tersebut, dua ruangan berisi satu orang ditiap ruangan, sementara yang satu kosong. Tepat depan pintu bertuliskan “Ruangan Diskusi”. Jadi, ruangan ini bias kita pergunakan untuk berdiskusi jika sedang ada tugas kelompok, sangat menarik sekali.
Ruangan di lantai 2 Jogja Library Center
Ruangan di lantai 2 Jogja Library Center
Ruangan di lantai 2 Jogja Library Center
Rak-rak buku yang terpajang di pokokan ini bertulikan “Koleksi Budaya Nusantara”. Di sini aku bisa membaca judul-judul koleksi yang memang berkaitan dengan Nusantara, misalnya tentang Masyarakat Buton, Borobudur, Prambanan, Gadis Jogja, dan banyak lagi. Tidak ketinggalan semacam cerita-cerita rakyat. Ada satu ruangan khusus lagi yang di dalam, ruangan itu bertuliskan “Koleksi Jogjasiana”. Aku tertarik dengan ruangan ini, dan benar saja, ini adalah ruangan yang dikhususkan untuk koleksi yang berkaitan dengan DI. Yogyakarta. Ada banyak koleksi yang berkaitan dengan keratin Yogyakarta di sini yang bisa kita baca, tapi ingat koleksi ini hanya baca di tempat. Jadi jangan sampai melanggar aturan dengan membawa koleksi ke luar ruangan.
Koleksi Nusantara
Koleksi Nusantara
Koleksi Nusantara
Kusempatkan membaca salah satu buku mengenai Yogyakarta, kemudian menaruh koleksi tersebut di atas meja. Kunjungan ini pun berakhir, aku menuruni tangga, dan menuju tempat informasi. Mengembalikan kunci loker seraya mengambil kembali Kartu Identitas. Selama aku di perpustakaan tersebut, kuhitung ada delapan pemustaka termasuk aku di sini. Sangat kontras dengan ramainya orang yang berlalu-lalang di depannya. Jalanan Malioboro tak pernah mengenal sepi saat akhir pekan. Perpustakaan ini menyatu dengan jejeran toko, sehingga tidak banyak orang mengira ada perpustakaan di sini, apalagi bagi orang yang baru kali pertama mengunjungi Malioboro. Semoga ke depannya, perpustakaan ini tidak terlihat seperti sedang terasing dikeramaian jantung kota. *Kunjungan ke Jogja Library Center ini pada hari sabtu, 17 Oktober 2015.
Baca juga tulisan lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

22 komentar :

  1. jadi kangan masa kuliah, bolak-balik ke Perpusda I buat nyari ref dan studi pustaka :D, kalau yang malioboro belum pernah masuk walau sering seliweran di jalan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuliah lagi hahhahha, aku terakhir ke Perpusda tahun 2011, ngasih skripsi sama ngurusin surat bebas pustaka :-D

      Delete
  2. Sugoi mas Sugoi ada koleksi buku Jepang'a :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu harus ke sini deh hahahah, atau lebih seru kalau ngeliput perpustakaan yang ada Japan Corner-nya :-D

      Delete
  3. mantap nih koleksi perpus jogja, lengkap dan rapi! kalo yg di kab. bogor sini lumayan tertata sih, tapi koleksinya kurang lengkap :|

    btw, perpus kalo terlalu ramai juga gak enak broh. gapapalah gak banyak pengunjung, enakan sepi wkwk *lama lama bangkrut deh perpusnya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, seramai-ramainya pemustaka di perpustakaan , biasanya mereka nggak berisik :-D

      Delete
  4. Kalau di pangandaran ada yang kayak gitumah,, kayaknya saya bakalan nongkrong di tempat itu tiap hari...

    ReplyDelete
  5. cakep yaa ternyata perpusnya..dulu sering lewat tapi ragu mau masuk, buka atau ndak huhu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mbak sesekali masuk hehehhehe, keren loh :-D

      Delete
  6. wah kayanya lengkap banget ya perpus nya, ada dari mulai makalah, buku, koran yang dulu juga masih biasa di cari
    coba aja kalo info ini ada sebelum aku skripsi kayanya aku mau belain kesana, soalnya kemarin pas sibuk2nya bikin skripsi pusing banget cari makalah sama sumber2 buku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan mbak, kalau untuk cari naskah-naskah lama :-D

      Delete
  7. komplit semua buku ada mulai dari budaya nusantara sampai buku jepang

    ReplyDelete
  8. sekarang malah makin jarang yang ke perpus. lebih seneng ngenet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada waktunya untuk ke perpustakaan, lebih seru rasanya :-D

      Delete
  9. waduh... sayang banget kalau ngga dimanfaatkan. soalnya saya suka ditempat yang banyak bukunya. banyak inspirasi disana hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas, ini salah satu tempat jika kita sedang bingung :-D

      Delete
  10. waaaa ternyata tempat ini pindah di sini atau aku yang kudet ya kak hehe... dulu sih di depan alun" hahaha... mantap kapan" ke surga ini aahh......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah baru tahu kalau dulunya di alun-alun, mas. Heee, setahuku di sana adanya perpustakaan Sonobudoyo :-D

      Delete
  11. dulu zaman kuliah aku kerap ke sini, tapi nyebelin penjaganya, klo sdh jam 12 siang kami ditegur saat ngambil buku dr rak lagi...katanya, sdh mau tutup lho...ihhh padahal tutup jam satu lhoo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heee, mungkin satu jam terakhir petugasnya membereskan buku, jadi tepat pukul satu langsung bisa pulang :-)

      Delete