Mengenal Konsep Rumah Barrataga di Museum Gempa Yogyakarta

Tepat pukul 06.00 wib, aku mengayuh sepeda menuju Jalan Magelang. Meski awal pekan, namun sepanjang jalan belum ramai pengendara berlalu-lalang.  Lebih dari 30 menit, akhirnya aku berhenti tepat di depan sebuah kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. Di sini aku disambut seorang  bapak yang sedang menyapu halaman. Tidak lama kemudian kembali seorang bapak menghampiriku seraya menyapa.

“Mas Rullah, ya? Saya pak Waskita”

“Benar, pak.” Kami berjabat tangan serambi tersenyum.

“Saya jemput yang lain dulu, mas. Silakan tunggu di sini,” Ujar beliau berlalu.

Satu jam aku bersantai di kantor Disbudpar Sleman seraya menunggu yang lain. Satu demi satu peserta Famtrip berdatangan, tidak ketinggalan juga sapaan saling mengenalkan diri dan berjabat tangan. Tanpa menunggu lama, rombongan pun mulai berjalan menuju bus yang terparkir di depan Lapangan Tenis.

“Tujuan pertama kita adalah Museum Gempa Prof. DR. Sarwidi di area Kaliurang,” Terang pak Waskita setelah memperkenalkan diri.

Bus melaju ke arah utara menuju Kaliurang. Selama di dalam bus, sebagian para peserta Famtrip memperkenalkan diri, termasuk aku. Candaan pagi terlontar dari setiap peserta yang hadir, seperti tanpa ada sekat dan membaur semua. Aku merasa satu dengan lainnya sangat cepat akrab. Tanpa terasa, bus berhenti di destinasi pertama. Sebuah jalan kecil membuat bus sedikit berhati-hati untuk parkir, aku dan rombongan pun turun menuju halaman yang lumayan luas. Ini adalah lokasi yang dituju pertama, Museum Gempa Prof. DR. Sarwidi.
Menuju Museum Gempa Prof. Dr Sarwidi Yogyakarta
Menuju Museum Gempa Prof. Dr Sarwidi Yogyakarta
Menuju Museum Gempa Prof. Dr Sarwidi Yogyakarta
Rombongan pun berjalan menuju museum, namun tidak langsung masuk ke dalam. Banyak di antara teman-teman rombongan yang mulai mempersiapkan kamera dan membidik target yang diinginkan. Aku sendiri sudah mempersiapkan kamera pocket yang ada disaku. Beberapa kali membidik, lalu berjalan mendekat ke teras museum. Satu persatau rombongan melepas sandal sebelum masuk, dan tidak lupa juga menulis buku tamu yang telah disediakan oleh petugas. Sebuah buku tamu yang nantinya bisa mengetahui berapa statistik pengunjung yang datang setiap hari.
Menulis data di buku tamu
Menulis data di buku tamu
Menulis data di buku tamu 
Masuk ke dalam museum, cahaya sedikit agak gelap. Ruangan yang tidak terlalu besar pun dipenuhi rombongan kami. Salah satu petugas museum menjelaskan mengenai kontruksi bangunan yang kuat dan tahan dengan gempa. Sesekali beliau mendongakkan kepala seraya menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh rombongan kami. Serambi mendengarkan keterangan petugas, aku menyempatkan untuk mengabadikan beberapa miniatur bangunan yang terpajang di setiap sisi museum.
Miniatur bangunan yang ada di dalam museum
Miniatur bangunan yang ada di dalam museum
Miniatur bangunan yang ada di dalam museum
Ada ilmu baru yang aku dapatkan di sini, di Museum Gempa ini telah mengembangkan bangunan yang tahan gempa dengan menggandeng pihak terkait dari Jepang. Bangunan rumah ini berkonsep Barrataga; Bangungan Rumah Rakyat Tahan Gempa. Rumah-rumah ini sudah dibangun di sekitaran Bantul pada saat sebelum tragedi gempa 2006 di Yogyakarta. Dari sini aku juga mengetahui konsep Rumah Dome (Rumah Teletubies) yang ada di Berbah pun dibangun oleh pihak yang sama.

Tepat di depan pintu masuk museum, sebuah banguan miniatur rumah yang berkonsep Barrataga dipajang. Setiap sisi timur & barat terdapat sebuah pegangan berwarna biru, sementara bangunannya pun berpondasi semacam bekas botol plastik. Miniatur ini dapat kita mainkan dengan menggerak-gerakkan pegangan, sehingga miniatur rumah tersebut bergoyang layaknya terkena gempa.
Konsep rumah Barrataga yang dikembangkan di Indonesia
Konsep rumah Barrataga yang dikembangkan di Indonesia
Konsep rumah Barrataga yang dikembangkan di Indonesia
Usai sudah petugas mempresentasikan konsep rumah Barrataga, kami pun duduk manis melihat video dokumenter mengenai gempa. Video ini mengilustrasikan mengenai Bumi, sampai dengan Gempa. Ada beberapa kategori yang menyebabkan gempa, bahkan getaran Skala Richter. Dimulai dengan skal rendah antara 1-2 SR yang kadang tidak dirasakan, 3-4 yang mulai terasa dan menyebabkan sedikit kerusakan, 5-6 kerusakan sedang dan dirasakan hampir semua orang, sampai dengan skala yang lebih tinggi. Skala tersebut yang pada akhirnya meluluhlantahkan setiap bangunan yang menjulang tinggi.
Melihat video dokumenter mengenai gempa
Melihat video dokumenter mengenai gempa
“Sebenarnya bukan hanya masalah seberapa besar skala gempa itu yang menyebabkan korban/bangunan rusak, namun seberapa kokoh bangunan yang dibuat untuk tahan gempa,” Itulah sedikit pesan yang aku dapatkan setelah menonton video dokumenter. Ya, kasus gempa 2006 di Yogyakarta memang membuka mata setiap orang, rumah-rumah yang hancur pada dasarnya tidak memperhatikan seberapa kokoh bangunan tersebut.

Kunjungan ke destinasi yang pertama kali ini pun berakhir, seluruh rombongan mengabadikan diri di depan museum. Seperti yang biasa kulakukan, dibekali Tripod Mini, aku mulai mengatur setelan kamera dengan bidikan dalam durasi 10 detik. Hasilnya pun tidak mengecewakan, walau tidak bagus karena agak miring, namun sudah mewakili sebagai dokumentasi.
Foto bareng di depan Museum Gempa Yogyakarta
Foto bareng di depan Museum Gempa Yogyakarta
Belum banyak orang yang mengenal Museum Gempa ini, lebih banyak para pengunjung yang ke Jogja mengenal Museum Gunung Merapi untuk dikunjungi. Museum Gempa ini bisa jadi salah satu alternatif pilihan wisata bagi para guru& siswa yang menuju Jogja. Selain mengunjungi wisata Kaliurang, bisa sekalian menyempatkan untuk mengunjungi Museum Gempa karena lokasinya dekat. Perjalanan pun dilanjutkan ke destinasi wisata lainnya yang tidak jauh dari lokasi pertama. *Famtrip ini difasilitasi oleh Disbudpar Kab. Sleman tanggal 30 November 2015 dengan menggandeng Travel Blogger & Admin Sosial Media.
Museum Gempa Prof Dr Sarwidi (MGS 02)
Alamat: Jl. Malangyudo No. 25 Kota Wisata Kaliurang
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Baca juga perjalanan lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

14 komentar :

  1. wah asyik itu y..sy yang asli jogja ja blm pernah ke sini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bisa direncanakan, mas Sekalian mampir ke Kaliurang :-D

      Delete
  2. Wah keren keren sekali tuh mas miniaturnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari miniatur dan penjelasan petugas, kita dapat mengerti bagaimana seharusnya bangunan itu dibuat :-)

      Delete
  3. Kalo bangunan tahan Gempa, Jepang memang ahlinya, soalnya Jepang merupakan negara yang paling banyak mengalami Gempa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, makanya di sini menggandeng orang dari Jepang :-)

      Delete
  4. Kalo menguatkan hati saat terjadi gempa putus cinta bagaimana kak ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan cara menikah langsung, *joss toh, om :-D

      Delete
  5. Deket Kaliurang ya Mas Sitam, Masuk deftar. Insha Allah bisa...

    ReplyDelete
  6. aku kayaknya duliu pernah kesini, tapi lupa soalnya foto-foto disini ilang semua dulu

    ReplyDelete
  7. Kepengin rasanya kesitu biar tahu kalau dada gempa itu hrs bagaimana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada pemutaran video dokumenter mengenai apa yang harus kita lakukan saat terjadi gempa :-)

      Delete