Selamat Pagi Kota Kretek - Nasirullah Sitam

Selamat Pagi Kota Kretek

Share This
Jum’at malam, sebuah tas ransel kecil sudah kupersiapkan sedari sore. Rencananya dinihari nanti aku pergi ke Kudus. Di sana ada acara keluarga, jika waktunya memungkinkan, aku dapat menyempatkan diri singgah di Menara Kudus ataupun Museum Kretek. Pukul 01.00 wib aku menuju Janti, berlanjut naik bis arah Surabaya, dan turun di Kartosuro. Lebih dari setengah jam menunggu bis arah Semarang, akhirnya aku sudah bersandar di salah satu kursi bis Taruna menuju Semarang. Waktunya sepanjang perjalanan bertemankan dingin dan mimpi yang tak teringat lagi.

Tepat pukul 05.00 wib, aku sudah menginjakkan kaki di pertigaan arah masuk Terminal Terboyo, Semarang. Perjalanan masih berlanjut menuju Kudus. Aku memilih deretan bus yang berderetan di tepi jalan, satu demi satu kucari tulisan Kudus. Tepian jalan yang tergenang air pun kuterabas demi masuk ke dalam bus.

“Kudus!! Kudus!! Pati!! Pati!!” Teriak seorang kondektur kencang.

Sekali loncat, aku sudah menaiki bus walau kaki basah terkena genangan air. Kembali kurebahkan badan dikursi seraya melanjutkan tidur yang tertunda. Dari jendela bus terlihat kilauan sinar mentari yang terbit namun tertutup oleh awan menggumpal.

“Turun mana, mas?” Tanya kondektur ke arahku.

“Terminal Kudus, pak.” Jawabku seraya menyodorkan uang lima puluh ribuan.

Sepanjang perjalanan tidak ada yang istimewa menuruku. Penumpang silih berganti naik turun, aku masih menatap hambaran sawah yang terbentang antara jalan Demak – Kudus. Sampai akhirnya aku turun di Terminal Kudus. Dengan sigap aku turun, dan mencari Angkot jurusan Kaliwungu, lebih tepatnya arah ke Terminal Jetak.
Angkot menuju Terminal Jetak
Angkot menuju Terminal Jetak

“Jetak, pak?”

Beliau menganggukkan kepala. Aku bergegas naik angkot bertuliskan “Kudus Semarak – Terminal Bus – Sub Termpinal Jetak PP”. Kumasuki angkot dan bergabung dengan penumpang lain. Seorang bapak dan anak yang ingin menuju Menara Kudus, dua orang ibu menuju pasar, serta seorang siswi SMA. Sementara aku masih duduk termangu di dekat jendela dengan adek sepupuku Antok.
Suasana di dalam angkot
Suasana di dalam angkot

Sepanjang perjalanan pagi, aku sedikit mengabaikan gambar sebelum keiling Kudus. Sebuah taman yang ditengahnya semacam patung Adipura kulewati disisi kananku. Berlanjut jalanan semakin ramai dan banyak orang berlalu-lalang pagi hari. Suatu saat, waktu tepat menurutku adalah mengabadikan sekelompok siswi yang bersepeda. Mereka menunggu jalan agak luang agar dapat menyeberang jalan. Salut dengan siswa/siswi di Kudus. Masih banyak di antara mereka yang menggunakan sepeda sebagai alat trasportasi ke sekolah. Benar-benar pemandangan yang menyenangkankan menurutku.
Aktifitas pagi di salah satu sudut kota Kudus
Aktifitas pagi di salah satu sudut kota Kudus
Aktifitas pagi di salah satu sudut kota Kudus

Perjalanan semakin panjang, kulewati jantung kota, melewati kawasan Matahari Kudus, lanjut terus sampai bertemu dengan pasar. Angkot pun berjalan lebih lambat, sang sopir sengaja memperlambat laju angkot agar tahu jika ada penumpang yang ingin naik. Aku mengabadikan sekali lagi satu momen kesibukan di pasar pagi ini.
Kesibukan di pasar
Kesibukan di pasar

Pagi yang cukup membuatku antusias menghabiskan waktu, berharap urusan keluarga berjalan lancar, kemudian ada banyak waktu untuk menyusuri sedikit lokasi wisata di Kudus. Kesibukan warga di Kudus pun membuatku tanpa sengaja menyapa Kota Kretek ini “Selamat Pagi Kudus”.

Berikut pengeluaran yang aku keluarkan selama perjalanan sampai lokasi di Kudus; Jogja – Kartosuro 10k, Kartosuro – Semarang (Bus Taruna) 25k, Semarang – Kudus 10k, Terminal Kudus – Lokasi tujuan (naik angkot) 6k. Total pengeluaran 51k. waktunya untuk menikmati akhir pekan di Kota Kudus. *Catatan perjalanan ini pada hari sabtu, 21 November 2015.
Baca juga cerita perjalanan lainnya 

25 komentar:

  1. wah main ke kudus ya mas...saudara sy di dersalam, kudus...kalau ke kudus jangan lupa main ke menara...suasanya khas kalau di pagi hari...kalau dah siang panas... :D

    BalasHapus
  2. "Benar-benar pemandangan yang meenyenangkan"
    Bersepeda dg rok menjuntai...
    Suasananya jd kyk kota santri.....

    Salam malam dari Njerman

    BalasHapus
  3. Kamu tumben naik bus, ngak naik sepeda aja hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jauh,, om. Pengennya naik Mobil, cuma belum bisa nyetir *eh :-D

      Hapus
  4. Kenapa yang difoto bukan siswi SMA'a malah foto ibu-ibu -_-

    Setuju saya sama mas Cum, tumben gak pake sepeda? kan biasa'a kemana-mana suka naik sepeda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Takut mereka salah pikiran. Kalo moto ibuk-ibuk kan lebih mudah dan beliau tahu kalau aku ini pengunjung yang baru datang ke Kudus karena bawa tas besar :-D

      Hapus
  5. wah pengen ngerasain naik angkot juga nih mas hehe.... kayaknay seruuu hehe

    BalasHapus
  6. Pengen jalan-jalan lagi ke Semarang kudus dan sekitarnya hehehe

    BalasHapus
  7. Loh ada tow Kota Kretek?. tak kira nama kretek itu hanya ada dua: nama rokok dan salah satu kecamatan di Kota Bantul Jogja mas,,, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mas. Karena di sini tempat pabrik rokok, bahkan ada landmark yang bertuliskan Kota Kretek (sayang tidak terabadikan)

      Hapus
  8. oh kota kretek itu kudus to, baru tahu saya
    >,<

    BalasHapus
  9. Wahaaa mengisi weekend dengan main ke kudus :D kereeeen mas :D penyuka jalan-jalan ya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mas Febri,

      Hanya menyempatkan waktu luang untuk jalan-jalan, mumpung ada waktu mas :-)

      Hapus
  10. Aku setelah tahun 2006, baru sekarang ke Kudus lagi :-)

    BalasHapus
  11. gue pernah sekali ke kudus.. perjalanan gue ke kudus berakhir di ranca buaya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaahha, besok berakhir dipelaminan aja, bro :-D

      Hapus
  12. ternyata di kudus ada nama kota kretek ya, saya baru tahu, thanks infornya..

    BalasHapus

Pages