Bakmie Unik “Mbak Pur” Berbahan Dasar Ketela Pohon di Bantul

Sebuah postingan di sosmed tentang informasi adanya Bakmie berbahan dasar dari Ketela Pohon yang berada di daerah Pundong, Bantul membuatku penasaran. Terang saja, aku menyimpan gambarnya dan mengirimkan di salah satu grup WA.

“Sepertinya ke sini enak,” Tulisku di grup dengan melampirkan gambar Bakmie tersebut.

“Ini dekat rumahku, mas,” Jawab Mbak Dwi yang langsung merespon.

Dalam sekejap, grup WA yang hanya berisi enam personil blogger ramai. Diskusi kecil merencanakan berakhir pekan seraya menikmati Bakmie Pedes yang di Pundong mengerucut. Hasilnya, kami putuskan jum’at sore ke sana. Mau cuaca hujan atau tidak, pokoknya ke sana dan bermalam di rumah mbak Dwi.

Jum’at sore langit lumayan mendung namun belum hujan. Dua motor (aku, Gallant, dan Mbak Aqied) menyusuri jalan Parangtritis. Sayangnya personil kami kurang lengkap karena duo Insan Wisata sedang banyak agenda. Menjelang magrib, kami sampai di Pundong, lalu melaksanakan sholat di SPBU sebelum Rumah Sakit Rahmah Husada (Jalan Parangtritis km 16). Sholat magrib sudah kami tunaikan, kami melanjutkan perjalanan menuju Bakmie unik tersebut, lokasinya searah ke rumah mbak Dwi. Rutenya cukup mudah ditemukan; Jalan Parangtritis km 16 (dari arah kota Jogja) – Rumah Sakit Rahmah Husada – Pertigaan SMA 1 Pundong belok kiri – lurus terus sebelum perempatan pasar Pundong kanan jalan. Sesampainya di sana belum banyak yang memesan makanan di sana, aku bergegas menuju ke dalam untuk memesan menu.

Sebelumnya di depan warung terdapat tulisan “Warung Bakmie Miedes Boomber Mbak Pur”. Di sana juga terdapat nomor telepon serta dapat menerima pesanan. Kembali ke dalam, aku meminta ijin ibu dan bapak di dalam agar diperbolehkan mengabadikan beliau sedang sibuk menyajikan Bakmie untuk pembeli. Di sini ada tiga orang yang melayani pembeli, dua orang ibu dan seorang bapak.
Miedes Boomber Mbak Pur Pundong, Bantul
Miedes Boomber Mbak Pur Pundong, Bantul
Miedes Boomber Mbak Pur Pundong, Bantul
“Sudah berapa lama bu membuka warung Bakmie ini?” Tanyaku seraya terus mengabadikan beliau.

“Waduh, sudah lama, mas. Sekitar tahun 1960an, jaman simbah,” Jawab ibu seraya mengaduk mie yang ada di wajan.

“Dulu ini satu-satunya Bakmie dari ketela, mas. Sekarang sudah ada banyak yang membuatnya,” Tambah beliau.

Dari obrolan singkat dengan beliau, ditambah informasi dari mbak Dwi; aku mulai paham mengenai Bakmie Ketela tersebut. Bakmie ini bahan dasarnya terbuat dari Ketela Pohon (Singkong). Proses pembuatannya memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. Dimulai dari seluruh Singkong diselep/parut, diambil airnya, dan diendapkan. Pada waktu tertentu endapan tersebut disaring dan dibuang airnya. Dari saringan itu menghasilkan endapan seperti tepung (kalau tidak salah namanya Tepung Tapioka). Dari bahan itulah nantinya mie yang digunakan.

Masih terus di dapur dan mengabadikan, aku melihat bumbu yang digunakan meracik Bakmie. Ada yang berbeda di sini, setiap mie yang akan disajikan ditimbang terlebih dahulu. Ini adalah tugas bapak untuk menimbang, berbalutkan plastik; tangan beliau mengambil mie dan menimbangkannya sebelum diangkat kembali.
Menimbang Mie-nya agar takaran porsinya sama
Menimbang Mie-nya agar takaran porsinya sama
Menimbang Mie-nya agar takaran porsinya sama
“Kenapa ditimbang, pak?”

“Biar sama beratnya, mas. Jadi setiap porsinya bisa pas,” Jawab bapak tersenyum.

Puas mendapatkan informasi yang lumayan lengkap dari empunya, aku beranjak menuju teras. Di sana tidak hanya rombongan kami yang menunggu. Tanpa terasa sudah mulai banyak yang memesan bakmie. Saranku sih jika ke sini lebih baik jangan terlalu malam, takutnya kehabisan. Selain itu waktu yang digunakan untuk menyajikan setiap pesanan pun relatif agak lama, tapi tak perlu dipermasalahkan karena penyajian dilakukan untuk yang terbaik. Warung bakmie ini tidaklah besar, di dalam enam meja dengan kursi-kursi panjang, sedangkan di luar terdapat dua meja besar dan beberapa kursi panjang tanpa meja yang digukana untuk menunggu pesanan.
Meja-meja untuk pembeli
Meja-meja untuk pembeli
Lebih dari setengah jam kami menunggu bakmie, akhirnya bakmie goreng yang dipesan Gallant terlebih dahulu disajikan. Tak berapa lama kemudian tiga bakmie rebus/kuah pun diantarkan. Sebelum melahapnya, aku mengabadikan terlebih dulu. Satu porsi bakmie ukurannya pas. Walau sudah bilang kalau pedasnya sedang, namun bagi ketiga temanku masih saja merasa kepedasan. Oya, rasanya hampir sama dengan bakmie lainnya, yang membedakan memang mienya lebih legit dan agak kenyal. Ini karena mie-nya terbuat dari Ketela.
Satu Porsi Bakmie Goreng
Satu Porsi Bakmie Goreng
Satu Porsi Bakmie Godog
Satu Porsi Bakmie Godog
Satu porsi bakmie ini hanya seharga Rp. 7000,- saja. Keseluruhan yang kami keluarkan untuk membayar 4 porsi bakmie, empat minum es jeruk, empat kerupuk sebesar Rp. 40.000,- saja. Sangat terjangkau kan? Mungkin jika kalian sedang berlibur ke Jogja dan mengunjungi Pantai Parangtritis, saat kembali ke kota bisa terlebih dulu mengagendakan untuk menyantap makan malam di Bakmi Mbak Pur. *Kuliner Bakmie Pedes Mbak Pur di Pundong, Bantul pada hari Jum’at, 12 Februari 2016.
Baca juga kuliner lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

48 komentar :

  1. Hargnya murah sekalai bakmienya, apalagi bahan dasarnya itu yang asi kbanget ketela. Adonan campurannya juga asik banget bikin ngiler.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harga makanan di Jogja memang sesuai dengan kantong mahasiswa,kang :-D

      Delete
  2. Hahaha,,, kemarin aku ya makan mie ini mas, tapi di tempat Pak Yono. Aku cari - cari tuh dimana bakmie nya? ew nggak tahunya bakmie nya yang berwarna ijo terus besar - besar lagi.... Tapi habis makan agak gimana sieh, rasanya seperti eneg mas,,,, sip dah mas, kapan - kapan tak coba yang satu ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, emang banyak di daerah Pundong, mas :-)

      Delete
  3. Waaa baru tau ada bakmie dari ketela :o
    Dari fotonya sih keliatan enak, hehe.
    Boleh lah kalo nanti saya ke Jogja mampir ke sini :9

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mie-nya lebih kenyal, mbak. Pokoknya unik aja rasanya :-D

      Delete
  4. murah banget, Mas. weh ... jalan-jalan, makan-makan terus, betewe "doa Insan Wisata" nama orang ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah untung kamu teliti hahhhahahha, terima kasih atas koreksinya, pengennya nulis Duo hehehehhe. Itu nama blog teman :-D

      Delete
  5. Ya Allah kok kayanya enak bangettt. :9
    Mauu tapi jauh ih di bantul.
    itu sampe ditimbang biar sama tiap porsi. luar biasah adil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeeee, jauh gak apa-apa mas, siapa tahu sekalian main ke pantai :-D

      Delete
  6. Replies
    1. Seperti itulah deadline, niat hati ingin menulis "seraya" jadi "semaya". Pantes teliti, kamu kan lagi nyekripsi :-D

      Delete
  7. Kmaren pas pulang dr paris pengen belok KANAN di sini, tp ud malem n sendiri. Yowis rasido.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "Kanan"mu emang bener, mbak. Hahahahahha. *kabur dulu, ntar mbak kanan satunya ngambek :-D :-D

      Delete
  8. Oh mungkin kanan kiri kita beda mbak... "jleb" haaa maafkan jangan kapok :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nggak kapok kok, apalagi kalo makan gratis *eh :-D

      Delete
  9. Murah ya mas :D aku belum pernah kesana tapi ._. besok-besok deh kalau main ke parangtritis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, sekalian ke parangtritis biar seru :-D

      Delete
  10. weleh murahnyoooo...
    di Lombok udah enggak ada bakmi semurah itu... huhuhuuhu

    ReplyDelete
  11. W aw ww kayanya enak tuh bakminya, nyam nyam apalgi yang kuah. Lumayan juga nunggunya, dimana mana kalau nggak instan tu lumayan lama heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo lama itu biasanya buatnya satu-satu hehehhehe. Dan dijamin lebih enak :-D

      Delete
  12. Enaaakkk.. kudu ke sini lagi sama akuu aaaakk kzl

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ah, lha kemarin makan aja sendirian kok kakakkakakka

      Delete
  13. Enak ya mas. Tapi jauh juga dari tempat q, dari kotaku ke sana mungkin di tempuh jarak 7 jam'an. Kepengen mas makan bakmie udah lama gak pernah makan.

    By, Penulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kalau liburan ke Jogja bisa sekalian ke sini :-D

      Delete
  14. bahan dasarnya singkong, unik juga
    murah harganya, bikin penasaran mencobanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya itu loh mas hahahhahha, pokoknya unik hehhehehe

      Delete
  15. harganya terjangkau ya mas cuma 7000 aja
    mesti nyoba

    ReplyDelete
  16. Marai perih perut ndak eminya, Om? Sama emi lethek enak mana? :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesuk rek rene kudu ngajak aku, mas. Tur ditraktir yo hahahhahah. Enak kok, mas :-D

      Delete
  17. ini nih yang keren! ekspansi bahan pangan jadi kuliner apik nan lezat, sayang di sini blom ada hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, yang unik kadang banyak yang minati, mas :-D

      Delete
  18. Aku doyan banget sama mie, mie instan sih :D. Tapi penasaran juga sama mie yang berbahan dari ketela. Murah ya mas, Porsinya banyak banget lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesekali nyoba Bakmie Jawa loh, lebih nikmat hahhahaha

      Delete
  19. Aku pernah nyoba nih bakmienya enak, lain daripada bakmi biasanya.

    ReplyDelete
  20. Bantul daerahku, langsung saya cari. Terima kasih infonya MAS Nas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, mas hehehehehe. Ayo kulineran :-D

      Delete
  21. Enak nggak Mas, daginge ayam banyak nggak..heheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya beda tapi aku suka hehehehehhe, lumayan banyak kok :-D

      Delete
  22. baca blognya mas anis hidayah, aku slalu ngiler liat kuliner jogjanya... skr baca blogmu, juga bnyk kuliner jogja :D.. hahaha, pas mudik ke solo ntr, aku bisa puas bgt kulineran di jogja kayaknya :D.. Secara kuliner solo udh bny yang dijelajahin ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan kulnerku tak sebanyak anis hidayah, mbak. Hahhahahaha, ini hanya sesekali saja nulisnya, pas lagi pengen :-D

      Delete
  23. hebat jogja mah... banyak kulinernya... murah lagi... pantesan bnyak mahasiswa yg betah disana... termasuk kakak saya... jogja kerennnnn...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhehe, ada kepikiran mau kuliah di Jogja? Jogja berhati nyaman :-D

      Delete