Pengalaman Menginap di Tengah Kebun Teh Wonosari Lawang, Malang

Dua mobil beriringan menyibak keramaian Malang. Jalan yang ditempuh pun relatif lebih kecil. Senja tak dapat kulihat, hanya gelap karena hujan baru reda. Mendung menggeliat berarakan terlihat dari berbagai sisi. Kumandang magrib pun kudengar diperjalanan. Kali ini perjalanan kedua kendaraan yang membawa rombonganku menuju lereng Gunung Arjuno. Di sana nantinya kami akan mengingap di salah satu penginapan yang lokasinya di tengah-tengah Kebuh Teh Wonosari. Perjalanan  lumayan lama dari Batu ke daerah Perkebunan Teh yang ada di daerah Lawang.

Mobil mulai memasuki kawasan Kebun Teh, hawa sedikit lebih dingin agak terasa. Sebuah portal yang dijaga tiga petugas terbuka, mobil pun menyusuri jalan tidak luas di antara hamparan kebun teh yang terlihat menghijau karena terkena sinar lampu. Lebih dari 10 menit dari portal, kami berhenti di depan sebuah wisma yang dijaga seorang perempuan. Aku mendapatkan kamar nomor 9. Dan kami pun melangkah menuju kamar masing-masing. Sedikit syok bagi rombonganku, karena kamar yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Aku sendiri tetawa-tawa di grup WA; Kasur satu, bantal 2, TV Tabung jaman dulu tanpa remote, lemari terbuat dari anyaman bambu, kamar mandi pun hanya biasa (sabun saja tidak ada pasta gigi). Semacam penginapan di Kaliurang, mungkin lebih bagus di Kaliurang.
Perkebunan Teh Wonosari, Lawang
Perkebunan Teh Wonosari, Lawang
“Selamat menikmati suasana survival di sini,” Begitulah ucapan salah satu rombongan kami yang ibu-ibu. Beliau bercerita di kamarnya ada Cicak nempel di dinding dan lainnya yang membuat kami tertawa bareng-bareng. Menjelang pukul 10 malam, aku masih asyik menonton film di laptopmu. Kubiarkan lampu hidup, TV hidup juga, karena tidka ada remote dan malas jalan kaki menuju depan untuk mematikan TV.

Duarrrr!! Duarrr!! Duar!! Letupan kembang api kencang dari salah satu sudut banguan membuatku sontak berdiri dan kaget. Tidak hanya aku, hampir semua yang deretan kamarnya sebaris denganku bangun dan beranjak keluar. Aku dan beberapa penghuni kamar lain menuju tempat penjaga. Lalu sedikit protes karena mengganggu malam kami. Petugas langsung mencari arah sumber suara, dan menegurnya.

Pagi harinya aku sedikit terlambat bangun. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 05.25wib. bergegas aku sholat subuh, dan langsung menyambar kamera untuk melihat sunrise. Ternyata dari sini sunrise sudah tinggi, aku hanya mengabadikan dua kali dengan mengatur pencahayaan kamera menjadi lebih gelap. Tak terlihat hamparan teh yang kuabadikan kali ini, karena mentari sudah tinggi dan aku berada di dataran tinggi. Sedangkan di bawah hamparan tumbuhan teh terlihat segar. Dedaunannya terkena tetesan embun yang sedikit berkilau ketika ada cahaya yang meneranginya.
Bermain pencahayaan paling gelap kamera Mirroless Nikon 1J 3
Bermain pencahayaan paling gelap kamera Mirroless Nikon 1 J 3
Beranjak aku menuju hamparan kebun teh. Pagi ini belum ada kegiatan keliling kawasan kebun. Aku berjalan menyusuri jalan setapak, jauh di sana ada puncak gunung yang terlihat tinggi. Bisa jadi itu adalah puncak Gunung Arjuno. Karena lokasi perkebunan teh ini berada di lereng Gunung Arjuno, bahkan dari beberapa sumber dari sekitaran kawasan ini pun ada jalur pendakiannya. Kombisani tumbuhan teh berbaur dengan pepohonan lain yang tinggi. Hampir berjarak beberapa meter terdapat pepohonan tinggi.
Hamparan perkebuna Teh
Hamparan perkebuna Teh
“Rul! Kita keliling perkebunan naik mobil!” Teriak temanku dari ujung jalan.

Setengah berlari aku menuju tempat kumpul. Di sana ternyata rombongan sudah siap, tinggal aku saja yang belum kumpul. Menaiki sebuah mobel yang sudah dimodif dengan menambahi dua kursi panjang di bak belakang, kami pun menyusuri jalanan arah lain melihat perkebunan teh. Jalan yang awalnya aspal berubah menjadi tanah liat. Goncangan mobil membuat kami harus sedikit mengangkat pantat agar tidak terlalu sakit.
Mengabadikan diri dulu
Mengabadikan diri dulu
Mengabadikan diri dulu
Sepanjang perjalanan ini aku mengabadikan banyak moment. Tidak hanya hampran teh yang hijau, namun juga orang-orang yang merawat tanaman tersebut. Sekelompok orang menggunakan helm lengkap dengan sepatu boat, dan juga menggendong alat penyemprot hama pun kami jumpai. Mereka berbondong-bondong jalan kaki menuju mobil tangki yang terparkir di luar. Lalu dengan sigap mereka menyemprot tanaman tersebut agar tidak termakan hama. Di sudut lain pun terdapat dua orang ibu-ibu yang sedang memetik daun teh. Ciri khas para pemetik daun teh adalah topi dan sebuah karung yang melilit ditubuhnya. Kedua tangan cekatan sekali memetik mana daun teh yang harus dipetik, dan mana yang sudah tua ditinggal. Suasana cerah membuat para pemetik daun teh dapat bekerja dengan maksimal. Sayangnya hanya sedikit orang-orang yang memetik daun teh pagi ini.
Selamat pagi, Selamat bekerja
Selamat pagi, Selamat bekerja
Selamat pagi, Selamat bekerja
Mobil yang kami naiki menuruni jalan sedikit terjal yang dihimpit tanaman teh. Dari sini terlihat hamparan perkebunan teh membentang jauh sampai ke ujung sana. Sementara itu di belakang kami sebuah puncak gunung megah tanpa tertutupi awan. Sang sopir pun menurunkan kami di sini, dan mempersilahkan kami berfoto di antara sela-sela kebun teh.

“Ada ularnya tidak, pak?” Pertanyaanku membuat para pengunjung lain saling berpandangan.

“Aman, mas. Kalaupun ada Ular, pasti Ularnya akan lari terlebih dahulu ketika mendengar suara kaki,” Jawab bapak sopir.

Jawaban bapak tersebut kukira hanya gurauan pagi saja. Aku menyibak di antara pohon teh yang rimbun. Nasibku kurang mujur karena membawa kamera, sementara rombongan lain sengaja meninggalkan kameranya di kamar. Jadilah aku hari ini fotographer dadakan. Melayani setiap rombongan yang ingin berpose disela-sela tumbuhan teh. Aku pun harus menerima pekerjaan, bagaimana mungkin menolak saat bos bilang, “Ayo mas, kami difoto.”
Foto bersama, aku hanya jadi tukang fotonya
Foto bersama, aku hanya jadi tukang fotonya 
Baiklah, seraya mengabadikan satu persatu, kemudian perkeluarga, berlanjut seluruh rombongan (minus aku) karena tidak bawa Tripod. Disela-sela para rombongan asyik mengabadikan diri menggunakan hp masing-masing, aku mendekat salah satu teman dan meminta untuk diabadikan juga.
Akhirnya difoto juga
Akhirnya difoto juga
Mobil yang membawa kami ke sini sudah jalan terlebih dahulu menuju ujung depan jalan. Kami berjalalan kaki sekitar 200 meter sambil menikmati suasana pagi yang tentu udaranya masih sejuk. Sesampai di dekat mobil, kami kembali naik mobil dan pulang menuju area kumpul tadi melalui jalur yang berbeda. Dari sini akhirnya aku tahu kalau di dalam perkebunan teh ini ada kampung. Di sana ada sebuah sekolah dasar, kemudian rumah para warga yang berkerja sebagai karyawan di perkebunan teh ini; rumah-rumah mereka bentuknya sama semua, hanya di depannya terdapat tulisan nama orang yang mendiami. Satu jam perjalanan pun berakhir, pagi ini kami akan melanjutkan mengunjungi Pabrik Pembuatan Teh yang lokasinya dekat dari tempat menginapku semalam, hanya beberapa puluh meter saja. *Menginap di perkebunan teh Wonosari Lawang, Malang ini pada hari Senin – Selasa; 28-29 Desember 2015.
Baca juga perjalanan lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

25 komentar :

  1. wah namanya kayak wonosari jogja ya mas... wah saya hampir aja dimari gak sempet waktunya wkkwwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas hahahhha, wah bagus untuk dipotret loh mas :-D

      Delete
  2. Wah pasti seru banget nih pengalaman yang tidak bisa di luapakan ya kang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhe, jadi kangen nginap di sana baawannya akakkakakak

      Delete
  3. Seru banget ya pengalamannya mas. Tapi kok wismanya sederhana banget, sampe sabun sama odol aja nggak ada, tapi yang penting adalah tetep bisa survive ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha, benar-benar seru sekali pokoknya :-D

      Delete
  4. Seru ya, keliatannya sejuk-sejuk gimanaa gitu. Fotonya bagus-bagus Kak. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheeh, kalo tujuannya menyepi; di sini memang enak akkakaka

      Delete
  5. whahaha, asik ya antimainstream nginepnya di sana. malang api, rek. digigitin nyamuk kebu nggak tuhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aman dari nyamuk hahahah, yang jelas sepi :-D

      Delete
  6. wah seru ya kalo pagi hari nampak segar, tapi kalo malam serem ga sih?

    ReplyDelete
  7. Sunrise-nya cakep, Om!
    Sukurin cuma jadi tukang poto hihi :p
    -Reza

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nasibku nggak jauh beda sama Hanif kalo jalan sam kamu, cuma suruh jadi seksi dokumentasi :-D

      Delete
  8. foto sunrise-nya, cool banget. kebun tehnya bikin hati jadi "adem" wah kudu nyoba ni

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehhe, itu pakai pengaturan penerangan paling gelap :-D

      Delete
  9. Hahahha ular ya
    Aku malah kebayangnya film suzana yang ratu ular di kebon teh masss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wehhhh malahan ahhahahhaa. Bahaya kalau itu :-D

      Delete
  10. Tempatya keren juga, semoga suatu saat bisa main-main kesana bareng keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga, kalau buat keluarga ini nyaman banget malahan

      Delete
  11. wisata pedesaan di kebun teh memang selalu seru ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi sekalian sepedaan kang, woohh mantap hahahahhah

      Delete
  12. kayaknya asyik tuhh.... mau tanya nih.. kalau malem sepi nggak sekitar situ??hehehe

    ReplyDelete
  13. artikel yang sangat menarik, terimakasih..

    ReplyDelete