Review Novel Sirkus Pohon Karya Andrea Hirata

Sudah ada yang punya novelnya Andrea Hirata?
Sudah ada yang punya novelnya Andrea Hirata?

Selang dua tahun setelah menerbitkan Novel Ayah, Andrea Hirata menerbitkan sebuah novel yang berjudul Sirkus Pohon. Novel ini menjadi pelepas dahaga para pecinta tulisan Andrea Hirata. Novel yang masih menceritakan sudut Belitung dengan bumbu khas ala Melayu-nya penulis.

Seperti yang tertulis pada halaman awal novel ini; “Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta”. Andrea Hirata membuat sebuah cerita dengan alur yang berbeda. Alur yang lebih rumit dibanding saat kita membaca cerita di novel Ayah. Sedikit ulasan yang bisa kuceritakan tentang Novel Sirkus Pohon di sini.
*****

Judul: Sirkus Pohon
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2017
Halaman: xiv + 410
Bahasa: Indonesia
 
Novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata
Novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata
Novel fiksi Indonesia karya Andrea Hirata ini menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat di salah satu kampung di Tanjong Lantai, Belitung. Masyarakat yang kondisi perekonomiannya menengah ke bawah. Di mana mereka harus berjuang untuk mencari nafkah setiap hari. Sebuah pengharapan agar tiap bulan mendapatkan gaji tetap.

Sobri, pemuda kampung yang tidak mempunyai pekerjaan tetap berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang tetap. Ketika seluruh saudaranya sudah mapan, berkeluarga, dan bekerja layaknya orang kantoran. Dia masih terjebak dikondisi yang tidak jelas.

Kehidupannya semakin karut marut karena mempunyai sahabat yang merupakan pencuri. Tanpa disadari, keluguan Sobri dimanfaatkan temannya yang berprofesi sebagai pencuri. Imbasnya, mendapatkan sial karena dituduh mencuri oleh masyarakat setempat.

Seperti tidak ada kebahagiaan dari hidup Sobri. Sampai ketika dia berkenalan dengan Dinda, sosok perempuan yang membuatnya bersemangat mencari pekerjaan tetap; pekerjaan yang berangkat pagi, pulang sore, memakai seragam, dan tiap bulan digaji.

“Tuhan menciptakan tangan seperti tangan adanya, kaki seperti kaki adanya, untuk memudahkan manusia bekerja – Sirkus Pohon halaman 37.”

Ditekankan penulis, bahwa kita harus benar-benar mencintai pekerjaan yang kita miliki. Apa pun profesi kita, jika kita bersungguh-sungguh dalam bekerja, pastinya kita akan mendapatkan hasil yang sepadan, bahkan lebih.

Selain Sobri, tokoh lain yang ditonjolkan pada cerita kali ini adalah Tegar dan Tara. Muda-mudi yang bertemu tidak sengaja di taman. Andrea Hirata menyisipkan sebuah cerita asmara yang berbeda pada kedua.

Di sini, Andrea Hirata menceritakan sebuah perjuangan tentang cinta pertama seorang muda-mudi sejak bertemu pertama. Cinta yang harus diperjuangkan walau terlihat samar, cinta yang tetap dikejar walau sia-sia. Sejatinya, tidak ada yang sia-sia walau kenyataannya tak berarti.

“Boi, samudra dapat kau samarkan, gunung dapat kau kaburkan, apa pun dapat kau sembunyikan di dunia ini, kecuali cinta - Sirkus Pohon halaman 82.”

Con Te Partino, saatnya mengucapkan selamat tinggal. Inikah saatnya mengucapkan selamat tinggal pada kenangan samar cinta pertama? - Sirkus Pohon halaman 175.”

Menarik alur yang ada di novel fiksi karya Andrea Hirata ini. Tidak ada ungkapan-ungkapan keindahan Pulau Belitung. Cerita ini lebih menceritakan sebuah kehidupan anak kecil yang berasal dari kampung serta kagum dengan pertunjukan sirkus. Anak kecil yang kagum akan kehebatan para pemain sirkus di kampung-kampung kala malam hari.

Ada banyak sosok-sosok yang diceritakan secara detail oleh Andrea Hirata di sini. Sosok begundal Taripol, penguasa kampung Gastori, dan sosok-sosok lainnya. Setiap sosok di novel ini mempunyai cerita yang berbeda-beda.

Andrea Hirata menceritakan dengan gamblang sebuah situasi politik di kampung saat pemilihan Kepala Desa. Masyarakat yang masih kental dengan cerita-cerita mistis pun diceritakan dengan baik. Mereka masih percaya bahwa sebuah kemenangan pada pemilihan kepala desa, jodoh, dan pekerjaan itu berkaitan dengan hal-hal yang mistis. Percaya dengan kehebatan sebuah pohon yang meranggas di akhir bulan kemarau.

Seperti dengan novel-novel sebelumnya; Andrea Hirata di sini menceritakan arti sebuah persahabatan. Sahabat yang membuatnya menjadi gamang, apakah dia benar-benar sahabat seperti yang orang lain ketahui atau tidak. Ada banyak kejutan di sini, dan Andrea Hirata berhasil membuat pembacanya berpikir keras.

Pesan lain yang ingin disampaikan oleh Andrea Hirata di sini adalah tentang perjuangan. Berjuang menerima kehidupan, berjuang mendapatkan pekerjaan layak, berjuang menjadi diri sendiri, dan tentunya berjuang dalam mencari sebuah kepastian. Sebuah perasaan yang digeluti rasa was-was serta ketakutan.
*****

Membaca novel Sirkus Pohon membuat kita makin paham bahwa sebenarnya tidak ada perjuangan yang sia-sia. Setiap pekerjaan itu dapat dibanggakan, walau hanya sebagai buruh, tukang parkir, atau apa pun.

Layaknya novel-novel lainnya, alur cerita sangat kental dengan Melayu. Dibumbui pantun-pantun khas melayu dalam menghibur hati yang jenuh, dan cerita-cerita jenaka ala anak kampung.

Andrea Hirata berhasil membuat otak harus bekerja keras, menyambungkan benang-benang kusut menjadi terurai dan membentuk pola yang jelas. Menyelaraskan cerita-cerita terpisah menjadi satu tujuan jelas.

Pada akhirnya, aku hanya ingin menyampaikan bahwa novel ini harus kalian baca. Ada banyak kejutan yang tertulis di sini. Novel fiksi yang menceritakan sebuah fakta, begitulah kiranya. Sebuah cerita yang sederhana namun membuat kita menjadi tergugah.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

28 komentar :

  1. Sepertinya menarik ya. Sejak Maryamah Karpov, aku gak baca karya lain Andrea Hirata, agak kecewa terus terang aja haha. Tapi yang Sirkus Pohon ini sepertinya menarik. Kebetulan juga Sabtu lalu nonton bincang penulis dan ngebahas buku ini juga di TV lokal sini.

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehehe
      Aku tetap baca semua bang walau yang Maryamah Karpov tidak beli novelnya. Semoga kembali membaca tulisannya bang :-D

      Delete
    2. wah kamu harus baca novel Ayah karya Andrea Hirata itu bagus menurutku humornya dpt sedihnya juga ada.

      Delete
    3. Benar, Novel Ayah humornya juga nggak kalah bagus :-)

      Delete
  2. Waah. Terima kasih sudah meresensi. Saya sempat baca satu novel beliau, dan dari ulasan ini sepertinya gaya beliau makin matang di dalam novel terbaru ini, ya. Betul, semua profesi harus dijalani sepenuh hati supaya hasilnya maksimal. Hasil tak pernah mengkhianati usaha, begitu kata orang. Mudah-mudahan semua sifat baik yang disajikan di novel ini bisa kita teladani dan amalkan. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas, bagi pecinta ANdrea Hirata seperti saya, setiap tulisannya pasti ditunggu. Paling sulit adalah menulis resensi dengan imbang, :-)

      Delete
  3. Sepertinya sangat menarik sekali novel terbaru karya Andrea Hirata ini, dari membaca review di atas saya jadi pengen buat baca keseluruhan novel tersebut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh lah main-main ke toko buku dan membelinya :-)

      Delete
  4. wih ada buku baru lagi dr andrea, pastinya akan aku beli, makasih reviewnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku ke sepuluh hehehehe, mungkin 2 tahun sampai 4 tahun lagi kumpulan cerpen, puisi, dan nobelnya akan muncul lagi :-)

      Delete
  5. oh ini karya ke-10 Andera Hirata itu
    ceritanya masih seputar Belitung ya mas
    nunggu pinjeman aja deh. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas, ini bukunya :-)
      Masih seputaran kehidupan masyarakat di Belitong :-)

      Delete
  6. Sudah bacaaaa!! Mwehehehe, meski minjem punya temen sih heheh.
    Tapi sayangnya ga sampe akhir :(
    padahal udah setengah lebih bacanya, cuma karena keburu balik kampung makanya ga selesai.

    Andrea Hirata menurut saya cerdas sih (dan yakin, menurut banyak orang juga sih). Ceritanya itu sederhana, tapi entah punya daya pikat yang bikin orang ketagihan kalau dilewatkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aihhh nanggung banget mbak.
      Ayo sana balik selesaikan buahahahhaha.

      Yap, itulah hebatnya Andrea Hirata :-)

      Delete
  7. Belum sempet beli buku ini. Jadi penasaran. Sepertinya cerita khas melayu Belitongnya masih kental :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas, itu yang menjadi khasnya Andrea Hirata

      Delete
  8. kok aku kudet y ini karya Andrea heehhe terakhir baca yang Ayah dan baru tahu Sirkus Pohon wajib beli makasi reviewnya seenggaknya aku uda mantep mau beli buku apa bulan ini sebelumnya bingung sangat 🤣😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh loh mbak ntar kalau ke toko buku lirik-lirik dan beli bukunya Andrea Hirata :-)

      Delete
  9. Mau tak cari bukunya. Dah lama ga baca novel2 andrea hirata.. Trakhir seri laskar pelangi wkwkwkwk... Eh tp panhgilan "boi" itu kyknya memang umum di belitong ya mas. Soalnya td baca bbrp cuplikan kok aku jd ngerasa kyk baca laskar pelangi lg :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, Panggilan Boi memang khas sana, dan ada beberapa kata yang khas melayu; hanya saja tidak saya sertakan :-)

      Delete
  10. Terakhir baca karya Andrea ya dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Ayah dan Sirkus Pohon belum baca. Sepertinya kudu melipir ke toko buku nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhe, dijamin baca Ayah pasti brebes mili. Lanjut baca Sirkus Pohon tambah jadi.

      Delete
  11. saya lagi mulai baca2 lagi nih .. hehehe setelah vacum tahunan
    jadi buku ini cucok untuk dibaca .. sipp deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baca juga masih tersendat-sendat, kang :-)
      Belum bisa konsisten hahahhah

      Delete
  12. kayaknya menarik juga
    saya suka cara Andrea Hirata bercerita tentang masyarakat Melayu Belitong, lucu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak ada rencana bikin buku menceritakan sulawesi, daeng? :-D

      Delete