Bincang Literasi Bersama Kang Maman dan Pak Endaryono di Festival Literasi Jepara

Siswa/i sekolah memadati stand Festival Literasi Jepara 2017
Siswa/i sekolah memadati stand Festival Literasi Jepara 2017

Festival Literasi Jepara dikonsep sederhana. Stand-stand Taman Baca Mandiri (TBM) berjejeran, menyatu satu dengan lainnya di halaman Pendopo Alit Wakil Bupati Jepara. Tidak banyak memang, hanya sembilan TBM yang berpartisipasi. Sebuah pengharapan agar tahun depan bisa menjadi lebih banyak pesertanya (jika festival ini berlanjut).

Rumah Belajar Imara (Inspirasi Masyarakat Jepara), Rumah Baca Cemerlang, Rumah Belajar Ilalang, Gardu Baca, Taman Baca Capung, Kampung Pelangi Cita, dan stand-stand lain memajang koleksi bukunya. Mulai dari buku agama, sosial, budaya, sampai novel juga ada. Bahkan di salah satu sudut tampak novel terbaru Andrea Hirata yang berjudul Sirkus Pohon.

Aku berjalan mengelilingi tiap stand TBM, sedikit berbincang dengan salah satu orang yang bertugas menjaga stand. TBM di Jepara masih sangat sederhana. Mereka mengolah koleksi, memberi label, ataupun melakukan kegiatan sirkulasi masih manual. Mencatat satu persatu koleksi yang dipinjam.
Membaca koleksi yang terpajang di stand Taman Baca Mandiri
Membaca koleksi yang terpajang di stand Taman Baca Mandiri

“Kalau ada yang pinjam ya kami catat di buku. TBM ini muncul atas kesadaran kami, dan tidak ada pustakawan satupun dari kami.”

Dep! Menohok rasanya mendengar tutur mereka. Aku yang dulu kuliah dibidang Ilmu Perpustakaan malah belum sempat membangun TBM. Sementara koleksi yang kumiliki masih tertumpuk di kamar, menunggu ruang rumah sudah siap pakai.

Tidak hanya pajangan berupa buku, di sini juga ada stand yang menampilkan hasil kebun, permainan anak-anak, serta ada pentas tari. Aku antusias menyaksikan semua; melihat para anak asyik membaca buku, bermain dolanan anak, mewarnai gambar, atau mereka yang hanya berlari-lari kala bercengkerama bersama teman.
Dolanan di Festival Literasi Jepara
Dolanan di Festival Literasi Jepara

Lebih dekat dengan Kang Maman Suherman & Pak Endaryono

Pak Endaryono bagiku sangat asing. Aku memang pernah singgah ke KPP Jepara saat membuat NPWP. Namun aku tidak tahu kalau sosok yang mentraktirku sarapan nasi pecel kali ini adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jepara.

Di sini Pak Endaryono mengenalkan pajak kepada peserta seminar yang didominasi anak-anak sekolah. Selain itu, beliau juga membagikan koleksi buku yang berjudul “Pajak Itu Gampang Loh” kepada setiap pemilik stand TBM dan beberapa penanya. Akupun beruntung mendapatkan satu eksemplar.

Bagi orang awam seperti aku, aneh rasanya jika acara seminar literasi diisi oleh orang pajak. Jawaban itu seketika musnah ketika beliau mengkampanyekan Gerakan Pajak Bertutur dan memperkenalkanku sebuah portal. Di portal tersebut kita bisa mencari koleksi buku tentang pajak dan dapat mengunduhnya secara gratis. Silakan buka Pandu Pajak; karena beliaulah yang berperan di dalamnya.
Pak Endaryono mengenalkan pajak pada peserta seminar
Pak Endaryono mengenalkan pajak pada peserta seminar

Gerakan Pajak Bertutur adalah bagian dari kampanye literasi, yang digagas Ditjen Pajak RI dengan harapan gaungnya terdengar sampai ke penjuru Indonesia. Sebuah harapan yang mulia, dan kita harus mendukungnya.

“Masa depan yang baik tercipta di antaranya dari sejarah melalui literasi,” Sedikit kutipan dari Pak Endaryono.

Selama kurang dari 30 menit, beliau menuturkan tentang pajak, literasi, dan pengenalan tentang pajak ke masyarakat. Hebatnya, sosok yang berkecimpungan di dunia pajak ini berusaha merealisasikan “Pojok Literasi Pajak” di KPP Jepara. Beliau juga aktif menggandeng para komunitas literasi, sastra, dan blogger di Jepara.

“Bangun Jepara, mas,” Ujar Pak Endaryono padaku sewaktu sarapan bareng.

Aku tercekak, sebuah saran dari beliau agar kami (para muda-mudi Jepara) bisa membangun kota kelahiran. Sebuah saran yang sama diutarakan oleh orang-orang di Karimunjawa padaku.

*****
“Salam Literasi!!”

“Salam!!”

Kang Mamang menyapa peserta seminar, slogan kencang diteriakkan agar peserta seminar lebih semangat. Pembukaan yang menggebu-gebu, seperti itu yang kurasakan. Aku duduk di kursi paling belakang, mencatat sedikit wejangan dari Kang Maman. Menurut beliau ada dua titik literasi awal di Indonesia; Jepara dan Makasar.
Kang Maman menyapa peserta seminar dengan teriakan "Salam Literasi"
Kang Maman menyapa peserta seminar dengan teriakan "Salam Literasi"

Jepara, jauh sebelum Indonesia merdeka; terlahir sosok RA Kartini yang mengguncang eropa dengan suratnya. Di Makasar dikenal dengan salah satu karya sastra terbesar di dunia yang bernama La Galigo. Koleksi sastra yang sekarang berada di Belanda.

Sebelum memberikan kiat-kiat dalam menulis, Kang Maman lebih dulu menekankan bahwa membaca dan menulis adalah perintah dari agama. Wahyu pertama turun tentang iqra yang membaca, dilanjut dengan qalam yang mempunyai arti pena. Dari sini sudah jelas bahwa membaca dan menulis itu sebuah perintah.

“Bahkan kalimat Habis Gelap Terbitlah Terang yang diucapkan RA Kartini pun terinspirasi dari alquran. Surat Al Baqarah ayat 257; Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya,” Tandas Kang Maman.

Kembali ke topik menulis. Menurut Kang Maman, selain rumus 5W+1H, harus ditambahkan So What pada kelanjutannya. Sehingga yang kita tulis menjadi lebih dalam. Menulis itu bukan pekerjaan yang mudah. Merangkai dan memilih padanan kata yang baik serta relevan itu yang susah.

“Ide menulis bisa muncul dari mana saja. Ketika kalian bangun, lalu menuliskan poin-poin penting yang kamu impikan. Kamu jabarkan dengan baik, pasti kamu bisa menghasilkan sebuah tulisan di atas rata-rata.”

Di era sekarang rumus 5W+1H & So What saja tidak cukup. Untuk menulis ditambah dengan beberapa unsur yang dikenal dengan sebutan 5R. 5R yang dimaksud adalah; Read, Research, Reliable, Reflecting, (w)Rite.
Kang Maman menulis poin-poin ide yang bisa digali saat membuat tulisan
Kang Maman menulis poin-poin ide yang bisa digali saat membuat tulisan

“Endapkan bahan tulisan itu. Baca banyak literasi, pastikan tulisan dan rujukanmu dipercaya, dan tulis secara bertahap. Pasti tulisannya jauh lebih detail dan mendalam.”

Semakin aku tertegun mendengar kiat-kiat yang Kang Maman berikan. Sebuah nasihat penting kudengar lagi dari beliau. Jika setiap tulisan yang dikerjakan secara cepat dan terburu-buru cenderung menghasilkan cerita yang kurang baik. Banyak salah ketik, dangkal, dan mungkin lebih banyak berujar cercaan.

Faktor penunjang lain pada tulisan adalah kita harus memahamil dasar literasi. Ada enam dasar literasi dalam menulis dalam menulis. Keenam dasar tersebut adalah; Literasi Baca Tulis, Literasi Numerasi (hitungan), Literasi Finansial, Literasi Ilmu Sains, Literasi Digital (jurnalistik, media sosia, dan media percakapan), dan Literasi Budaya & Kewargaan.

“Modal utama seorang penulis adalah skeptis, bukan apatis.”

Setiap penulis diharuskan membaca secara berulang-ulang hingga paham maksudnya. Membacanya dengan penuh kehati-hatian. Karena membaca suatu tulisan itu mirip kita berdialog dengan penulisnya.

Satu hal yang dibutuhkan lagi calon penulis adalah merka harus mempunya 4C; Creativity, Collaboration, Communication, Critical Thinking. Jika keseluruhan dipadukan dengan baik, tentu akan tercipta tulisan-tulisan yang baik dan bagus.

Lebih satu jam Kang Maman memberi inspirasi pada peserta untuk mengguggah agar mereka mau menulis. Mempunyai semangat menulis, cara penyampaian khas ditambah kutipan-kutipan bersitaf motivasi, komedi, haru, menjadi satu. Seperti tersihir tiap rangkain kata yang beliau ujarkan. Aku masih terpaku, jemari kian lincah mengetik setiap ucapan yang beliau keluarkan; membuat draf tulisan di linimasa.

“Literasi membuat kita tidak mudah menghakimi seseorang,” Tutur Kang Maman diakhir acara.

Secara simbolis acara telah usai ditandai dengan pemberian buku tentang pajak dan sebuah cinderamata oleh Pak Endaryono kepada Kang Maman. Acara berlanjut tidak formal. Para peserta berebut foto dan meminta tanda tangan.
Penyerahan cinderamata oleh Pak Endaryono kepada Kang Maman
Penyerahan cinderamata oleh Pak Endaryono kepada Kang Maman

Aku izin pada panitia, lalu berjalan meninggalkan pendopo menuju halte bus Jepara – Semarang. Suatu kebanggan tersendiri kala kota Jepara mengadakan festival literasi. Bertemu dengan sosok-sosok hebat (para pemateri), Wakil Bupati Jepara, ditambah dengan figur seperti Stakof, Prabu, dan orang-orang Jepara lainnya. 

Meskipun sekarang minat baca Indonesia masih terbilang rendah, setidaknya ada perjuangan dari orang-orang sekitar yang mengkampanyekan minat baca. Semoga tidak hanya di Jepara, namun di kota-kota lainnya melakukan hal yang sama. Salam Literasi!

*Festival Literasi Jepara pada hari Sabtu – Minggu; 16-17 September 2017 di Pendopo Alit Wakil Bupati Jepara.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

12 komentar :

  1. waah, itu gambarnya bagus bangeet. Salah satu keinginan sha jaman kecil, pengen bisa mewarnai gradasi macem ituu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang udah besar, jadi bisa lah kalau mau buat gradasi warna :-D

      Delete
  2. wah seru iya acaranya mas, apalagi ada kang maman bisa sekalian belajar menulis.

    peru banyak acara kayak gini ni, biar anak makin minat untuk membaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kang Maman memberi kiat-kiat yang tepat, dan harus dipraktekkan

      Delete
  3. modal penulis adalah skeptis
    nah iya saya sepakat itu
    kalau apatis, ya jangan jadu penulis
    acaranya seru mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas hehehehhe
      Acaranya memang seru, dan berharap tahun depan diadakan lagi

      Delete
  4. wahhh sama bapa itu, tu bapa di jepara sekarng taaa ckck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas acara memang sengaja diundang panitia mas

      Delete
  5. Bikin taman bacaan mas. Daripada bukunya rusak dianggurinšŸ˜

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukunya rusak dibaca kok sama dibuat tidur hahahahah

      Delete
  6. wah ternyata mas Sitam pustakawan tho ... pantesan senang baca buku dan jalan2 .. eh apa hubungannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehhe, pustakawan kang. Hubungannya entahlah, penting suka aja hahahhahah

      Delete