Gunung Sari Sunset Desa Wisata Gubugklakah - Nasirullah Sitam

Gunung Sari Sunset Desa Wisata Gubugklakah

Share This
Gunung Sari Sunset Desa Wisata Gubugklakah
Gunung Sari Sunset Desa Wisata Gubugklakah

Sekilas tampak bangunan baru di lahan yang dipenuhi pohon pinus. Tulisan GSS terpajang besar menjadi ikon. Rombongan kami hanya melewati tanpa berhenti. Jeep melaju kencang menuju Air Terjun Coban Pelangi. Lokasinya tidak jauh dari perbukitan tadi, hanya berjarak beberapa ratus meter saja.

“Sepulang dari Coban kita singgah di sana,”Seru Pak Anshori dari belakang.

GSS adalah singkatan dari Gunung Sari Sunset, lokasi yang berada di perbukitan dan dekat dengan jalan besar. Menurut penuturan pokdarwis, lokasi ini menjadi salah satu spot strategis melihat sunset.

Lahan GSS tidaklah luas, area parkir pun hanya di tepian jalan. Tiap hari tempat ini ramai kendaraan berlalu-lalang ingin menuju Taman Nasional Bromo Tengger (TNBT). Namun tak banyak pengunjung yang singgah. Jauh memandang dari atas, rimbunnya pepohonan yang tampak.

Sepulang dari Coban Pelangi, Jeep yang kami naiki berhenti di tepi jalan. Sesuai dengan janjinya, Pak Anshori menyinggahkan kami di sini. Kami dibebaskan istirahat sembari melihat-lihat GSS. Rumah-rumah kecil sedang dibangun, tempat ini belum sepenuhnya sudah jadi. Ada beberapa bangunan yang sedang dibangun dan dikembangkan.
Perbukitan di sekitar Gunung Sari Sunset
Perbukitan di sekitar Gunung Sari Sunset

Layaknya mengikuti tren tempat lain yang menjadikan hutan Pinus menjadi destinasi alternatif, GSS merias diri. Payung-payung besar berjejeran lengkap beserta kursi dan meja. Tiap sudut dibuatkan tempat duduk terbuat dari batang kayu.

Siang ini lumayan ramai, pengunjung dominan para remaja yang masih berusia belasan tahun. Mereka bercengkerama bersama teman dan orang terdekat. Kusapu pandangan, teman-temanku rehat di hammock yang terikat di ujung. Sebagian lagi berbaur dengan pengunjung lainnya.

Hammock yang terikat di pohon tersusun dua. Berhubung lokasinya agak di tebing, tidak ada yang ingin naik ke atas. Teman-teman silih berganti foto di hammock yang rendah. Kulihat teman-teman riuh saat berebut duduk. Mirip riuhnya saat sedang berghibah syariah di penginapan.

Meski belum dilirik wisatawan luar kota yang hanya hilir-mudik di jalan raya naik Jeep. Gunung Sari Sunset punya pangsa sendiri. Warga lokal mendominasi lokasi ini. Desa Wisata Gubugklalah memang berada di ujung dekat TNBT, sehingga tidak banyak wisatan luar yang mampir.

Warung kecil di tengah-tengah lahan dipadati pengunjung. Mereka berjualan kopi maupun makanan instan lainnya. Hawa dingin membuat warung tersebut ramai. Meja-meja yang tertata sudah dipenuhi para wisatawan, mereka berbincang sembari menyeduh kopi panas.
Duduk santai sembari ngobrol
Duduk santai sembari ngobrol

Bangunan yang paling ramai dinaiki dan dijadikan latar buat berfoto adalah rumah pohon. Rumah kecil ini dibangun di antara jejeran pohon pinus. Sepintas terlihat seperti rumah panggung. Untuk naik ke atas, sebuah anak tangga sudah tersedia. Terdapat tulisan maksimal orang yang diperbolehkan naik.

Seorang ibu menggendong balita naik ke atas rumah tersebut. Setelah sampai, dia meminta anaknya yang di bawah untuk mengabadikan. Aku menunggu sampai mereka puas berfoto, lalu antre naik ke atas. Jadi teringat waktu di sekitaran Pinus Mangunan.
Rumah pohon di GSS desa wisata Gubugklakah
Rumah pohon di GSS desa wisata Gubugklakah

Destinasi pinus tanpa gardu pandang terasa hambar. Makanya di banyak lokasi berlomba-lomba membuat spot-spot unik untuk berfoto. Tentu kawasan Mangunan Jogja menjadi yang pertama. Di GSS ada juga spot untuk berfoto, namun belum banyak dan masih berbentuk dudukan seperti di Kalibiru.

Kami berkunjung ke sini hari jumat menjelang salat jumat. Sehingga masih cukup sepi, kemungkinan pengunjung akan lebih ramai jika menjelang sore. Karena di sini salah satu spot strategis melihat mentari terbenam. Tempat ini pula tidak jauh dari rest area desa wisata Gubugklakah.
Memandang masa depan
Memandang masa depan

Di GSS terdapat pelataran cukup luas, lokasinya tepat di dekat hammock. Tempat luas ini terdapat sebuah pendopo kecil yang tidak berdinding. Pendopo ini dijadikan tempat duduk santai sekaligus lokasi menyambut tamu.

Usai seharian keliling desa wisata Gubugklakah, menghabiskan watu sore River Tubing Ledok Amprong. Aku beserta rombongan kembali menuju Gunung Sari Sunset untuk menyaksikan sebuah tari.

Suara musik pengiring tarian menggema dari pengeras suara, seorang lelaki berbadan besar keluar menggunakan topeng. Menari, meliuk mengikuti iringan gamelan. Tanpa menggunakan alas kaki, dia menari lebih dari 20 menit.

Tari Klono namanya, sebuah tarian yang terus beliau pentaskan di pendopo GSS kala ada tamu datang. Aku berusaha membidik setiap gerakan tersebut, teman lain juga sibuk mengabadikan, merekam, dan menikmati tiap detik.
Tarian Klono di desa wisata Gubugklakah
Tarian Klono di desa wisata Gubugklakah

Tarian Klono ini menjadi penutup waktu berkunjung di desa wisata Gubugklalah. Mendung menggelayut tebal, dan sempat gerimis. Niat awal selain menyaksikan tarian Klono, kami berencana menikmati senja di GSS. Sayangnya mendung tebal membuat rencanya harus buyar. Tak masalah, toh aku dan rombongan sudah sangat menikmati suasana di desa wisata ini.

Selalu ada harapan besar di tiap destinasi baru seperti ini. Ketika sudah melibatkan pepohonan, dan berada di perbukitan; semoga tetap terjaga kebersihannya. Kita tidak pernah tahu ke depannya destinasi tersebut makin dikenal atau tidak. Yang jelas, semakin banyak pengunjung datang, semakin kerja keras juga pengelola menjaga kebersihannya.

*Rangkaian kegiatan Travel Blogger Eksplor Desa Wisata Malang (Tagar #EksplorDeswitaMalang) dipersembahkan oleh Forkom Desa Wisata Malang 14 - 17 April 2017.

Gunung Sari Sunset Desa Wisata Gubugklakah
Desa Gubugklakah, Poncokusumo, Kab Malang, Jawa Timur
Narahubung: 0878-5947-8177 (Pak Purnomo Anshori)

24 komentar:

  1. tempatnya ditengah hutan bener bener tampak kekinian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lokasinya di pinggir jalan hehhehehehe. Tapi memang ini lahan milik perhutani

      Hapus
  2. Menurut saya, mungkin lokasi ini cocok juga dikembangkan sebagai tempat singgah. Lokasi strategis di pinggir jalan. Ada atraksi kesenian juga. Spot berfoto pun demikian. Cocok untuk pelintas yang mungkin tak punya waktu cukup menyambangi obyek wisata mayor. Minimal agar ada kenangan pernah bertualang di wilayah Malang timur yang kaya. Ngomong-ngomong Tari Klono itu menceritakan apa, Mas? Itu menari telanjang dada apa nggak masuk angin ya... #eh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tari Klono ini mirip dengan tarian apa gitu kalau di Malang. Aku lupa, tapi pernah diulas oleh iwan tantomi di blognya. Yap telanjang dada, mereka sudah kebal dingin mas hahahahha

      Hapus
  3. GSS mas, sampeyan nulis nya GGS. seperti judul sinetron. heuheuheu
    btw hutan pinus dimana mana memang lagi tren yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya e mas, buahahahh. Salah semua. Sudah saya edit :-D

      Hapus
  4. Pemandangannya masya allah bagus mas, pasti sejuk tu iya nyampai dibukit sana, hehe.

    Owh iya mas GGS apa GSS nama tempatnya,?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah yang benar GSS mas. Kalau GGS nanti kayak judul sinetron haahhahah

      Hapus
  5. Waaah kren nih desa wisatanya, di Yogya ini pengembangan desa wisatanya keren keren yaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas,
      Oya mas ini bukan di Jogja tapi di Malang. Silakan cek di google "Desa Wisata Gubugklalah" nanti adanya di Malang.

      Hapus
  6. Waktu ke Bromo kayaknya melewati tulisan Coban Pelangi. Terus basa-basi ama sopir jeepnya, biar dimampirin. Eh doi malah tancep gas T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. FIX itu sopir nggak peka sama kalian buahahahhhah

      Hapus
  7. tiap liat rumah pohon, suka keinget sama film my heart :D

    BalasHapus
  8. Wkwkw aku pas mau nulis ini jadi keinget GGS 😭. Kayaknya semua pada mau merias wajah jadi ala-ala hutan pinus ya

    Kalau lihat tari klono itu inget banget yg habis basah2an dan kedinginan bersama haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha bisa aja kamu.
      Aku menggigil waktu liat tariannya

      Hapus
  9. Rekor. Udah nulis lagi -__-
    Btw, bahas hammock, tapi fotoku yang hammockan kok ga dipasang?? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Humas, stok tulisan deswita sudah habis. Jadi ini bagaimana?
      *nodong buat ngadain acara lagi

      Hapus
  10. menikmati sunset selalu menyenangkan ... apalagi di atas bukit yang hijau seperti ini

    BalasHapus
  11. Banyak lokasi wisata yang sebelumnya hutan produksi milik perhutani..

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar mas, lagi ramai sekarang kawasan perhutani yang disulap menjadi destinasi wisata alternatif

      Hapus
  12. memang setiap tamu datang ada tarian atau harus bilang dulu sebelumnya kaya di purwerjo?

    pohonnya tinggi banget ga sih yang duduk2 itu? kok bawahnya jalan? jadi ngeri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap tempat tidak jarang ada tarian penyambut tamu di tiap desa wisata. Pohonnya nggak tinggi kok, malah ini sejajar dengan tanah, hanya saja lokasinya dekat tebing.

      Hapus

Pages