Setengah Hari Jelajah Empat Museum di Yogyakarta

Mencari jawaban di Museum Perjuangan Yogyakarta
Mencari jawaban di Museum Perjuangan Yogyakarta

Regu-regu kecil tersebar di berbagai sudut museum, mereka mencari jawaban dari setiap pertanyaan yang tertera di kertas. Semua menyusuri sudut museum, membaca tulisan keterangan di tiap informasi. Tak pelak, kadang mereka salah menyapa regu lain yang dianggap regunya.

“Aku regu Mayor Udara Nayoan,” Jawabku kala seorang menanyaiku. Sepertinya dia terpisah dari rombongannya di Museum Perjuangan.

Mayor Udara Nayoan adalah pemimpin Operasi Banteng Ketaton tahap pertama (Banteng Putih) dengan sasaran lokasi di Fak Fak. Operasi ini dilaksanakan pada tanggal 26 April 1962.

*****
Di lantai gedung Benteng Vredeburg aku duduk lesehan. Mata fokus melihat nametag tiap peserta. Berharap mereka adalah satu regu denganku. Pencarian regu mulai menemukan titik terang; aku, Mas Eko, Erwin, Pak Untung, Deby, Mas Agung, Sukma, dan Retno satu regu. Kami tergabung dalam Operasi Banteng Ketaton – Mayor Udara Nayoan.

Satu regu sudah berkumpul, sebuah peta menjadi arahan kami mengunjungi tiap museum. Ada empat museum yang akan dikunjungi. Selain Museum Benteng Vredeburg, masih ada Museum Perjuangan, Museum Dewantara Kirti Griya, dan Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman.

Konsepnya seperti triathlon race, tiap menuju lokasi kami menggunakan transportasi yang berbeda. Naik Jeep, sepeda, dan jalan kaki. Untuk reguku; kami naik jeep terlebih dulu, diakhiri dengan jalan kaki.
Peta dan intruksi yang harus dilaksanakan
Peta dan intruksi yang harus dilaksanakan

“Kita naik Jeep dulu,” Terang Pak Untung.

Empat Jeep berjejeran menunggu peserta. Semua Jeep tampak gahar walau sudah berumur tua. Tiap pemilik Jeep mengenakan pakaian perjuangan. Tiga regu dari kelompok satu menaiki Jeep. Kami berbaur dengan regu lain agar kapasitas Jeep tidak berlebihan. Sebelumnya, kami menyempatkan foto bersama.
Regu satu siap mengunjungi musuem lainnya
Regu satu siap mengunjungi musuem lainnya

Jeep-jeep berjalan beriringan keluar dari Benteng Vredeburg. Setiap mata memandang, rasanya mereka juga ingin menaiki Jeep. Aku duduk di sisi kiri mengabadikan jeep lain yang ada di belakangku. Semacam karnaval saja, pengunjung yang berada di KM Nol pun mengabadikan jeep-jeep yang kami naiki.

Berjarak sekitar 2.6 kilometer, kami rasa hanya sebentar naik jeep. Di depan museum Perjuangan sudah ada tiga panitia yang menyambut. Perkenalan tiap regu diawali dengan yel-yel, Salam museum, berlanjut dengan slogan Mataram.
Jeep-jeep mengantarkan ke Museum Perjuangan
Jeep-jeep mengantarkan ke Museum Perjuangan

Museum Perjuangan terletak di Jalan Kolonel Sugiyono No.24, Brontokusuman, Mergangsan. Museum ini dibangun pada tahun 1959. Museum Perjuangan dikelola oleh pihak yang sama dengan Benteng Vredeburg, tahun 2006 museum ini sempat rusak terkena gempa bumi. Kemudian dipugar lagi, dan tahun 2007 kembali dibuka untuk umum.

Tiga regu secara bersamaan memasuki museum, kami tidak membaca satu persatu informasi yang ada di dalam. Karena tujuan ke sini adalah mencari jawaban dari tiap pertanyaan. Jawaban-jawaban tersebut tersebar di dalama dan luar museum.

Kulangkahkan kaki menuju lantai bawah, sebuah tangga bercahaya temaram ruangannya. Tepat di bawah lukisan wajah dr. Sortomo terpajang. Aku menyusuri sudut museum, menyempatkan baca informasi yang terpajang sembari mencari jawaban pertanyaan.
Salah satu lorong anak tangga di museum perjuangan
Salah satu lorong anak tangga di museum perjuangan

“Tinggal satu. Jawabannya ada direlief luar museum.”

Regu kecil ini keluar secara teratur dari dalam museum. Aku melangkah ke sini barat, dan sebagian lagi mengamati relief sisi timur. Nyatanya jawaban ada di sisi timur, tepat di relief Sultan Hasanuddin.

Kertas pertanyaan sudah dilengkapi dengan jawaban. Aku disuruh salah satu teman untuk menyerahkan jawaban tersebut pada panitia yang menunggu di bawah pohon rindang sisi timur. Usai kuserahkan, perjalanan lanjut ke Museum Dewantara Kirti Griya dengan mengendarai jeep.
Mengisi jawaban tiap pertanyaan di kertas
Mengisi jawaban tiap pertanyaan di kertas

Sekilas tak tampak rasa lelah, hanya ada rasa gembira diraut wajah peserta Jelajah Malam Museum. Suara mesin menderu, jeep menyibak kemacetan di arah jalan Taman Siswa. Menjelang sore, jalanan di sini cukup ramai.

Memasuk halaman Museum Dewantara Kirti Griya, kami kembali berkumpul. Masih sama dengan di museum sebelumnya, setiap datang wajib menampilkan yel-yel tiap regu. Aku jadi teringat kala masih ikut Pramuka setiap mendengar yel-yel regu dinyanyikan lantang.

Museum Dewantara Kirti Griya ini merupakan rupa dan pendapa Ki Hadjar Dewantara. Di sini tempat menyimpan koleksi/barang yang pernah digunakan oleh beliau. Museum ini sendiri diresmikan pada tahun 1970, dan terbuka untuk umum. Jika ingin mengetahui data-data tentang Ki Hadjar Dewantara, tempat ini menjadi pilihan.

Lima pertanyaan di kertas cukup membuat kami sibuk. Akupun berjalan menyusuri ruangan, melihat regu lain yang berusaha mencari jawaban. Tiap kertas pertanyaannya berbeda, entah benar atau tidak. Aku tidak melihat kertas dari regu lain. Mataku malah fokus melihat dua bapak yang duduk dipojokan sembari memandang laptop.
Peserta di dalam museum Ki Hadjar Dewantara Yogyakarta
Peserta di dalam museum Ki Hadjar Dewantara Yogyakarta

“Bapak-bapak itu bertugas menjadi pemandu kalau ada pengunjung yang datang ke sini,” Ujar mbak panitia padaku.

Aku jadi teringat waktu mengunjungi Museum Sonobudoyo, di sana ada pemandu yang bisa mengantarkan kita sekaligus menerangkan secara detail tiap peninggalan atau foto. Jasa mereka tidak dibayar pengunjung, tapi dibayar oleh Dinas.

“Sabtu – Minggu buka tidak ya mbak museum ini?” Celetukku.

“Buka mas. Mau saya perkenalkan dengan kepalanya? Beliau ada di sini.”

Kutampik tawaran tersebut dengan alasan kunjungan hari ini karena agenda berbeda. Aku merencanakan untuk datang kembali ke sini, dan fokus menyusuri setiap sudut museum, dan menuliskannya di blog. Kali ini aku hanya menulis kegiatannya saja.

Lima pertanyaan sudah kami jawab, lalu dikumpulkan. Tujuan selanjutnya adalah Museum Sasmitaloka Panglima Besar Sudirman. Museum ini terletak di Jalan Kapten Laut Samadikun No.16, Wirogunan, Mergangsan. Lokasinya tidak lebih dari 1 kilometer dari Museum Ki Hadjar Dewantara.

Jejeran sepeda ontel terparkir rapi di depan halaman Museum Ki Hadjar Dewantara, kami memilih satu sepeda dan mengayuh menuju Museum Sudirman. Aku mengendarai sepeda ontel bersama satu mahasiswi yang tidak bisa naik sepeda. Sulit juga membonceng seseorang naik sepeda.

Sebuah bangunan di depannya ada patung Jenderal Sudirman menunggang kuda, sisi kanan terdapat replika Meriam. Kami hanya diberi waktu singkat menyelesaikan lima pertanyaan. Aku tidak sempat mengabadikan tiap sudut dan ruangan di museum ini. Seperti halnya di museum lain, aku merencanakan untuk mendatangi di lain waktu.
Museum Jenderal Sudirman di Yogyakarta
Museum Jenderal Sudirman di Yogyakarta

“Akhir pekan museum ini tidak buka,” Ujar mbak panitia memakai batik merah.

Belum sempat kutanyakan lebih detail, beliau sudah sibuk mengurusi regu lain yang mulai berdatangan. Mungkin nanti aku tanyakan di lain kesempatan, atau bersua ke sini untuk bertanya bagaimana prosedur dan waktu yang tepat berkunjung. Museum Sudirman ini lebih besar daripada Museum Sudirman yang ada di Magelang. Aku pernah berkunjung di museum Magelang.

Tujuan akhir acara adalah kumpul di titik awal. Reguku jalan kaki menyusuri jembatan Sayidan, lalu masuk ke benteng lewat pintu dekat Taman Pintar. Panitia mengarahkan kami lewat sini agar lebih cepat. Sampai di lokasi, kami lapor ke panitia yang berjaga di meja pendaftaran.

Di sini masih ada satu tantangan yang diselesaikan. Kami harus menjawab 5 pertanyaan lagi dengan waktu 30 menit. Bergegas aku dan teman regu menyebar mencari jawaban. Kupotret pertanyaannya, lalu menyusuri diorama 2 & 3. Jawabannya terselip di antara keterangan diorama.
Menyusuri diorama di Museum Benteng Vredeburg
Menyusuri diorama di Museum Benteng Vredeburg

Malam semakin larut, rinai hujan mulai membasahi Kota Jogja. Acara demi acara berlangsung lancar. Aku duduk di lesehan menikmati kudapan yang sudah disediakan. Sembari makan malam, aku menyapa teman-teman satu regu, sampai akhirnya kami berpisah meninggalkan Benteng Vredeburg.

Jelajah Malam Museum kali ini menguras tenaga, namun menghadirkan banyak kenangan. Bertemu teman lama, mendapatkan teman baru, mengunjungi empat museum; dan ingin kembali mengunjungi beberapa museum tersebut untuk ditulis di blog. Mungkin ini memang salah satu cara melecut diri kita agar bisa mencintai museum. Sesuai dengan slogannya “Museum di Hatiku.”

*Jelajah Malam Museum di Yogyakarta pada hari Minggu; 24 September 2017.
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

16 komentar :

  1. Widiwww keren yaa. Menikmati sejarah sambil arak2an begitu. Konsep pembelajaran sejarah yang menarik!

    ReplyDelete
  2. Coba kalau saya sedang ada di Yogya, pasti saya ikutan, hehe. Saya suka sekali model permainan seperti ini. Jelajahnya dapet, belajarnya dapet. Bisa mengasah kemampuan detektif juga. Menurut saya sejarah itu bagaikan kerjaan detektif mahaluas. Banyak yang harus dicari dan dibuktikan. Setelah itu dihakimi dan diambil hikmahnya, hehe.
    Museum di Yogya ternyata banyak juga, ya. Jadi ingin berkunjung juga, hehe. Siapa tahu masih ada remah-remah yang ditinggalkan orang; remah-remah yang bisa ditulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Main Jogja lagi mas. Kemarin pas ke Jogja kita belum sempat ketemu loh.

      Delete
  3. wah seru banget acara seperti ini ... seharusnya sering diadakan "kemasan"-nya cocok untuk kalangan millenial supaya mau berjalan jalan ke museum2 .. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar kang, sekalian mengenalkan museum ke masyarakat.

      Delete
  4. Klo dikasi kuis pastinya bikin semangat tuh mas
    Jd inget dulu ke padang ada permainan mission x nya juga
    Saya tertarik yg museum jenderal sudirman, pingin tau lebih bsnyak sejarah tentang bliau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke museum sudirman di Jogja pas hari kerja mbak :-)

      Delete
  5. Hahaha... boncengin mahasiswi, kan romantis pake onthel, daripada boncengin mahasiswa.
    Pas naik sepeda onthel, aku kebagian sepeda yang nggak ada remnya, jadi gak berani ngebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tetap aja mbak, nggak ada yang mengabadikan buahahahha
      Wah harusnya bisa ngebut dong :-D

      Delete
  6. Museumnya bersih yaaaaa. Suka liatnya, walaupun ya... sepi. Samalah kayak museum di sini. Menarik museumnya walaupun kalo sendirian kayaknya serem juga ya *komen sambil menatap mata patung Sudirman itu hehe

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya kalau museum dikelola pihak swasta itu lebih bagus dan mahal tiketnya :-D

      Delete
  7. Seru bangeeeettt.. Saya paling suka ke museum, tp yg di Jogja baru ke Vreederbug aja, yg 3 laginya belum, ternyata keren ya isinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dekat dari Vredeburg ada Sonobudoyo, museum kareta juga hehehehe

      Delete
  8. yaampun, seru banget naik jeep :D

    kalau sha ke jogja pengen ikut ginian gimana? cuma event tertentu aja yaa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini agendanya tertentu, tidak tiap ahri. Tapi kalau mau main ke museum bisa kok tiap hari :-)

      Delete