Serunya Melahap Durian Langsung dari Pohonnya - Nasirullah Sitam

Serunya Melahap Durian Langsung dari Pohonnya

Share This
Menjelang siang, aku masih terpaku di di kamar, berbincang santai dengan teman-teman Jepara. Hingga saat Riki mengatakan kalau dia akan ke Pati sekitar pukul 10.00 wib. Aku langsung merespon untuk ikut, lagi pula waktuku balik ke Jogja masih lama. Rencananya aku balik ke Jogja pukul 16.00 wib.

“Ayo kak, siap-siap,” Seru Riki ke arahku.

Bergegas aku mengambil jaket, tas kecil, dan memasukkan kamera pocket kesayanganku ke dalam tas. Tanpa membuang waktu, kami pun sudah mengendarai motor matic menuju Pati. Tujuan kami adalah Dusun Bundopurwo, Sendangrejo, Tayu, Pati. Kalau aku lihat sih lokasinya masih dekat dengan perbatasan Jepara. Lebih dari dua jam perjalanan sampai akhirnya kami sampai di rumah simbahnya Riki. Kami pun beristirahat, bersantai melepas lelah seraya menikmati hidangan. Rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu, bagian dalam rumah masih tanah. Ya, suasana desa sangat kental di sini. Pekarangan rumah pun tak kalah luasnya, bahkan di depan pun rimbun dengan berbagai pepohonan. Mataku menatap jejeran pohon yang tidak asing menurutku.
Pohon Durian yang sudah mulai berbuah
Pohon Durian yang sudah mulai berbuah
Pohon Durian yang sudah mulai berbuah
“Itu pohon Durian?” Celetukku sedikit bertanya.

“Benar, mas. Wah baru ingat, tadi pagi ada yang jatuh. Ayo dibelah saja Duriannya,” Jawab Sepupu Riki.

Gayung pun bersambut, aku dan Riki bergegas membelah Durian yang baunya sudah menusuk hidung. Sementara itu, di pohon yang berjejeran, banyak buah Durian masih kecil. Sebagian besar buah Durian tersebut diikat agar saat masak tidak langsung jatuh ke tanah. Namun di bagian ujung pun banyak yang tidak sempat diikat menggunakan tali rafia. Sementara aku dan Riki asyik mengabadikan momen bersama Durian. Mungkin seperti ini yang dapat diistilahkan “keberuntungan”.

“Durian ini baru tahun ini berbuah, dan yang kamu pegang itu adalah buah pertamanya yang masak,” Terang sepupu Riki lagi.
Duriannya siap=siap dieksekusi
Duriannya siap=siap dieksekusi
Duriannya siap-siap dieksekusi
Sebuah Durian berukuran sedang sudah siap dibelah, Riki pun membelah Durian tersebut. Bau harumnya Durian kembali menusuk hidung, membuat selera ingin cepat melahapnya. Delapan biji Durian terbungkus dagingnya begitu menggoda. Aku dan Riki hanya bisa tersenyum seraya menikmati Durian tersebut. Keberuntungan pun kembali menaungi kami, selama menikmati Durian di halaman rumah, tanpa sengaja Riki melihat buah Durian yang ikatannya tersangkut pada ranting pohon Rambutan. Ternyata Durian tersebut juga sudah masak, namun tidak jatuh ke tanah karena terkena ranting-ranting pohon Rambutan. Tidak perlu pikir panjang, Riki langsung memanjat pohon Rambutan tersebut. Di ambilnya buah Durian yang tersangkut, dan langsung membelah kembali untuk kami nikmati.
Nyam-nyam :-D
Nyam-nyam :-D
Nyam-nyam :-D
Bagi penduduk setempat di sini, Durian sudah menjadi buah yang biasa. Setiap bulan November – Januari mulai masuk musim Durian. Menurutnya mereka sudah bosan makan Durian, warga di sini biasanya mengolah Durian tersebut menjadi Bubur, sehingga tidak melulu harus dimakan secara langsung. Aku sedikit kaget, mungkin karena saking banyaknya pohon Durian, sehingga Durian pun bukan menjadi buah yang mahal bagi warga di sini. Terima kasih simbahnya Riki, karena saat kami di sana dijamu dengan Durian, pengen deh rasanya besok-besok main lagi kalau pas musim Durian. Siapa tahu bisa seharian nunggu Durian jatuh. *Perjalanan ini pada hari Minggu, 22 November 2015.
Baca juga perjalanan lainnya 

34 komentar:

  1. wah kalau ada durian saya termasuk yang langsung kalap...hehe..jadi tahu nih kalau udah masuk musim durian..nanti cabut ke tempat saudara kalau begitu.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam hangat di pagi hari...mari ngopiii :D

      Hapus
    2. Ayoo berburu durian kang :-D. Aku diajak ya hahahahha

      Hapus
  2. Suka pengin kalau ngelihat foto durian, tapi begitu lihat aslinya, nggak jadi pengin. Lebih milih yang diolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihhhh, kalo beli kasihkan aku aja, ahhahahhaha

      Hapus
  3. Aku ngak suka durian titik ngak pake koma

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak nyangka om, om nggak suka durian. Belah duren mau? :-D

      Hapus
    2. Kalo belah duren mah suka atuh hahaha

      Hapus
    3. Kakakakkaka, sudah aku prediksi :-D :-D

      Hapus
  4. Andai suka durian, duh tapi nggak bisa suka huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah nggak suka toh mbak, mungkin karena baunya hehehhe. Padahal enak loh :-D

      Hapus
  5. Bahagia banged bisa lahap durian gitu ya
    Mantafssssssssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeee, Kalimantan banyak nggak om duriannya? :-D

      Hapus
  6. kapan kapan coba dech durian Pandegelang ... gak nyesel dech kalo dah sekali nyoba bakal minta nambahhh

    BalasHapus
  7. Ajib, - tahun depan aku dimasukkan ke list_name, Mas buat ikutan berkunjung ke tempat saudara dengan misi "belah duren masak" di kebon :D. Di rumah ada pohon duren, cuma entah kenapa buahnya gak sebesar ini dan rasanya pahit gak enak -padahal udah tinggi menjulang, sayang kalau ditebang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaaa, pokoknya belah duren terus :-D

      Hapus
  8. waduh pengen ih mas. sepertinya wenak sekali duriannya apalagi matang di pohonnya. wah sedapnya.
    lemparkan satu mas

    BalasHapus
  9. durian, salah satu buah kesayangan orang aceh. tapi saya akhirnya menjadi salah satu orang aceh yang nggak bisa lagi menikmati durian. Maklum mas, kolestrol tinggi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh bahaya kalo begitu mas.

      Hapus
    2. Emang kudu mikir kalo makan duren, tapi apa daya godaan nggak kuat nahan hahahhahha

      Hapus
  10. Nggak bisa ngebayangin mas enaknya durian - durian itu,,, apalagi dipetik dari pohonnya, wulalala. Mantab surantab dah pokoknya. Lempar satu mas duriannya,,, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeee, ini satu keberuntungan bisa makan durian dan gratis :-D

      Hapus
  11. wihh duriannnn, jadi ngiler...
    disitu durian dianggep buah biasa, kalau disini durian mahal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau nggak? hhhehhehe sini kalo mau :-D

      Hapus
  12. wah la ini durian siapa yang tak suka buah ini kenikmatan dunianya masak disiakan hehe... mantap mas rullah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhahahaha, harusnya ke pantura bulan-bulan sekarang, mas. Banyak duriannya :-D

      Hapus
  13. iya memang paling enak makan durian yang langsung di ambil dari pohonnya..

    BalasHapus

Pages