Gereja Burung Merpati Magelang Mulai Bersolek Kembali - Nasirullah Sitam

Gereja Burung Merpati Magelang Mulai Bersolek Kembali

Share This

Gereja Burung Merpati, Magelang, Jawa Tengah
Gereja Burung Merpati, Magelang, Jawa Tengah
Film bisa membuat tempat yang dulunya hanya dibilang biasa menjadi luar biasa. Film bisa mengubah tempat yang dulunya sunyi menjadi ramai. Film bisa menjadi salah satu cara mempromosikan wisata dengan caranya sendiri. Karena film semua bisa berubah dengan secepatnya. Membuat orang-orang ingin berkunjung, mengabadikan di titik tertentu, dan berkata; aku sudah ke tempat itu.

Sebenarnya mengunjungi Gereja Burung ini bukanlah termasuk rencana libur panjang. Sebelumnya aku hanya merencanakan selama empat hari libur kugunakan sepenuhnya bersepeda. Tapi rencana itu mendadak harus berubah karena ajakan teman berkunjung ke Menoreh, mengunjungi Watu Tekek.

Kami ingin  survei jalanya, siapa tahu di waktu mendatang ingin bersepeda ke destinasi tersebut. Banyak orang menyebut Gereja Burung itu dengan sebutan Gereja Ayam. Tapi sebenarnya bentuk Gereja tersebut adalah Burung; ada yang bilang itu Burung Merpati.

“Pernah ke Gereja Ayam?” Celetuk temanku seraya menyeruput Kopi Jahe Menoreh di kedai Mbak Mar.

“Belum pernah. Dulu sepedaan hanya sampai Punthuk Setumbu saja. Katanya sih tempatnya tidak jauh dari sana,” Jawabku.

Lontaran ajakan teman ini menjadi awal perjalanan ke Gereja Burung. Kami memang berada di dekat Puncak Suroloyo, hanya membutuhkan waktu tak lama sampai di Borobudur. Baiklah, toh aku hanya bonceng, jadi aku manut saja. 

Menyusuri jalan alternatif ke Magelang, menyeberangi jembatan gantung, jalanan dekat Candi Mendut sampai Candi Borobudur macet. Beruntunglah sepeda motor dapat berjalan dengan agak tersendat. Tak seperti mobil yang harus rela berhenti lama, menunggu kemacetan dapat sedikit terurai.

“Lewat sini bisa mas, tapi nanti melewati sesek (jembatan kayu). Tapi kalau pengen lebih mudah, ambil yang tikungan itu ke kiri,” Kudengar baik-baik informasi dari seorang bapak di dekat sawah arah ke Punthuk Setumbu.

Sebenarnya ada beberapa jalan alternatif yang bisa dilalui menuju Gereja Burung; rute yang kulalui adalah Borobudur – Arah ke Punthuk Setumbu – Pertigaan sawah belok kiri (kalau lurus ke arah Setumbu) – Ikuti jalan mentok sampai jalan raya, ambil kiri – sebelum jembatan kecil belok kiri tepat ditulisan “Bukit Rhema” – Ikuti jalan sampai mentok..

Jalan kecil ini mengantarkan kami sampai di tempat parkir kendaraan. Kami berhenti di tempat parkir dan meminta karcis parkir. Lokasi Gereja Burung ini di Gombong, Kembanglimus, Borobudur, Magelang.
Berjalan menuju Gereja Burung Magelang
Berjalan menuju Gereja Burung Magelang 

“Dua ribu parkirnya, mas. Bayar nanti saja kalau balik,” Terang pemuda tanggung padaku.

Menjelang siang ini sudah banyak kendaraan yang terparkir. Sementara itu dari arah atas sudah beberapa kali mobil Jeep naik-turun membawa penumpang. Mobil ini adalah jasa angkut bagi yang tidak ingin capek-capek jalan kaki ke atas. aku dan temanku jalan kaki menuju lokasi. 

Sesampai di sana, aku hanya duduk di bawah rindangnya pohon; kulihat sudah sangat ramai lokasi ini. Mereka berfoto di depan Gereja Burung. Dari bawah sini aku dapat melihat antrinya orang masuk ke dalam. Aku sendiri masih berkutat mencoba memasang lensa 10-30 mm yang sedang error, dengan harapan bisa terpasang dan mengabadikan tempat ini. 

Sayangnya, lensa tetap error sehingga aku harus memaksimalkan lensa 30-110mm untuk membidik objek dari jarak dekat. Hasilnya pun tak maksimal, aku gagal mengabadikan seutuhnya bentuk Gereja Burung ini. Tak apalah, toh masih bisa mengabadikannya.

“Kita masuk saja."

Inilah Gereja Burung Merpati Magelang yang sekarang sedang ramai dikunjungi 

Baiklah, aku pun ikut antre. Sesampai di dalam tiap pengunjung yang ingin naik dikenai tiket 5000 rupiah perorang. Temanku menyodorkan uang 10.000 rupiah, setelah itu dia tak langsung naik tapi mengabadikan di dalam sini. 

Pada postingan orang-orang sebelumnya, di dinding ini ada banyak coretan (vandal), tapi sekarang hampir setiap sudut dinding tembok sudah bersih. Bangunan tahun 1989 ini kembali dipugar oleh beberapa pihak. Selama aku di sini, temboknya disemen kembali, dan dibuatkan tangga permanen. Di antara pengunjung yang bersesakan, terlihat lebih dari empat pekerja bangunan yang bekerja.

Tepat di atas, bukan yang laing puncak; kami sudah antre. Sebagian pengunjung antre tepat diparuh burung. Dari sini terlihat orang yang ada di bawah. Untuk naik ke atas (jambul), dibatasi maksimal 10 orang. temanku sudah lebih dahulu naik, dia sangat antusias. 
Bagian ekor Gereja Burung Magelang
Bagian ekor Gereja Burung Magelang 

“Pengunjung dalam beberapa minggu terakhir membludak, mas. Kalau perkiraanku lebih dari 100% jumlah dari jumlah pengunjung bulan-bulan sebelumnya.”

“Efek film AADC2 ini, mbak,” Celetukku tertawa.

“Bisa jadi mas. Mas pemandu,ya? Kok tidak naik ke atas? Apa tamunya sudah naik?” Tanya mbak yang jaga.

“Wah nggak mbak, saya hanya menemani temanku yang sudah di atas. Dulu pernah mau ke sini tahun 2014, tapi nggak tahu jalan dan sendirian juga. Baru sekarang kesampaian,” Jawabku.

Geli juga dikira pemandu; usut punya usut, ternyata ada beberapa agen travel yang mulai menyertakan tour mengunjungi spot-spot yang ada di film AADC2. Salah satu spot yang paling digandrungi adalah Gereja Merpati ini, terlebih mereka ingin berfoto tepat di atas. 

Dari mbak-mbak ini juga aku mendapatkan informasi jika Gereja Burung ini memang dalam proses pemugaran. Rencananya akan dibuat semacam galeri lukisan. Konsepnya mungkin seperti Rumah Kamera yang ada tak jauh dari sini. Destinasi yang sempat kukunjungi naik sepeda tahun lalu.

“Empat orang boleh naik!” Teriak mbak yang jaga antrean.


Aku bergegas naik ke atas melalui tangga yang lumayan tegak. Tangga ini mengingatkanku saat naik ke Mercusuar di Pantai Bantul. Di atas cukup sesak, tepat sekecil ini disesaik 11 orang. Sepuluh pengunjung plus satu petugas. Aku melihat sekelilingku, perbukitan Menoreh cukup rimbun, dan menyenangkan. 

Sayangnya terik siang ini membuatku ingin secepatnya kembali turun. Sementara temanku dan yang lainnya asyik berfoto menggunakan Tongsis masing-masing. Aku sekali mengabadikan tempat untuk memandang Gereja Burung ini, kalau diruntut itu adalah sebelah lain dari Punthuk Setumbu. 
Salah satu sudut dari arah jalur Punthuk Setumbu
Salah satu sudut dari arah jalur Punthuk Setumbu 
Jarum jam tepat pukul 11.00 WIB, aku masih menunggu temanku yang berada di dalam Gereja Burung. Aku sendiri sudah asyik duduk di bawah pepohonan, sesekali menerima permintaan pengunjung yang ingin berfoto bareng menggunakan kamera mereka. Kayaknya buka jasa foto laku di sini (batinku). 

Tak lama berselang, temanku turun. Kami pun menuju area tempat parkir. Dari sini terdengar suara rekaman Qiroah dari salah satu masjid. Ya, ini hari jum’at, jadi kami pun harus bergegas menuju masjid. Dekat tempat parkir, kulihat seorang bapak menggunakan peci dan sarung, pasti beliau ingin ke masjid.

“Pak, masjid terdekat sini mana ya?” Tanyaku seraya menjabat tangan beliau.

“Itu mas, perempatan kecil itu nanti belok kanan. Dekat kok,” Jawab beliau mengarahkan.

Bergegas aku dan temanku menuju masjid tersebut. Sebuah masjid yang sedang dalam proses renovasi, kami memarkirkan kendaraan tepat di depan rumah warga (samping masjid). Empu rumah tak kalah ramah, kami dipersilakan masuk dan menitipkan tas di dalam rumah. 

Di sini juga aku dan temanku ganti pakaian (temanku membawa baju koko), dan aku membawa sarung. Tanpa terasa kami berdua sudah berada d dalam masjid, menikmati suasana sholat jum’at di kawasan Magelang; serta mendengarkan ceramah menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil. *Kunjungan ke Gereja Burung Magelang pada hari Jum’at; 06 Mei 2016.

Baca juga perjalanan lainnya 

18 komentar:

  1. Wah, kita beda sehari mas. Aku ke sini hari Sabtunya.
    Eh tapi kok kemarin waktu mau naik ke mahkota burung ada tulisan bayar Rp 10.000 ya? Trus gak jadi naik deh. Duitnya buat pulang Semarang, hehee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oya? hehehehhe, setahuku cuma bayar 5ribu loh perorang, wah naik lagi *paling bener-bener membeludak pengunjungnya.

      Hapus
  2. warna ayamnya menghitam gitu. atau memang sengaja dicat belang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu memang cat dari awal mbak. Tapi sudah usang :-D

      Hapus
  3. semua tempat yang dipakai shooting AADC 2 jadi ngehit semua, kyaaaa ...

    mudah2an tidak merusak terutama tatanan sosial di sekitar tempat2 apik ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenyataannya setiap tempat yang dipromosikan melalui film menjadi cepat tenar. Semoga kasusnya tidak seperti Ranukumbolo dll.

      Hapus
  4. wah bakal makin tenar nih spot mas hehe... wah jumat" panas" ke sininya mas hehe mantap hehe jng lupa sholat itu keren mas... lbh keren dari si burung hehe .. smga si burung ini aman dan gak longsor deh aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang udah bludak banget pengunjungnya mas..

      Hapus
    2. wah joon mantep tenan wkwkwkw

      Hapus
    3. Katanya malah naik ke mahkotanya bayar 10.000 sekarang ahahahahhaa

      Hapus
  5. Mas sitam naik dari parkiran sampai depan gerejanya ngos-ngosan enggak? Aku kok iya ya :')

    Duluu sih 2015 pas aku ke sana cuma 3 orang, jadi ga diatur 4 orang boleh masukkk gitu wkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu kudu banyak olahraga dan butuh teman untuk bisa diajak gandengn tangan kayaknya hahahahahah

      Hapus
  6. Aku rung tau rono. Ra hits tenan aku ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Piyer ak hits, lah wes tekan derawan loh hahahahahha

      Hapus
  7. unik ya bentuk gerejanya ... sehingga jadi tempat wisata ..
    gereja ini nongol di AADC ... maklum ga nonton .. hebat ya efek dari film, bisa bikin jadi ngetop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang, ini salah satu spot yang ada di film tersebut. :-D

      Hapus
  8. wah makin terkenal nih spotnya..semoga makin dipercantik lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semakin banyak pengunjung yang ke sini.

      Hapus

Pages