Menanti Mentari Terbit di Embung Banjaroya - Nasirullah Sitam

Menanti Mentari Terbit di Embung Banjaroya

Share This
Ragam warna sebelum sunrise di Waduk Mini Banjaroya
Ragam warna sebelum sunrise di Waduk Mini Banjaroya

Banjaroya, salah satu desa wisata di kecamatan Kalibawang ini kembali aku sambangi. Sebenarnya awal tahun 2017, kala agenda #EksplorDeswitaJogja, desa ini sempat kami kunjungi. Hanya saja singgah sebentar dan belum sempat menjelajah ke destinasi yang ada di sekitar. 

Kali ini kunjungan ke desa wisata Banjaroya tidak berhubungan dengan agenda eksplor desa wisata, meskipun orang-orang yang menyambut kami adalah pentolan desa wisata di Banjaroya. Berkali-kali ajakan menginap di desa tersebut, baru kali ini terealisasikan. Itupun kami sedikit terlambat, karena musim durian sudah berlalu. 

Berada di perbukitan menoreh, Desa Wisata Banjaroya menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi para pecinta durian. Desa yang terkenal harum seperti durian khas menoreh yang ada di Banjaroya. Misi kami ke Banjaroya adalah menyambung tali persaudaraan, sekaligus menepati janji berkunjung ke desa ini. 

Hawa dingin malam mulai terasa. Obrolan di dalam sekretariat dekat embung berlanjut ditemani kopi. Malam makin larut, aku dan Aqied membuat kopi sendiri. Oleh-oleh kopi Sidikalang diracik Aqied dengan peralatan seadanya. Sementara warga setempat yang menjamuku berjaga di luar, ada juga yang tidur di tenda. 

Sebenarnya kami sudah disiapkan satu tenda yang bisa dibuat tidur lima orang. Namun kami memilih menginap di sekretariat. Sementara tenda diinapi beberapa warga yang semalam bareng kami. Tujuan kami menginap di sini agar esok pagi dapat memotret sunrise dari atas ketinggian. 

Fajar menyingsing; dan kami sudah salat subuh. Langkah kaki menuju Embung Banjaroya. Dari ufuk timur sudah berpendar rona jingga nan elok. Bergegas aku mengabadikan momen tersebut. Gunung Merapi dan Merbabu terlihat hitam dan jelas. Pancaran ragam warna berpendar. 
Pemandangan yang tersaji menjelang pagi hari
Pemandangan yang tersaji menjelang pagi hari

Mentari masih belum terlihat. Pancaran warna pagi ini menggoda kami untuk mengabadikan. Berkali-kali aku coba mengabadikan; pun berulang kali setelan kamera kuotak-atik. Butuh tripod untuk memotret agar bagus, dan barang tersebut tidak aku bawa. 

Tanpa berpikir panjang, aku meletakkan kamera di atas pagar yang mengelilingi embung. Sembari memegang kamera agar tidak jatuh, aku dan teman lain konsentrasi memotret. Warga yang ikut menginap sudah berada di ujung timur embung. Mereka bersenda gurau sembari menunggu mentari. 

“Cuacanya masih kurang bagus mas,” Ujar Mas Madun. 

Aku tidak tahu bagaimana cuaca lebih indah lagi. Kabut tipis tidak menghalangi dua gunung megah. Serta warna langit mulai agak terang, tak lagi seperti waktu fajar. Tetap saja indah. Oya, Mas Madun adalah pelaku desa wisata yang ada di desa wisata Banjaroya. 

Tenda dome terpasang berwana biru dengan garis orange. Di dalamnya sudah kosong, para penghuni dome sedang asyik berbincang di dekat embung sembari menikmati pagi. Aku masuk ke dalam, tak ada barang apapun di dalamnya. Kosong, malah asyik untuk sekadar rebahan. 
Tenda yang sudah berdiri sejak semalam di timur embung
Tenda yang sudah berdiri sejak semalam di timur embung

Embung Banjaroya kala pagi cukup sepi. Selain rombongan kami, hanya ada sepasang muda-mudi yang ikut menunggu mentari terbit. Mereka berdua asyik berbincang di gazebo. Katanya ada banyak gazebo yang tersebar di area embung. Bahkan beberapa di antaranya berada di bawah, di antara kebun durian. 

Seperti di Embung Kleco, di sini juga terdapat patung besar berbentuk durian. Hal ini mempertegas jika daerah Banjaroya adalah pusatnya durian. Jika tidak percaya, tanya saja pada orang-orang Jogja tentang tempat durian di Jogja. Jawabannya tentu “Kalibawang” sebagai rujukan. 

Saatnya yang ditunggu-tunggu mulai merangkak naik. Sang baskara tak hanya memancarkan sinarnya; dia muncul dari sisi kanan gunung Merapi. Lansekap dari atas embung indah untuk dpotret. Barisan kabut tipis menutupi titik-titik tertentu, sementara dari atas pancaran sinar mentari mulai mencuat. 

Berada di perbukitan menoreh, Banjaroya menyajikan pemandangan yang menarik sewaktu pagi. Kita dapat melihat leluasa bentangan alam yang tersaji. Bagi sebagian orang, membidik gambar kala pagi di Embung Banjaroya adalah hal yang benar-benar mengasyikkan. Terlebih ada tenda yang terpasang. 
Mentari mulai terlihat dari sisi timur
Mentari mulai terlihat dari sisi timur

“Jadi tenda ini buat foto ala-ala? Kan semalam yang menginap di sini bukan kami?” Ujarku sembari tertawa. 

“Kalian sih nggak mau tidur di sini,” Sahut salah satu di antara warga. 

Seperti yang aku bilang sejak awal, sejatinya kami sudah disiapkan tenda untuk menginap. Berhubung tenda hanya satu, dan ada teman cewek yang ikut. Kami lantas menangguhkan, dan teman-teman Mas Madun yang tidur di sini. Daerah Banjaroya kalau tengah malam sampai pagi cukup dingin. 

Lagi-lagi aku harus berpacu dengan waktu mengabadikan sunrise. Kulihat Hanif sibuk mempersiapkan drone, Aqied dan Aji mengamankan stok foto untuk media sosial, khususnya momen Ramadan nanti. Sebuah kain lurik yang dijual Aji dan Hanif terbentang. Mereka berdua bisnis kain lurik. 

Pagi di tempat tinggi memang menyenangkan. Udara bersih melimpah, hawa dingin terasa, dan pemandangan indah tersaji. Aku masih asyik menikmati segalanya. Sesekali memandang nun jauh di bawah. Perumahan warga yang tertutup kabut tipis. 

Cahaya mentari masih teduh, kami bergegas memotret sebanyak-banyaknya. Termasuk Aqied, dia sudah membawa kain panjang. Bergantian dengan Aji, mereka berdua sibuk memotret. Kala mentari agak meninggi, mulai berdatangan muda-mudi setempat. Mereka menjadikan embung sebagai tempat untuk jogging. 
Sinar mentari kala pagi masih cukup bagus diabadikan
Sinar mentari kala pagi masih cukup bagus diabadikan

Saking fokus memotret mentari pagi, aku bahkan sampai lupa mengabadikan embung. Aku baru teringat kala sudah pulang ke Jogja, nyatanya hanya beberapa foto embung yang kuabadikan. Itupun tidak ada yang utuh, hanya beberapa bagian saja. 

Pada tulisan prasasti tulisan di sini bukanlah embung, tapi waduk. Maknanya sama antara embung dan waduk. “Waduk Mini Banjaroya” itulah yang terpampang di prasasti yang diresmikan oleh Sultan Hamengkubuwono X pada tanggal 28 Februari 2014. 

Embung mini Banjaroya diisi dengan benih-benih ikan. Aku sempat melihat banyak ikan berukuran sedang di sini. Entah, ikan-ikan ini dipanen atau bagaimana nantinya kalau sudah besar. Menariknya lagi, menjelang siang tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata keluarga. Banyak wisatawan lokal yang bermain di sekitaran embung. 

Wisatawan yang mengajak anak kecil dapat melakukan aktivitas memberi makan ikan. Tepat di depan tangga naik, terdapat warga yang menjual pelet (makanan ikan). Satu bungkus pellet dijual dengan harga 2000 rupiah. Tentu hal ini membuat anak-anak kecil semangat saat bermain. 
Salah satu sisi Waduk Mini Banjaroya
Salah satu sisi Waduk Mini Banjaroya

Menarik memang dengan adanya embung. Kala pagi bisa digunakan warga sekitar bersantai atau jogging, saat menjelang siang sampai sore menjadi tujuan wisata keluarga yang ingin bermain dengan anaknya. Kala fajar seperti yang aku lakukan, kami bisa memotret sunrise. Menurutku, embung Banjaroya menjadi salah satu embung yang cukup ramai dikunjungi wisatawan. 

Puas memotret mentari, kami bergegas menuju salah satu rumah warga. Di sana kami sudah disuguhi sarapan pagi. Menu sarapan khas desa menjadi memantik rasa lapar. Aku harus makan banyak, biar seharian ini kuat menjelajah beberapa destinasi yang berpotensi untuk kunjungan para wisatawan di desa wisata Banjaroya. *Waduk Mini Banjaroya; Minggu, 29 April 2018.

56 komentar:

  1. oh hallo...
    saya melihat hal yang paling saya suka di dunia ini : pagi...

    saya bisa merasakan sejuknya pagi itu... :))
    what a perfect morning

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo salam kenal,
      Pagi memang waktu yang tepat dan asyik untuk diabadikan.

      Hapus
  2. warna jingga Sunrise nya itu lho, cuantik...
    biasanya aku lihat warna gitu pas Sunset..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, kalau saat sunset cahaya seperti ini kentara apalagi di pantai. Aku juga kaget pas lihat sunrise di sini

      Hapus
  3. aduh, cantik sekali mas sunrisenya.
    mau banget bisa camping juga di sana, semua pemandangan bersih dan enak banget diliatnya :)

    terima kasih sudah sharing mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemandangannya kalau pagi memang bagus mbak, :-)

      Hapus
  4. Matahari terbit di banjaroya luar biasa keren. Langsung bikin jatuh cinta. Apalagi ada tandanya yah sebagai latar muka, download tak menginap di dalamnya, bikin foto tambah cakep ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, kalau ke Jogja bisa ke sini tante. Ajakin Hanif itu yang akrab sama pengelola di sini

      Hapus
  5. Wew.. Baru tau ada embung ini.. Padahal g terlalu jauh sama Suroloyo, tapi pas ke sana dulu nggak ada tanda-tanda embung.. haha

    Btw, kalau malem berarti masih gelap banget ya di sini..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekilas embungnya seperti tempat rest area saja mas. Padahal di atasnya ada embung

      Hapus
  6. hey itu Hijab Anisa Hausliburan!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, lokasi foto Anisa Hasibuan yang (lumayan) viral di sosmed itu disini to? XD

      Hapus
    2. Hahahahha, aku nggak mengabadikan dia waktu itu. Kayaknya foto ini sebelum hausliburan kamu potret

      Hapus
  7. Sitam seeing banget yak liat sunrusu sunset.. suka euy 😍💗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau suka harusnya kamu ke sini main hammockan hahahahahha

      Hapus
  8. Sumpah cantik bgt sunrise nya mas.
    Josss bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata pengelolanya ini agak mendung, tidak sepenuhnya cerah hahahahha

      Hapus
  9. Ini di daerah Kulon Progo berati mas? Nggak beda jauh sama Kaligesing di Purworejo ya? Sama-sama di Perbukitan Menoreh dan dikenal dengan hasil duriannya yang enak-enak legit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kulon Progo; namun arahnya lebih dekat ke Borobudur

      Hapus
  10. Masya Allah,indahnya mentari. fotonya juga bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemandangannya memang indah mbak di sini.

      Hapus
  11. Panorama paginya soo girlyyy...antara fuschia-orange begitu warnanya. The Almighty is the truly artistan, Masya Allah. Hatur nuhun sudah berbagi keindahan alam buatan Sang Pencipta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cahaya pagi memang indah mbak kalau waktu dan tempatnya pas untuk memandang.

      Hapus
  12. Keren mas,Oke juga nih buat ramean dateng kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bisa saat subuh ke sini mas, jadi masih asyik untuk motret sunrise

      Hapus
  13. keren banget, dakuw udah lama nggk jalan2 kedesa menikmati udara bersih, pepohonan yang rindang dan bau tanah yang menyeruap ke hidung duh aku kangen desaa
    maksh mas inspiratif sekali buat dakuw untuk ke desa lagi.
    (Yopi saputra)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Desa itu memang tak membosankan, ketika kita penat dengan rutinitas yang seperti itu saja. Biasanya, suasana desa membuat kita menjadi bergairah kembali.

      Hapus
  14. Kapan waktu kalau ke Jogja dan waktunya slow, pingin kontak njenengan Mas. Pingin dipandu ke destinasi baru di Jogja dan sekitarnya. hiihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo mas, sama ketika nanti saya main ke Cilacap, njenengan jangan kapok saya minta nemani hehehhheh

      Hapus
  15. Allahu, indah banget paginya Banjarnegara, eh Banjaroya maksudnya. Wkwkwk
    Jd pengin kesana pas musim durian nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dipastikan waktu situ berdua sama mas mantan belum pernah ke sini.

      Hapus
  16. Setahun yang lalu, pas bulan puasa aku ke sini pagi-pagi banget, tapi Merapi-Merbabu sedang sembunyi :(
    Akhirnya cuma ngasih makan ikan-ikan itu sampai kenyang wkwk
    Potonya pik-apik mass.. halasyahduu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahun lalu kita juga gagal ke sini bareng teman-teman deswita. Emmm yang kameranya baru kayaknya asyik ini mau motret hahahahah

      Hapus
  17. Itu yang pake jilbab, Mbak Aqied atau Mbak Anisa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aqied, si Annisa lagi live Instagram kalau tidak salah; eh atau malah motretin aqied

      Hapus
  18. wah bangun pagi lihat pemandangan kayak gitu, langsung semangat iya mas, untuk memulai aktivitas. hehe :-)

    BTW, aku terpesona sama photo-photo sunrisenya, bagus semua,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pagi memang menggoda mas, dan kita bisa menikmati banyak hal seperti ini di banyak tempat.

      Hapus
  19. Oh, gak jadi menginap di tenda gara-gara Aqied? ��

    Mentari pagi memang selalu menarik, tapi entah kenapa saya selalu dikalahkan oleh rasa ngantuk yg terus menyerang ketika sudah terbangun sesaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau misalnya menginap satu tenda malah nggak cukup mas ahhahaha; kalau dua tendanya masih memungkinkan. Jadi kita pilih opsi tidur di sekretariat

      Hapus
    2. woy bang Dar woy!!!

      Hapus
  20. Bagus ini view-nya Mas, apalagi kalo camping disini. Patut dicoba! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicoba mas, atau sekalian naik ke Suroloyo heheheeh

      Hapus
  21. foto foto sunrise di pedesaan selalu indah ... background gunung dan embung .. kereenn
    tapi menurut saya sih ada yang kurang .... ga ada duriannya .. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada kang di sini besar banget, tapi cuma patung Durian hahahhahha

      Hapus
  22. pas awal liat kalian ngetrip kirain pada tidur di tenda. Ternyata pencitraan saja :PP

    durian jawa biasanya kurang peminat sih, karena rasanya agak "dingin" gak kaya durian sumatera. ya gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buahahahha, penting ada foto ala-alanya.
      Sama saja geliat pembelinya teh. Sama-sama enak,

      Hapus
  23. Wuiiih, keren ya dapet momen sunrise yang kece. tapi kalau kesana pas musim durian pasti lebih josss ya..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bang, tapi cukup asyik kok dengan pemandangan pagi seindah ini.

      Hapus
  24. Sama, mas. Buatku itu udah bagus bangeeettt! Apalagi aku sering nggak berjodoh sama sunrise :((

    Btw aku nggak terlalu suka kopi Sidikalang. Ada sensasi kacang tanahnya, terus perutku jadi agak nggak enak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tempatnya memang sudah sangat bagus menurutku.
      Kalau kopi Sidikalang itu biasanya kutambahkan susu biar agak manis.

      Hapus
  25. Berkemah itu, sangat menyenangkan saat sore, malam, dan pagi. Tapi kalau siang-siang, saya kurang suka, soalnya panas di dalam tenda, kecuali kemahnya ditaruh di bawah rindang pepohonan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar hehehhehe, biasanya pas orang-orang kemping ke gunung pun menjelang siang sudah pada dikemasi.

      Hapus
  26. keren foto sunrisenya ... padahal katanya cuacanya kurang mendukung ya ...
    pengen punya foto seperti ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga bilangnya ini sudah keren banget kang. Nggak kebayang kalau benar-benar cerah seperti yang mereka utarakan

      Hapus

Pages