Menjajal Camping Ceria di Taman Wisata Alam Posong - Nasirullah Sitam

Menjajal Camping Ceria di Taman Wisata Alam Posong

Share This
Pengalaman camping di wisata alam Posong
Pengalaman camping di wisata alam Posong
Ajakan camping di dataran tinggi Posong membuatku bersemangat. Bersama Charis, aku mengendarai motor menuju Temanggung. Perjalanan dari Jogja sedikit tersendat, tepat di Artos Mall Magelang, ban belakang motor bocor. Aku harus berjalan kaki sampai RSU Tidar, jarak tempuh sekitar 2.4 KM. 

Sebelum menuju Posong, kami singgah di Pendopo Kabupaten Temanggung. Di sini Mas Tafta dan rombongan menanti kami. Perjalanan malam berlanjut menuju Posong mengendarai mobil. Aku pernah ke Posong pertengahan tahun 2016, kala itu bareng Charis dan teman kuliah lainnya. 

Tengah malam kami baru sampai di Posong. Kurun waktu dua tahun, Posong bersolek. Di atas sudah ada taman bertuliskan Posong, lengkap dengan camping ground. Enam buah dome terpasang, siap diinapi. 

Larut malam, udara di Posong menusuk tajam. Kueratkan jaket tebal yang melekat di badan. Kami satu rombongan berkumpul menikmati hangatnya api unggun sembari membakar jagung dan bernyanyi. 
Suasana kala malam hari di Posong
Suasana kala malam hari di Posong
Malam terasa panjang, biarpun di dalam tenda sudah mengenakan jaket dan selimut, rasanya aku tetap kedinginan. Ada yang penasaran isi dalam tenda? Dua buah bantal, Kasur kecil, tidak lupa lampu dan colokan listrik. Seperti di dalam kamar penginapan. 

Aku menggeliat, suara ramai terdengar. Dinihari di Posong sudah banyak orang yang berkunjung. Mereka berkumpul tepat di pelataran bertuliskan Posong. Aku tahu, tujuan mereka ke sini untuk melihat sunrise. Sayang, kabut menggelayuti Posong, keindahan sunrise tak dapat dilihat. 

Taman Posong ini dibangun sejak desember 2016. Lahan luas ini disulap dalam waktu tiga bulan. Pemilik taman Posong yang atas bernama Pak Triyanto. Nanti siang kami bertemu dengan beliau saat Kopi Trip

Sejak pagi yang menemani kami di sini adalah Pak Yamidi. Beliau menceritakan perkembangan di taman Posong dan paket camping yang semalam kami inapi. Paket camping ini dapat kita pesan dengan harga 150.000 rupiah. Paket minimal harus 10 orang. 

Fasilitas yang didapatkan antara lain kasur, tenda, bantal, toilet dan lainnya. Jika hanya menyewa tenda dan kamar mandi, pengelola membandrol harga 80.000 rupiah. Sedangkan kalau hanya menyewa lahan berkemah membayar 60.000 rupiah. Kita juga bisa menikmati api unggun dengan tambahan pembayaran 50.000 rupiah. 
Masih pagi dan dingin, malas beranjak dari tenda
Masih pagi dan dingin, malas beranjak dari tenda
“Kalau misalnya tidak pilih camping pak? Apa ada penginapan?” Tanyaku sewaktu berbincang dengan pak Yamidi. 

“Bisa mas. Nanti kita inapkan di homestay. Semua tergantung permintaan wisatawan.” 

Pak Yamidi mengajak kami berkeliling area Taman Posong. Kami menjauh dari keramaian pengunjung yang berkumpul di berbagai titik swafoto. Melintasi pagar, kami menuju bagian tebing. Lahan luas masih kosong serta baru selesai dibajak. 

Pemandangan menarik dari sini, lansekap Posong yang tahun lalu aku lihat penuh hamparan Tembakau kali ini berbeda. Petakan tanah masih kosong, di tengah-tengahnya ternyata sudah ada bibit pohon kopi. Sepertinya bakal ada lahan kopi di sini. 

Sembari mencabut rumput liar yang ada di sekitaran bibit pohon kopi, pak Yamidi bercerita jika nantinya beliau bersama pak Triyanto dan masyarakat lain ingin menjadikan lahan kosong ini menjadi kebun kopi. Kopi Posong, tentu kalian tidak asing lagi dengan sebutan tersebut.
Jejeran tenda yang kami inapi semalam
Jejeran tenda yang kami inapi semalam
***** 

Sejumput Cerita Asal Muasal Penamaan Posong dan Kopi Posong 
Selesai berkunjung ke lahan yang nantinya akan dijadikan kebun kopi, kami mendengarkan cerita berkaitan dengan sejarah Posong. Pak Yamidi antusias menceritakan sejarah tersebut, pun dengan asal kopi yang ditanam satu lahan dengan Tembakau. 

Penamaan Posong sendiri sudah ada sejak masa Gerilya Jenderal Sudirman. Cerita versi pertama mengatakan bahwa nama “Posong” berasal dari kata “Pos Kosong”. Saat itu Belanda menyerang, dan yang diserang adalah Pos Kosong. 

Versi lain dituturkan bahwa Posong berasal dari kata “Pos Gosong”. Ketika penjajah menyerang pos, lalu pos tersebut dibakar sampai ludes. “Gosong” sendiri dalam Bahasa Jawa sendiri artinya hangus. 

Dua versi cerita ini dituturkan oleh Pak Yamidi. Aku seksama mendengar cerita beliau sembari menikmati pisang goreng. Tak hanya bercerita tentang sejarah nama Posong. Beliau juga menceritakan perihal Posong dikenal sebagai tempat wisatawan dan juga pembibitan kopi pertama di sini. 
Pak Yamidi di lahan kopi area Posong
Pak Yamidi di lahan kopi area Posong
Posong dikenal dengan keindahan sunrise-nya pada tahun 2009. Saat itu seorang warga mengajak wisawatan manca untuk melihat sunrise di sana. Melihat keindahan sunrise, wisatawan manca menyebutkan bahwa tempat ini layak dijadikan destinasi wisata. 

Melihat peluang Posong bisa dijadikan destinasi wisata, sekelompok pemuda beserta instansi terkait berbenah. Saat berbenah, Posong ditinjau bupati Temanggung (Pak Hasyim Affandi). Beliau mengatakan tempat ini adalah Surga di sekitar Gunung Sindoro. Tahun 2011 dibuatlah gazebo dan kamar mandi. Tahun berikutnya Posong mulai terlihat lengkap infrastrukturnya. 

Sejak itu hingga sekarang, Posong menjadi destinasi wisata favorit para pecinta mentari terbit. Tiap pagi selalu banyak pengunjung yang datang, pun dengan pagi ini. Berbondong-bondong wisawatan berdatangan menikmati waktu pagi di Posong. 

Merebaknya lahan kopi di Tlahab sendiri awalnya dari penelitian tahun 1998 – 2000 yang diuji di lereng Gunung Sumbing. Para peneliti berasal dari UGM dan Prancis. Hasil penelitian kala itu menunjukkan tempat ini rawan longsor. 
Menilik sudut lain di Posong
Menilik sudut lain di Posong
Sempat ada wacana Tlahab, khususnya daerah Posong ditanami pohon Nangka. Hanya saja dibatalkan karena takut justru kurang baik dengan kontur tanah yang rawan longsor. Tahun 1999, komunitas kopi memberi tawaran untuk ditanam. 14 orang merintis tumbuhan kopi. Setahun berselang bantuan bibit kopi sejumlah 50.000 diambil dari Jember. 

Awalnya sempat ada penolakan dari petani setempat. Tlahab terkenal dengan Tembakaunya sejak dulu. Terbesit pikiran nantinya lahan Tembakau bakal tergusur dengan Kopi. Ketakutan warga sampai tahun 2001, saat itu ada tambahan bibit kopi sebanyak 150.000 bibit. 

Ketakutan lain bukan karena beralihnya Tembakau ke Kopi. Sebagian juga belum berani menanam kopi dengan alasan tidak ada prospek bagus dengan Kopi. Berbeda dengan Tembakau yang sejak dulu sudah menghasilkan. 

Adanya bibit Kopi dan Tembakau di satu tempat membuat terjadi gesekan. Bahkan menjadi memanas karena ada pihak yang memelintir berita dengan mengabarkan jika Kopi terus ditanam nantinya Tembakau akan hilang. Padahal sebelum ada kopi, petani menanam Kacang Merah satu lahan dengan Tembakau. 
Taman Wisata Posong menjelang pagi hari
Taman Wisata Posong menjelang pagi hari
Lambat laun ketakutan warga menghilang. Mereka mulai menerima Kopi ditanam. Pola Tlahab menjadi idola. Pola Tlahab adalah menanam Tembakau dan Kopi dalam satu tempat. Berkat Pola Tlahab ini pula kopi di Sindoro – Sumbing mempunyai citarasa unik. Kopi di sini beraroma Tembakau. 

Sekarang, Kawasan Tlahab (termasuk Posong) masyarakatnya mulai menggeliat dalam produksi kopi. Tingkat ekonomi masyarakat menjadi lebih baik. Dan tentunya Posong tidak lagi dikenal sebagai destinasi wisata dan penghasil Tembakau saja. Kali ini ditambah dengan penghasil Kopi. 

***** 

Aku menepi, duduk di salah satu kursi yang tersedia. Melihat geliat pengunjung Posong yang mulai ramai. Hampir setiap titik swafoto dipenuhi wisatawan. Mereka silih berganti mengabadikan diri. 

Gunung Sindoro yang menjadi latar pada tulisan Posong tertutup kabut. Pun dengan Gunung Sumbing, mereka kompak hilang dari pemandangan. Hawa dingin masih terasa, udara bersih pun bisa dihirup sepuasnya. 

Layaknya destinasi wisata lainnya yang menonjolkan titik-titik berfoto. Gardu pandang terbuat dari bambu menjadi incaran wisatawan. Plang bertulis maksimal 20 orang menjadi aturan yang harus dipatuhi. Keriuhan mereka membuatku yakin bahwa Posong benar-benar sudah terkenal. 

Jika semalam hanya rombongan kami yang ada di sini. Pagi ini sudah ratusan orang datang. Bahkan aku sampai bingung di mana rombonganku berada. Mereka sepertinya berpencar. Ada yang mengambil video, ada juga yang duduk menikmati suasana dingin. 
Gazebo-gazebo kecil yang bisa digunakan pengunjung untuk istirahat
Gazebo-gazebo kecil yang bisa digunakan pengunjung untuk istirahat
Dari atas, aku melihat tenda yang berbaris menjadi spot alternatif pengunjung. Mereka jadikan dome tersebut sebagai properti foto. Rasanya aku pernah melakukan hal yang sama sewaktu menginap di Embung Banjaroya

Lahan taman Posong yang di atas sekitar tiga hektare. Di sekeliling tersebar tempat foto menarik. Mulai dari spot love, jembatan kecil, gardu pandang, sampai dengan gazebo yang berjejeran. Destinasi seperti ini sedang digandrungi hampir semua tempat. Semoga tetap dirawat. 

“Tolong aku difoto!!” Teriak Charis dari kejauhan. 

Aku bergegas menghidupkan kamera, membidik Charis dari kejauhan. Sepertinya dia sedang pamer tas barunya yang dibeli beberapa waktu lalu. 

Tak terasa sudah lumayan lama aku menikmati suasana pagi di Posong. Menyempatkan bagaimana rasa menginap di daerah ketinggian, serta berbaur dengan orang-orang baru. Kami segera bergegas mengemasi barang. Masih ada agenda yang harus diselesaikan. 
Rombongan yang mengajakku bergabung di kegiatan Kopi Trip Posong
Rombongan yang mengajakku bergabung di kegiatan Kopi Trip Posong
Pagi ini, kami masih ditemani Pak Yamini melihat kebun kopi, melihat pengolahannya, hingga penyajian kopi. Nantinya apa yang kami kerjakan ini menjadi sebuah paket baru di Posong dengan nama Kopi Trip. 

Terima kasih untuk semua; spesial untuk Charis, Mas Tafta, Pak Yamidi, Pak Triyanto, dan semua rombongan yang sudah mengajakku berkunjung ke Posong. Di sini, aku tidak hanya menikmati pemandangannya, namun ada banyak ilmu baru yang kudapatkan. Tentunya yang paling penting adalah mendapatkan teman baru. *Posong; 21 – 22 April 2018.

28 komentar:

  1. Wah Seru Juga nih ada wisata camping gini...
    Bisa sewa lahan doank juga...
    Tinggal bawa tenda nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa banget mas, kalau bisa sama rombongan biar nyaman

      Hapus
  2. Hmm.. Sayang berkabut sepanjang hari kayaknya ya..
    Emang ngecamp itu ttp menyenangkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak masalah kabut datang, toh tetap bisa menikmati suasananya

      Hapus
  3. Sepertinya sangat menarik. Penasaran sama mas Charis pisan sih hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dolan Temanggung kudu WA wonge mas. Ben diajak blusukan bareng

      Hapus
  4. Itu kebanannya jam berapa e mas, kok jalan kakinya lumayan? apa nggak ada bengkel yang buka?
    Kaya aku dong, ke Posong malah zonk hujan deres. Sampai atas cuma jajan mi rebus aja. Haha. Kapan-kapan harus diulang pas langitnya membaraa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Magelang kalau sudah jam 9an itu beda dengan Jogja, plus kondisi hujan jadi asyik kalau jalan. Ketok pintu tambal ban yang dekat orangnya gak ada, jadi nyari yang buka dapatnya di kota.

      Hapus
  5. Aku ke Posong pas acara dulu itu asli dinginnya menusuk tulang. Tapi sampe sekarang aku masih nggak paham, nama desanya Tlahab, tapi kok dinamain Kopi Posong? Posong itu apanya Tlahab sih jadinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Posong kan nama tempat yang sekarang jadi destinasi wisata.

      Hapus
  6. Serba fleksibel; bisa tidur di dome yang disediakan, bisa bawa tenda sendiri (sewa lahan), dllnya. Belum lagi menikmati sunrise-nya.

    Menarik sekali ulasan tentang Kopi Posong dan rencana Kopi Trip, dapat menjadi inspirasi bagi orang Indonesia yang punya lahan di daerah dataran tinggi. Sangat bisa ditiru, Insha Allah. Tapi agrowisatanya (kopi, tembakau,) bisa diganti sesuai tanaman yang dapat tumbuh subur di daerah bersangkutan.

    Keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, untuk tanaman bisa disesuaikan dengan daerah masing-masing :-)

      Hapus
  7. Tahun 2016 Des dulu Kesana, masih dalam tahap renovasi,, sekarang sudah keren bngat yaa..

    Sudah ada camping ya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2016 berarti masih bagian bawah yang dipakai untuk foto dan lainnya :-)

      Hapus
  8. biaya campigngnya terbilang ekonomis ... plus dapat menikmati sunrise ... apalagi bagi pecinta kopi .. klop deh camping disini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, lebih asyik lagi kalau memang bisa mengikuti trip kopinya sekalian

      Hapus
  9. Ahhh indahnya. Hal yang bikin kangen sama naik gunung, ya tidur di dalam tenda, pas pagi-pagi buka tenda disuguhkan dengan pemandangan hijau, embun, dan sinar matahari yang masih malu-malu.
    Btw tempatnya asyik juga buat arisan keluarga ya kayaknya, biar ada kesan yang berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisalah dicoba bareng keluarga mbak hahahahhah

      Hapus
    2. Maaf numpang nanya...kalau mau camp di Posong. Nyampe situ setelah maghrib apa masih ada yang jaga di gerbang masuknya.?apa harus hubungi admin wisata Posong dulu atau gimana.?

      Hapus
    3. Menurut saya lebih baik dikomunikasikan dulu dengan pihak wisata Posong jika ingin kemping. Jika hanya mengejar sunrise, bisa datang menjelang subuh.

      Hapus
  10. Jd pengen merasakan kopinya.. Kopi tp beraroma tembakau :). Enak sih harusnyaa.. Mungkin utk yg mau berhenti rokok, bisa minum kopi ini. Setidaknya aroma tembakaunya msh bisa terasa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ke Temanggung pasti tidak ketinggalan nyicip kopinya mbak

      Hapus
  11. temen blogger juga pernah kesana dan pas itu belum pengen. Tapi lama-lama kok kepikiran ya. Eh sekarang buka post ini jadi kepengen lagi ke Posong. Uadem ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, kalau begitu bisa diagendakan main ke sana

      Hapus
  12. Sewa lahan 60k itu pertenda atau per orang ya mas ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 60K pertenda, tapi kalau mau kemping di sana minimal 10 orang.

      Hapus
    2. tendanya perlu pesan atau tidak mas?

      Hapus
    3. Kalau paket kan berarti sudah sekalian sama tendanya.
      Kalau hanya lahan ya tidak termasuk tenda,

      Hapus

Pages