Pertama Kali Singgah di Candi Pawon - Nasirullah Sitam

Pertama Kali Singgah di Candi Pawon

Share This
Memotret Candi Pawon Magelang
Memotret Candi Pawon Magelang
Kuambil teko terbuat dari gerabah yang sudah tersaji. Pagi ini aku menikmati teh panas sebelum beraktivitas. Rombongan sudah siap. Usai sarapan pagi, mereka berbincang santai. Sesekali swafoto, mengabadikan momen berkumpul. 

Demi memastikan kegiatan lancar, aku bergegas memeriksa sepeda. Mulai dari mengecek satu persatu, sampai menghitung jumlahnya. Sudah mirip pemandu wisata, aku mengurusi segalanya. 

“Pakai sepeda ini?” Tanya salah satu orang dari Nepal. 

“Iya. Pakai sepeda ontel,” Jawabku terbata-bata. 

Dia memberi kode antusias. Setahuku, pria dari Nepal ini suka bersepeda. Beberapa kali sempat bertemu di jalanan sekitaran UGM. Sebelum berangkat sepedaan, ternyata ada yang tidak bisa naik sepeda. Aku meminta satu mobil untuk ikut mendampingi. 
Deretan sepeda ontel yang direntalkan
Deretan sepeda ontel yang direntalkan
Aku tidak sendirian. Sedari awal sudah mencarikan tiga pemandu lokal yang nantinya mengurusi rombongan selama dua hari. Tugasku jauh lebih nyaman karena fokus pada mendokumentasikan selama kegiatan. 

Tiga pemandu yang menemaniku lancar berbahasa Inggris. Hal ini menjadi mudah dalam berkomunikasi. Selain itu, merangkul pemandu lokal kala berkunjung ke desa wisata atau destinasi wisata menjadi hal yang diutamakan. 

Perjalanan dimulai, tujuan kali ini adalah Candi Pawon. Candi mungil yang lokasinya tidak jauh dari lokasi rental sepeda. Hanya mengayuh sekitar 10 menit sudah sampai. Rombongan ditemani pemandu mengelilingi area candi. 

Ini kali pertama aku mengunjungi Candi Pawon. Padahal sudah sering berkunjung ke Candi Borobudur naik sepeda. Entah kenapa tidak terbesit di pikiran untuk sekalian singgah. Padahal aku juga singgah di Candi Mendut
Rombongan mengelilingi Candi Pawon
Rombongan mengelilingi Candi Pawon
Aku masuk, mengelilingi banguan candi. Kuabadikan candi ini dari berbagai sudut. Jika dilihat, candi ini besarnya sama dengan candi-candi yang tersebar di Sleman. 

Lokasi Candi Pawon di Brojonalan, Wanurejo, Borobudur, Dusun 1, Wanurejo, Borobudur, Magelang. Tempatnya sedikit tertutup, hanya ada plang penanda, namun belum sepenuhnya menjadi daya tarik wisatawan untuk singgah. 

Candi Pawon dikelilingi pagar dan sedikit taman. Area parkir berada di depan, berdekatan dengan berbagai bangunan rumah warga maupun stand souvenir. Dari sini, aku melihat pemandu lokal menjelaskan perihal sejarah candi ke rombongan dengan Bahasa Inggris. 

Bagi sebagian orang yang berkunjung ke Magelang, khususnya Candi Borobudur, rata-rata dari mereka tidak sekalian berkunjung ke Candi Pawon. Bahkan mungkin malah tidak tahu keberadaan candi tersebut. Ketika rombonganku sampai, di sini tidak ada pengunjung yang lain. 
Sudut lain Candi Pawon
Sudut lain Candi Pawon
Dilansir dari literatur, Candi Pawon dijadikan tempat penyimpanan abu jenazah Raja Indra (782-812 Masehi). Candi ini juga mempunyai keterikatan dengan candi lainnya yang berdekatan. Candi Mendut dan Candi Borobudur. 

Tiap sudut candi mempunyai relief. Hasil karya pahatan pada dinding ada yang lengkap, namun tidak sedikit yang sudah rusak dan meninggalkan bagian-bagian tertentu. Ada bagian yang menceritakan Kuwera (Dewa Kekayaan), Kinara dan Kinari (sepasang burung berkepala manusia). 

Pada bagian atas berbentuk kubah-kubah kecil yang mengelilingi kubah di tengah dan jauh lebih besar. Diruntut dari lokasi dan bentuknya, candi ini merupakan candi Buddha. Aku menatap tiap pahatan yang ada di dinding. Sebuah mahakarya yang harus dilestarikan. 
Relief yang terpajang pada dinding Candi Pawon
Relief yang terpajang pada dinding Candi Pawon
“Mister-mister, souvenir!!” 

“Come here!!” Teriak para penjaga stand souvenir. 

Sedari kami datang, para penjaga stand souvenir semangat menawarkan jualannya. Masih banyak lagi teriakan para penjual berharap rombongan singgah. Setidaknya satu barang terjual pun mereka bersyukur. Destinasi wisata membuat geliat ekonomi berjalan. 

Berbagai topeng, miniatur stupa, miniatur patung buddha, manik-manik, dan lainnya terpajang. Mereka juga berseru kalau harganya murah. Sebagian rombongan menyebar. Ada yang asyik mengabadikan diri, berteduh, dan melihat-lihat tempat souvenir. 

Komunikasi langsung dari penjual dengan wisatawan manca terekam olehku. Aku melihat bagaimana mereka berbicara langsung dengan bahasa sederhana. Tak perlu paham seluruhnya, yang penting mereka tahu maksudnya. 
Deretan stand jualan souvenir
Deretan stand jualan souvenir
Perjalanan berlanjut, rombongan aku pecah menjadi tiga kelompok. Tiga kelompok ini nantinya menuju tiap rumah yang sudah ditentukan untuk membatik. Aku sendiri cukup bersantai ria, mengayuh pedal sepeda menyusuri sudut-sudut di sekitaran Borobudur. 

Teriring harapan agar candi ini juga mendapatkan kunjungan dari para wisatawan yang menyambangi Candi Borobudur. Candi ini seperti terjebak sepi di tengah lalu-lalang para wisatawan yang datang ke candi terbesar di Indonesia tersebut *Candi Pawon; Sabtu, 10 Maret 2018.

24 komentar:

  1. Joss tenan.. Gowesers sejati.. haha

    Btw, Besok November ikut acara gowes jelajah Bengawan Solo Purba ms njenengan..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak mas, saya jarang ikutan event hahahhhaha.

      Hapus
    2. Wogh, tak kira melu juga sampeyan...

      Hapus
    3. Temanku pada ikutan mas. Malah sebagian jadi RC dan fotografernya

      Hapus
  2. Oo jadi candi pawon untuk menyimpan abu raja. Aku pikir tadinya ada hubungan dengan dapur, semcam dapur suci untuk menyediakan makanan bagi persembahan kepada para dewa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tante hehehee. Bisa loh mampir ke sini pas lagi ke Borobudur

      Hapus
  3. Aku pernah melakukan kesalahan fatal, langsung ngajak ngacir tamu dari jepang biar nggak diganggu sama pedagang di borobudur.
    Pembenaranku sih karena para pedagang itu cukup mengganggu, narik-narik. Tapi ya kan emang mereka lagi cari duit ya. Harusnya cuma memfasilitasi aja, kalau mau beli dibantu, kalau enggak ya bilang. wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini pedagang berdiri di stand/warung kok. Tidak berjalan kaki mencari pengunjung seperti di Borobudur.

      Hapus
  4. seru ya di jogja bisa gowes wisata ... candi to candi .. daerah lain tidak pernah kedengaran, padahal bisa menjadi keunikan dan daya tarik ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jogja dan Magelang banyak candinya, kang. Jadi bisalah main-main ke sini buat susur candi

      Hapus
  5. iya euy, "Candi ini seperti terjebak sepi di tengah lalu-lalang para wisatawan yang datang ke candi terbesar di Indonesia tersebut"
    aku yang udah bolak balik Yogya Magelang juga gak menyadari keberadaan Candi Pawon ini. Mungkin harus ditemani Mas Sitam dan sambil nggowes biar bisa sampe sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, kalaun kutemani gowes kudu bawa mobil buat loading. Biar aman, kalau capek tinggal naik mobil hahahhaha

      Hapus
  6. kecil yaaa tapi bagusss. aku gak tau kalau letaknya dekat borobudur, kalau candi mendut aku tau dan pernah lewat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Candi ini agak masuk gang, jadi memang tidak terlihat dari jalan raya

      Hapus
  7. wah baru dengar candi ini hehehe
    kayaknya memang tertutupi oleh megahnya nama Borobudur ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya daeng, sebenarnya candi ini dekat banget dari area borobudur

      Hapus
  8. Aku pernah mas ke candi pawon ini, thn 2000 kalau ga salah, ya ampun udah lupa banget kaya apa. Dulu juga karna abis dr Borobudur, mlipir ke candi mungil ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, berarti sudah sangat lama tidak berkunjung lagi ke sana mbak

      Hapus
  9. Udah dua kali ke Candi Pawon, dan aku lebih suka suasananya dibandingkan Borobudur 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih asyik buat santai dan foto toh mak

      Hapus
  10. Pawon bukannya artinya dapur ya? dikira dulunya tempat dapur kerajaan. Tapi salah deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya arti pawon dalam bahasa Jawa itu memang dapur :-)

      Hapus
  11. Seru main ke Candi pakai sepeda, berasa sedang berada di tempat Nan jauh dari kotanya hehe, relief candinya masih terpelihara ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya candi ini jauh dari ramainya pengunjung yang ke Borobudur

      Hapus

Pages