Gowes Akhir Pekan ke Grojogan Watu Purbo Bangunrejo, Tempel - Nasirullah Sitam

Gowes Akhir Pekan ke Grojogan Watu Purbo Bangunrejo, Tempel

Share This
DAM Grojogan Watu Purbo di Tempel
Tidak ada habisnya destinasi pesepeda di Jogja untuk dikunjungi. Sama halnya dengan tempat satu ini, kurun waktu beberapa bulan terakhir, bertebaran di lini masa media sosial foto semacam DAM Air bertingkat. Namanya Grojogan Watu Purbo. 

Selama ini aku hanya fokus menceritakan destinasi kala bermain di luar Jogja. Hingga ada yang mengirimkan pesan kalau menunggu tulisan yang berkaitan dengan sepedaan. Aku melihat tulisan tahun 2019, sedikit mengulas destinasi ataupun aktivitas bersepeda di Jogja. 

Di waktu yang hampir bersamaan, salah satu pesepeda ada yang mengajakku untuk blusukan bersama komunitas. Pitnik, komunitas sepeda ini sedang mengadakan gowes bersama. Mumpung akhir pekan luang, aku menyanggupinya. Sesaat aku mencari tahu nama destinasi tujuan yang ada di Tempel. 

Minggu pagi, cuaca selama sepekan di Jogja mendung. Bahkan selama dua hari ini matahari menghilang kala pagi. Lantas siang terik, dan sore kembali mendung. Pedal sepeda kukayuh dengan ritme teratur, jalanan menuju Terminal Jombor masih sepi. Aku datang awal, menunggu rombongan di tepian jalan. 
Menunggu rombongan sepeda di Terminal Jombor
Menunggu rombongan sepeda di Terminal Jombor
Cukup lama aku menunggu, berbincang dengan kawan sembari menantikan rombongan dari Tugu Jogja. Tidak sengaja di sini juga bersua dengan kawan Federal yang juga ikut gowes akhir pekan. Obrolan kami tidak jauh-jauh dari sepeda. 

Sebenarnya rute menuju Grojogan Watu Purbo gampang. Tinggal melintasi jalan Magelang hingga sampai Jembatan Krasak (Tempel), belok kanan, dan cari gapura Dusun Bangunrejo. Alamat lengkapnya di Bangunrejo, Merdikorejo, Kec. Tempel, Kabupaten Sleman. Kalau bingung, tinggal tanya warga setempat. 

Berhubung ini sepedaan bareng komunitas, jalur yang kami lewati agak melebar. Melintasi Jombor – arah Segeyan – Cebongan – hingga melintasi pasar bawah jembatan Krasak. Ritme bersepeda juga jauh lebih lambat. 

Tepat di Pasar bawah jembatan Krasak, aku berhenti. Lavin dan Andar antre menunggu kue pukis. Aku dan Mbah Kung berbincang. Kali ini obrolan kami seputar fotografi. Banyak hal yang aku serap dari obrolan terkait Human Interest. Ternyata Mbah Kung sudah sejak lama menggeluti dunia fotografi. 

Rombongan sudah jauh di depan, kami berempat menyusul. Sempat kebingungan arah, hingga bantuan warga setempat terkait lokasi destinasi. Jalur melintasi perkampungan. Pemuda desa sedang gotong-royong membersihkan jalan. Mereka menyambut persiapan Agustusan. 

Silih berganti sepeda lalu-lalang, warga setempat beraktivitas seperti biasa. Rombongan sepeda yang jumlahnya banyak orang ini membuat anak-anak kecil berdiri di depan rumah. Melihat rombongan yang berdatangan. Sesekali ada yang menyapa dengan senyuman. 

Mendekati tujuan, ada dua jalur. Jalan berubah menjadi bebatuan dan berlumpur. Sepeda yang direkomendasikan ke sini adalah MTB. Dua jalur di depan, semuanya bisa sampai lokasi. Yang lurus lewat bawah, sementara yang belok kanan melewati jalur atas. 
Rute bebatuan di sekitaran Grojogan Watu Purbo
Rute bebatuan di sekitaran Grojogan Watu Purbo
Aku melintasi jalur bawah. Turunan tidak terlalu tajam, namun elok untuk diabadikan. Bagi yang mau datang ke sini, aku rekomendasikan melintasi atas. Aku baru mendapatkan kabar jika di sana ada gelaran lapak warga setempat yang berjualan jajanan pasar. 

Mungkin kita butuh kudapan, teh hangat, dan yang lainnya. Sehingga bisa membeli ke warga. Konon belum ada warung, hanya gelaran tikar yang dipenuhi kudapan yang dibuat warga setempat. 

Jalur bawah ini menarik, ada spot-spot yang bisa dipotret. Usai turunan, jalan pun datar. Sesekali menerabas genangan air. Dari sini tampak DAM yang ramai di media sosial tersebut. Rumput Ilalang menyambut kami, pun dengan suara air mengalir. 

Musim kemarau membuat aliran Grojogan Watu Purbo ini kecil. Meski begitu, antusias pesepeda tetap tinggi. Mereka bergantian mengabadikan diri menggunakan gawai. Ada pula yang rela mengangkat sepeda mendekati aliran air. 
DAM Bertingkat Watu Purbo, Tempel
DAM Bertingkat Watu Purbo, Tempel
Debit aliran Sungai Krasak di musim kemarau
Debit aliran Sungai Krasak di musim kemarau
Aku menghitung tembok DAM. Ada lima tingkatan. Tempatnya pun jauh lebih luas. Pemandangan ini mengingatkanku pada DAM Mangunsuko yang awal tahun pernah hits. Keduanya mirip, yang membedakan tentu di sini tidak ada jembatan gantung. 

Berbeda dengan yang lain sibuk mengabadikan diri bersama sepeda dengan latar tingkatan DAM. Aku menuruni sungai, mendekat aliran air yang tidak deras. Lantas mengambil gambar. Cahaya mendung serta siang hari membuat hasil foto seadanya. 

Penambang Pasir, Pengumpul Batu, dan Pemancing Ikan 

Seorang bapak yang memecah bongkahan batu bercerita, DAM ini sudah ada sejak tahun 1992. Hingga kini menjadi cor bertingkat karena biaya dari Dana Desa. Beliau menuturkan jika sudah lama tempat ini menjadi destinasi tujuan pesepeda. 

“Baru enam bulan terakhir ini ramai banget, mas,” Terangnya sembari menyeka keringat. 

Kedatangan rombongan pesepeda membuat bapak ini menghentikan aktivitasnya untuk beberapa saat. Beliau melongok, memperhatikan para pesepeda yang berfoto. Lantas, diambil kembali penancal kecil dan palu. 

Bunyi penancal tidak menggema. Sedikit demi sedikit bongkahan batu tersebut membentuk garis retak. Ritme memalu teratur, tiap hentakan berjeda sepersekian detik. Lambat laun batu retak, dan terpisah. Aku terus mengamati aktivitas pendulang bebatuan. 

Suara seloroh dari rekannya yang hanya menemani beliau terlontar untukku. Beliau berseloroh agar aku memotret aktivitas temannya. Kurespon dengan cepat, mengambil kamera, dan mengabadikan. Lalu mendekat dan berbincang. 
Warga yang mengumpulkan batu sungai
Warga yang mengumpulkan batu sungai
Pak Budi Namanya. Beliau salah satu dari warga Tempel yang mengumpulkan bebatuan dari sungai. Sejak kelas 6 SD pada tahun 1977, beliau sudah terbiasa dengan profesi mengumpulkan batu sungai. Di sungai ini, beliau sejak tahun 2010. 

Pekerjaan yang digeluti sejak kecil ini menjadi penopang perekonomian keluarganya. Beliau berujar, bulan ini harus menghasilkan banyak batu untuk diambil mobil karena anaknya yang kuliah di UNY sudah mau membayar semester. 

Satu bak mobil Colt, bebatuan itu dihargai antara 300.000 – 400.000 rupiah. Untuk menghasilkan satu bak dibutuhkan waktu tiga sampai empat hari. Harapannya tentu hari ini beliau bisa menghasilkan banyak bongkahan batu agar pengeluaran bulan depan tertutupi. 

Beda halnya dengan Pak Budi, rekannya yang bernama Pak Hari mengumpulkan pasir. Mereka sepertinya sangat akrab. Selama di sini, entah berapa kali keduanya saling berseloroh, mengundang tawa bagi yang mendengarkan. 

“Kalau saya nggak telaten bongkah batu, mas. Saya di sini mengumpulkan pasir,” Ujar pak Hari. 

“Sama seperti Pak Budi. Dia juga nggak telaten kalau disuruh mengumpulkan pasir,”Tambah beliau. 

Selain para mengumpul batu, di sungai Krasak ini juga ada yang mengumpulkan pasir. Pagi ini, yang terlihat mengumpulkan pasir hanya dua orang, Pak Hari dan seorang simbah perempuan. Tumpukan pasir ini nantinya juga diangkut menggunakan mobil Colt. 
Mengambil pasir di aliran sungai
Mengambil pasir di aliran sungai
Harga pasir jauh lebih murah dibanding batu, begitulah yang diutarakan Pak Hari. Namun, beliau yakin jika ditekuni secara sungguh-sungguh, pasti rezeki itu datang. Aku terdiam, mengamini apa yang beliau utarakan. 

Aliran sungai Krasak ini panjang. Meski bulan kemarau, gemericik suara air tetap terdengar. Tidak jauh dari DAM, hanya berjarak kurang dari 200 meter dari tempat dua kawan mengumpulkan batu dan pasir, terlihat banyak orang yang berada di tepian sungai. 

Cekungan-cekungan di sekitar sungai tampak jelas. Air tampak tenang, tandanya cekungan tersebut airnya lumayan dalam. Eceng gondok menutupi sebagian kubangan tersebut. di sana sudah melingkar orang memegang jorang. 
Para penghobi memancing di sungai Krasak
Para penghobi memancing di sungai Krasak
Akhir pekan, banyak orang-orang penghobi memancing yang singgah di sini. Menurut mereka, ada ikan yang didapat, mesti tidak banyak. Mereka tidak datang sendirian, namun berkelompok. Mencari cekungan-cekungan yang lain, lantas menyiapkan alat pancing. 

***** 

Tidak terasa, aku cukup lama berbincang dengan dua warga setempat. Aku izin kembali berkumpul dengan pesepeda, meminta maaf karena waktu bekerja mereka tertahan. Kulihat, sebagian pesepeda sudah pulang. 

Dari bawah, aku menuju atas. Ada jalan yang bisa diakses. Sejenak aku lihat bagian atas Grojogan Watu Purbo. Ada semacam spot foto ala-ala dari bambu sederhana. Toilet, dan bekas ban sepeda motor yang dikelilingkan tiap batas area Watu Purbo. 

Tempat ini diharapkan bisa merias dir. Pihak warga setempat saling membahu untuk mengembangkan destinasi wisatanya. Sehingga bisa menggaet para wisatawan. Tidak perlu muluk-muluk, cukup untuk orang di daerah Tempel ataupun komunitas sepeda. 

Lebih baik lagi jika di sini dilengkapi dengan tempat sampah. Mungkin di atas sudah ada tempat sampahnya, namun yang di bawah masih minim. Selain itu, sangat disayangkan ada bongkahan batu yang dicat dan tertulis “Watu Purbo”. Cukup menggunakan plang papan saja. 
Pesepeda meninggalkan Grojogan Watu Purbo
Pesepeda meninggalkan Grojogan Watu Purbo
Kita tidak tahu, ke depannya tempat ini bisa ramai atau tidak. Jika dikelola dengan baik, aku percaya tempat ini bisa ramai layaknya destinasi tujuan kala musim penghujan. Debit air melimpah menjadikan pemandangan indah jika dipotret dengan kamera. 

Pun dengan pengunjung, untuk keselamatan diri sendiri, lebih baik tetap mengikuti aturan-aturan yang tertulis ataupun tidak. Pada musim tertentu, debit air melimpah, jadi harus bisa menjaga jarak dengan aliran sungai. 

Ketika destinasi ini dikelola dengan baik, fasilitas seperti toilet dan tempat sampah mumpuni, kebersihan terjaga. Pasti akan berdampak bagus untuk geliat perekonomian warga setempat. Setidaknya nantinya bakal ada warung-warung kecil milik warga setempat yang berjualan. *Grojogan Watu Purbo, Tempel; 28 Juli 2019.

30 komentar:

  1. aku ngebayangin ngumpulin dan mecahin batu gitu, capeknya itu yoooo :(.. dan cuma dihargai segitu.. Semoga sih rezeki bapak2 pencari baru dan pasir ini tetep gampang dan lancar..

    di jogja masih banyak yaaa wisata alam walo buatan gini. bagus juga dam nya dibikin berundak2 gini.. tadinya aku pikir ini air terjun berundak alami mas, sbelum baca isinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya memang murah, mbak. Kita hanya bisa berdoa agar kesehatan dan rezeki melimpah untuk beliau-beliau semua yang seperti ini.

      Hapus
  2. Kalo tekun, rezeki pasti datang.
    Setuju ama si bapak.

    Jadi kangen ngegowes lagi abis baca ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, rezeki memang tidak tertukar :-)

      Hapus
  3. Itu tidak apa2 ya mengambil Batu Dan pasir Di sungai? Lama-lama habis bukan? Tapi sepertinya dibiarkan juga sih ya. Kalau sedang musim hujan, grojokkan airnya lebih mengasikkan lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata-rata aliran dari Merapi memang banyak untuk penambangan batu atau pasir. Kalau aku baca dari informasi bapak ini yang sudah sejak lama mengambil batu, artinya memang itu menjadi sesuatu yang diperbolehkan. Hanya saja ada aturan-aturan yang harus ditaati.

      Hapus
  4. di deket rumahku yg di purworejo juga ada sungai besar, namanya sungai bogowonto
    tempat main waktu kecil dulu
    dari dulu diambil batu nya
    sampai sekarang gak abis abis
    heuheuheu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bogowoto sekarang seringnya dipakai untuk arung jeram, mas :-)

      Hapus
  5. Seru juga gowes begini. Sayang aku gak bisa naik sepeda. Hahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah bisa sepedaan bisa kok beli sepeda lipat *eh

      Hapus
  6. Aku doakan baik Pak Budi maupun Pak Hari tetap dicukupkan melalui ketekunan dan kesehatan mereka. Apalagi kalau Grojogan Watu Purbo ini sudah sukses menjadi tempat wisata lokal, siapa tau bisa menambah pundi-pundi uang mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita semua berharap agar beliau semua mendapatkan rezeki yang berlimpah,

      Hapus
  7. Mantap euy,, menelusuri cerita lain di sekitar tempat yang lagi hits.. selalu ada sisi lain yang bisa diceritakan..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau hanya menceritakan destinasinya, dirasa kurang cukup, mas :-D

      Hapus
  8. Halo Mas, sudah lama gak main main lagi wuehehe, ternyata udah sampe sini dong yaa.. Nahhh setuju banget tuh mas, kalau bisa melestarikan tempat yang ada disitu mungkin bakal jadi tempat yang bagus banget, suasananya juga nyaman tuh, bisa jadi dukungan yang bagus buat kedepannya

    BalasHapus
  9. Pengen ajak bocah-bocah main ke sungai, kali, gitu biar merasakan senangnya main air di alam bebas..nyaman banget suasananya ya Mas Sitam, bikin betah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di sungai kampung enak mbak. Biasanya masih bersih dan nyaman buat dolanan.

      Hapus
  10. wah seru nih jogja... masuk list tempat yang mesti dikunjungin, nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha, tapi biasanya tempat seperti ini biasa aja loh.
      Bikin bagus karena untuk menuju ke lokasi naik sepeda

      Hapus
  11. Awal baca tulisan ini, aku kira Mas Sitam menulis ulang soal DAM. Taunya yang dibahas ini DAM yang berbeda dengan DAM Mangunsuko.

    Tempatnya bagus, mas. Saya jadi membayangkan kalau sedang tidak musim kemarau, pasti debit air lebih besar dan pemandangan mungkin bisa lebih bagus.

    Semoga warga tetap dapat mereias tempat ini tapi nggak merusaknya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mirip dengan DAM yang awal tahun ditulis ya ahahahha.
      Kalau ini jaraknya lebih dekat

      Hapus
  12. Aku pingin banget tour pake ontel tapi masih belum bisa sampe skrg huhuhuhu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pakai sepeda ontel yang tua, lebih asyik sekitaran kota aja.

      Hapus
  13. Banyak desa yang maju dengan membangun obyek wisata. Layak kita bersepeda keliling daerah desa sambil menyaksikan keindahan alam. Kita berharap dengan kucuran dana desa yang besar, yaitu Rp 1 miliar, desa akan maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga desa-desa yang lainnya juga turut memoles desa dan membangkitkan potensinya.

      Hapus
  14. Dari cerita ini saya bisa membayangkan nggowes mblusuk ke desa-desa di Jogja. Saya jadi ingat masa-masa sepedaan bareng kawan-kawan dulu. Kami bisa menghabiskan waktu seharian nggowes dari Jogja sampai makam raja di Imogiri, menelusuri Selokan Mataram sampai ke Ancol, atau, kalau mau dekat-dekat saja, nggowes ke Kotagede.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya juga begitu mas.
      Ke Imogiri demi peceld an wedang uwuh, nyusur selokan ke ancol dan berharap musim durian. Ke Kodagede kalau pas cari jajanan pasar.

      Hapus
  15. Pemandangannya bagus mas...

    Kok gw jadi pengen sepedaan yah. Tapi adanya sepeda Keenan, gimana dong?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sepedaan kan enak, tidak perlu cari tempat destinasi wisata. Cukup muter-muter dekat rumah.

      Hapus

Pages