Semburat Mentari Pagi di Punthuk Setumbu - Nasirullah Sitam

Semburat Mentari Pagi di Punthuk Setumbu

Share This
Sunrise di Punthuk Setumbu Magelang

Dinihari jalanan masih lengang. Perjalanan dari Jogja ke Magelang tanpa ada aral. Semalam, kami sudah berencana ingin melihat sunrise dari Punthuk Setumbu. Aku sendiri sejak pukul 03.00 WIB sudah menunggu jemputan di pos polisi perempatan Condongcatur. 

Niat rombongan berangkat dari Jogja pukul 03.00 WIB. Drama terjadi, ada kawan yang belum bangun. Sehingga perjalanan molor satu jam. Aku sendiri menghabiskan rasa bosan di dalam pos polisi sembari melihat gawai. 

Mata sedikit terpejam. Rasanya waktu berjalan cepat. Begitu tersadar, sudah sampai di dekat arah Candi Borobodur. Mobil melaju pelan mengikuti plang petunjuk arah menuju Punthuk Setumbu. Melintasi jalur hamparan sawah yang tepiannya sudah dipasangi pagar. 

Suasana sepi di jalan berbeda dengan di parkiran Punthuk Setumbu. Juruparkir yang bertugas sibuk mengatur posisi mobil. Pun dengan petugas tiket yang sedang melayani pengunjung. Bergantian salat, lalu menapaki anak tangga. 

Aku lupa sudah berapa kali ke sini. Pernah bersama mahasiswa internasional kala menunggu mentari pagi. Sayang waktu itu hujan lebat, sehingga tak terlihat keindahan kala mentari terbit. Semoga pagi ini pemandangannya indah, sedari malam cuaca cerah. 

Pengunjung cukup ramai, tapi masih dalam batas yang wajar. Semburat cahaya dari ufuk timur mulai terlihat. Seluruh mata lensa berusaha membidik. Aku sendiri mencari sudut yang nyaman untuk memotret tanpa gangguan. 
Cahaya berpendar di area Gunung Merapi
Cahaya berpendar di area Gunung Merapi

Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menjulang tanpa ada penghalang. Puncak kepala Gereja Ayam pun terlihat. Samar-samar juga Candi Borobuidur tampak. Aku terus berusaha mengabadikan. Kiri-kanan pengunjung melakukan hal yang sama. 

Turis manca tak mau kalah. Menggunakan lensa tele, dia berdiri dan terus membidik. Di sampingnya mudi-mudi sedang asyik melakukan siaran langsung di Instagram. Semesta menyambut hari yang cerah dengan raut wajah ceria. 

Lekuk tiap bangunan nun jauh di sana tampak samar. Bagi mereka yang menggunakan tele, ini adalah waktu yang tepat memotret Candi Borobudur. Di antara rerimbunan pohon yang tertutup kabut tipis, puncak Candi Borobudur mudah dilihat. 

Sesekali kubiarkan mata ini melihat lebih lama tanpa membidik. Sekian kali berkunjung ke Punthuk Setumbu, baru kali ini aku bisa menyaksikan sunrise cerah. Sesuai dengan harapan semalam. Aku menikmati pemandangan tersebut. 

Panorama ini memang menarik bagi para pecinta foto, terutama mereka yang suka lanskap. Cahaya berpendar merona masih cukup lama. Pengunjung mulai ramai. Pagar pembatas dipenuhi pengunjung yang baru datang. Mereka riuh dengan wajah sumringah. 
Puncak Candi Borobudur terlihat kecil
Puncak Candi Borobudur terlihat kecil

Aku bisa membayangkan bagaimana perjuangan orang-orang ini harus menembus dinihari yang dingin. Melawan rasa kantuk untuk sampai di sini. Ditambah harus jalan kaki menapaki anak tangga. Suara-suara penjual silih berganti menawarkan kopi panas. 

“Dapat stok foto?” Tanyaku pada kawan yang membawa Tripod. 

Dia mengangguk. Suara jepretan kamera berkali-kali mengabadikan momentum dalam bingkai. Tak hanya foto, dia juga mengambil cuplikan video. Mungkin untuk tambahan stok kala dia senggang ingin membuat video klip tentang destinasi di Jawa Tengah. 

Dua gunung tetap kokok. Semua puncaknya terlihat jelas tanpa tertutup awan. Bagi orang yang terbiasa menatap Merapi dan Merbabu, dia cukup mudah menebak kedua gunung tersebut dari bentuk puncaknya. 

Baskara mengintip dari punggung Gunung Merapi. Cahayanya menerobos rerimbunan pepohonan. Menyatu bersama kabut, membentuk pemandangan indah. Kuning keemasan, siluet, dan hijau. Sulit menggambarkan, tapi begitu kenyataannya. 
Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat indah
Gunung Merapi dan Gunung Merbabu terlihat indah

Kualihkan pemandangan, tak lagi melihat megahnya dua gunung, malah menuju dedaunan. Cahayanya menyusup dedaunan, membentuk pemandangan indah. Mirip dengan Rays of Light. Begitulah kiranya, memang indah. 

Rasanya sudah banyak stok foto yang kuambil. Aku duduk di undakan kecil. Di depanku para pengunjung masih asyik menatap ufuk timur. Menyaksikan sisa-sisa semburat cahaya yang mulai sedikit silau. Aku berdiam diri. 

Hari sudah terang, para pengunjung masih terus berdatangan. Mentari pagi menyapa cukup lama. Ada pengunjung yang asyik berfoto di titian kayu semacam gardu pandang, ada pula yang bermain ayunan, sebagian besar lagi mencari tempat duduk untuk bersantai. 
Seberkas cahaya menerobos kabut tipis
Seberkas cahaya menerobos kabut tipis

Seperti tiga perempuan di depanku. Wajahnya sumringah, berkali-kali memotret pemandangan dengan gawai. Swafoto, hingga foto bersama dengan kawannya. Mereka di dekatku berbincang masalah asmara. Tiba-tiba telingaku nakal tetap menguping. 

“Bisa fotokan kami, mas?” Entah bagaimana caranya salah satu dari mereka sudah di depanku sembari menyodorkan gawai. 

“Ohh, bisa,” Jawabku tergagap. 

Mereka berpose menatap gawai yang kupegang. Berkali-kali kubidik, lalu kuserahkan gawainya kembali. Kami sempat berbincang sesaat. Mereka bertiga dari Madiun, sedari kemarin sudah di Magelang hanya untuk menyaksikan Sunrise di Punthuk Setumbu. 
Sekelebatan perempuan kala pagi
Sekelebatan perempuan kala pagi

***** 

Singgah di Gereja Ayam Bukit Rhema 

Agenda seharian ini memang ingin bermain ke Magelang. Sudah tersusun daftar kunjungannya. Punthuk Setumbu, Bukit Rhema, Kuliner Empal Bu Haryoko, hingga Air Terjun Kedung Kayang. Itu daftarnya, entah nanti bagaiman pelaksanaannya. 

Godaan kopi panas di Punthuk Setumbu kutepis, bergegas aku turun, lalu menunggu rombongan berkumpul. Perjalanan dari Punthuk Setumbu menuju Bukit Rhema tidak jauh. Hanya beberapa menit saja. Sebenarnya jalan kaki pun bisa karena ada jalurnya. 

Parkiran mobil di arah Bukit Rhema masih sepi. Kami semua turun, warga setempat menyambut dengan tawaran naik Jeep menuju lokasi. Semuanya sepakat naik Jeep kecuali aku. Aku berangkat jalan kaki sendiri, merekam kawan-kawan yang naik bus. 

Semburat cahaya di dekat parkir menarik perhatianku. Aku membidiknya, semburat ini mengingatkanku kala memotret Rays of Light di Boon Pring Andeman Sanankerto, Malang. Cahaya mahatari menyusup di salah satu sudut dengan tambahan kabut tipis. 
Rays of Light di dekat Bukit Rhema
Rays of Light di dekat Bukit Rhema

Selain itu tugasku adalah membayari terlebih dulu di tiket masuk. Sekali naik Jeep harganya 7.000 rupiah. Jeep meraung, mereka sudah sampai lokasi lebih dulu. Sementara aku mengurusi proses pengambilan tiket di posko. 

Petugas di posko sudah mencatat jumlah teman yang naik jeep. Aku lekas membayarnya. Satu orang masuk di Bukit Rhema seharga 20.000 rupiah. Nantinya tiket ini bisa menjadi voucher untuk memesan makanan atau minuman di restoran Bukit Rhema. 

Belum banyak pengunjung yang datang di pagi hari. Dua turis manca di depan sedang asyik memotret. Aku sendiri duduk di belakang sembari mengumpulkan tenaga. Kawan rombongan sudah masuk, mereka menunggu di dalam. 

Di puncak kepala ayam, sudah ada banyak orang yang berfoto. Biasanya untuk sampai di atas sana melewati banyak tangga. Selain itu, kita harus antre. Memang ada pembatasan jumlah pengunjung yang naik. 
Gereja Ayam Magelang
Gereja Ayam Magelang

Waktu pertama kali datang ke sini, gereja ayam ini sedang proses renovasi. Aku masuk dari sisi kiri. Kali ini semua sudah berubah. Pintu masuk dari sisi kanan, ada petugas yang berjaga. Lalu salah satu dari petugas tersebut menerangkan perihal bangunan ini. 

Tiap ruangan di sini menjadi ruang berdoa. Masuk semacam labirin dengan banyak jalur. Ada plang petunjuk arah jika kita ingin naik ke restorannya atau keluar. Di tengah-tengah, nantinya ada banyak potongan kecil. Tiap-tiap kertas ada pesan yang ditulis oleh pengunjung. 

Langkah kaki menuju bagian mahkota ayam. Ruangan aula besar masih dalam tahap renovasi. Di dinding ada banyak foto-foto dokumentasi pembangunan tempat ini. Banyak foto yang dipajang lengkap dengan keterangannya. 

Anak tangga memutar, awalnya lumayan landai. Hingga menuju puncak, anak tangga cukup tegak. Kami berkumpul satu rombongan, menunggu aba-aba dari petugas yang berjaga. Tatkala semua yang di atas sudah turun, kami baru diperbolehkan naik. 
Bagian ekor Bangunan Gereja Ayam Magelang
Bagian ekor Bangunan Gereja Ayam Magelang

Dari atas, pemandangan memang indah. Kawan-kawan silih berganti mengabadikan diri. Aku cukup mengambil rekaman untuk vlog. Dirasa sudah cukup, kami turun dan berganti menuju restoran di bagian ekor. Konon tiket kami bisa menjadi voucher. 

Perjalanan menuju restoran cukup cepat, di sini sudah banyak pengunjung. Nominal yang etrtera pada voucher kubandingkan dengan harga menu yang tersedia. Rasanya sayang jika menghabiskan untuk makan di sini. Toh kami masih ada agenda kuliner sebagai sarapan. 

Kami hanya menikmati gorengan, lalu meninggalkan restorannya. Menuruni anak tangga, hingga sampai di luar bangunan. Perjalanan masih panjang, kami bergegas menuju parkiran mobil untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya. *Magelang; Minggu, 05 Mei 2019.

38 komentar:

  1. Aw aw aw indahnya sunrisenya bikin ngiri nih. Momen yang indah menunggu sunrise dan mencari ROL

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehe, bermain ke destinasi di saat yang tepat memang menyenangkan, bang. Foto dapat, hatipun riang

      Hapus
  2. waahh aku membayangkan dari Setumbu itu nyicip pisang goreng sama teh anget, enak banget kayaknyaaa. haha

    dulu pas ke setumbu, aku nggak dapet sunrise yang cantik. kena kabut. perlu diagendakan ke sini lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di warung-warungnya bisa sambil mengopi, tapi kan kita tidak bisa bawa ke bagian gardunya. Entah kalau dibungkus

      Hapus
  3. Kangennya ke Punthuk Setumbu ini. Waktu ke sini lagi ketutupan kabut, jadi gak kelihatan sunrise-nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kudu bulan yang pas, mbak. Aku beberapa kali ke sini dan kali ini mendapatkan pemandangan yang tepat

      Hapus
  4. Foto-foto dari Punthuk Setumbu-nya keren-keren banget, Mas. Apalagi yang ada Merapi dan Merbabu itu. :)

    Baca cerita ini saya jadi inget kawan-kawan dari Jakarta yang dulu sering banget ke sana sekitar 2010-2011, waktu Punthuk Setumbu lagi ngehits-ngehitsnya. Cuma sampai sekarang entah kenapa malah belum pernah ke sana. Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun 2010-2011 masih banyak orang datang dan kemping mas. Sekarang sudah jarang yang seperti itu. Kalau pas cerah memang bisa dapat foto bagus mas

      Hapus
  5. Beberapa kali ke Punthuk Setumbu selalu memberikan kesan berbeda-beda, pernah ke sana pas viewnya bersih, pernah ke sana juga pas kabut nya agak tebal jadi agak susah mendapatkan siluet candi Borobudur.

    Saya tapi belum pernah ke Gereja Ayamnya mas. Next ah dijadwalkan ke mari hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah pas ke sini kena hujan deras ahahahaha. Sungguh perjuangan mencari tempat aman dari hujan

      Hapus
  6. aku belum pernah ke Puthuk Setumbu T_T
    pas kalian pada ke sana kok ya aku pas gak bisa ikut sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengaja biar kamu gak ikut. Padahal dulu kita punya rencana mau ke Dieng bareng-bareng ya hahahahahha

      Hapus
  7. huaaa, sudah lama gak menikmati cahaya sunrise, selama ini sunset teroos, heuheuheu

    suka banget ama foto Rays of Light gitu, dramatis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mau nyari ROL emang yang pas sunrise, kabut tipisnya menggoda, mas.

      Hapus
  8. Udah berapa kali ke Magelang, belum pernah mampir ke sini. Soalnya perginya bareng tim rebahan, jadi abis subuh lanjut molor lagi. T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus diagendakan biar dapat sunrise. Kayak waktu di Nglanggeran gitu, butuh perjuangan hahahhaha

      Hapus
  9. Kuingin suatu hari nginep di Magelang dua malam, biar bisa sanresan di Punthuk Setumbu dan juga Borobudur. Tapi cita-cita hanyalah cita-cita. Malah sekarang Corona. Siaaaaaaal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dua malam pas banget mas. Bisa lebih leluasa buat dolannya.
      Tahun ini semua agenda buyar, penting sehat dulu

      Hapus
  10. Gara-gara WFH dan gak bosen-bosennya nonton ulang AADC2, jadi inget cerita itu pas baca Punthuk Setumbu. Meski belum pernah ke sana karena kalau ke Magelang mentok-mentoknya ya cuma ke Borobudur aja, tapi sering dikirimi foto sama teman-teman yang udah beberapa kali tur ke sini dan Gereja Ayam yang terkenal itu. Kayaknya harus nginep 2 malam di Magelang deh biar puas main ke sini. Sekalian ke Mesastila. Kayaknya kok keren gitu 😁🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, sesekali menginap di Magelang agar bisa lebih leluasa menikmati waktu di sini. Banyak yang indah kok.

      Hapus
  11. Kirain kejadian baru, ternyata setahun lalu hahaha.

    Sempat ambil timelapse gak? Saya paling suka tuh timelapse sunrise atau sunset. Asik sekali melihat bagaimana matahari perlahan turun atau perlahan naik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak sempat daeng, kawan yang sempat ambil. Memang menyenangkan kalau lihat pemandangan seperti ini

      Hapus
  12. Waa tanggalnya ke sana pas ulangtahunku ituu haha. Kalau ga salah pas sama Mas Ardian bukan e mas itu?

    Ku belum pernah ke Setumbu, pernah e ke Rhema. Tapi katanya sekarang Gereja ayamnya jauuh berubah. Jadi penasaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh jadi kamu ulangtahunnya tanggal segini, baiklah. Ingat, jangan paksa mas Mawi dinihari motoran ke sini. Hahahhahahah

      Hapus
  13. Sunrisenya syahdu buanget ya ampunnnn.. Duh korona musnah kudu nyoba berburu sunrise di Setumbu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yakin bisa bangun pagi? Sepertinya saya tidak yakin ahahhahaha

      Hapus
  14. CAKEP BANGET FOTO-FOTONYA, MAS! Aku suka foto sunrise dengan lapisan kabut kayak gitu. Aku malah belum pernah sama sekali ke sini :D

    Btw yg bangunnya siang perlu dikawal tuh (tidur bareng orang yang bisa bangun pagi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeee, pemandangan asli jauh lebih bagus mas.
      Memang butuh teman yang bisa bangun subuh kalau mengejar sunrise. Sama jangan lupa bulannya kudu pas

      Hapus
  15. perpaduan antara gunung dan rona fajar selalu menciptakan kesan magis, apalagi kalau yang motret jago, seperti foto2 di artikel ini.. keren bgt foto sunrisenya... kendala utama berburu sunrise adalah pelukan udara pagi yang membuai ahaha..

    gereja ayam rame toh, di film AADC sepi ya, skrg harus antre wkwk..

    -traveler paruh waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ini siapapun yang motret pasti bagus, bang. Tinggal kita mencari tempat yang nyaman.
      Betul bang, gerejanya makin ramai dan dikelola dengan baik.

      Hapus
  16. Membaca cerita Punthuk Setumbu mengingatkan aku akan perjalanan ke sana bertahun-tahun lalu. Waktu itu gereja ayam masih jadi tempat tersembuyi. Pergi ke sana jalan kaki dari Punthuk Setumbu melewati kebun singkong. Gereja ayamnya masih jadi bangunan terbengkalai. Sekarang udah cakep dan jalan ke sana lebih baik yaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sana memang ada jalannya. Seingatku pas belum ada rumah pohon, nanti tembusnya arah tempat film aadc 2 yang menghadap ke gerejanya

      Hapus
  17. Akutih ga prnh bosen liat pemandangan Borobudur dari Puthuk setumbu ini mas. Kliatan LBH magis banget, drpd melihat lgs Borobudur. Mungkin Krn kabutnya itu yaaa . Inj kayak melihat Borobudur di masa dulu gitu :D. Pgn bangetttt ke sini. Gereja ayam aku ga tertarik, cuma si Puthuk setumbu ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih dramatis dan berkharisma. Semburat cahaya dipadu dengan kabut tipis, jadi memang menurutku bagus banget dari sini

      Hapus
  18. Tiap ada yang ngajak berburu sunrise, aku selalu menolak wakakakaka.
    Pun saat naik gunung. Anak-anak lain pada bangun dan berburu sunrise. Aku milih tetep bobok di tenda sendirian. Sungguhlah hahahahaa.

    Abis nengok vlogmu, aah seru bangeet ramean berburu sunrise dengan tante indah yang jadi model :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaaaa, memang ada kok tipe yang seperti kamu. Ternyata banyak juga yang melakukan hal sama.

      Hapus
  19. perjuangan untuk mengejar matahari pagi memang berat
    tapi hasilnya .... keindahan munculnya sang mentari memang sepadan dengan perjuangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar kang, ini spot menarik dengan rute serta jalan yang sudah bagus. Pantas kalau ramai terus

      Hapus

Pages