Sudut-Sudut Sepi Benteng Willem I Ambarawa - Nasirullah Sitam

Sudut-Sudut Sepi Benteng Willem I Ambarawa

Share This
Pesepeda melintasi Benteng Willem I Ambarawa
Pesepeda melintasi Benteng Willem I Ambarawa
Bus Patas meliuk mengikuti jalur di Pringsurat. Sesekali bermanuver menyalip truk pengangkut pasir. Setiap kali menyalip, suara klakson memberi isyarat. Aku menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Lalu terpejam. 

Samar-samar terbaca tulisan Kampoeng Kopi Banaran, ini artinya tak jauh lagi aku sampai Ambarawa. Niatku ingin turun di tepian jalan lingkar, lalu mengarahkan tujuan ke Museum Kereta Api Ambarawa. 

Bus terus melaju, aku melongok sisi kiri jalan. Pematang sawah tersaji. Bangunan tua di tengah sawah menarik perhatianku. Bangunan tersebut adalah deretan Benteng Willem I Ambarawa. Atau orang setempat mengenal dengan sebutan Benteng Pendem Ambarawa. 

Benteng Willem I berlokasi di Bugisari, Lodoyong, Kec. Ambarawa. Bangunan ini tak mencolok jika dari jalan raya. Yang terlihat hanyalah bangunan penuh semak belukar di tengah sawah. Aksesnya bisa melewati dekat RSUD Ambarawa atau jalan komplek kampung. 
Jalan kaki menuju Benteng Willem Ambarawa
Jalan kaki menuju Benteng Willem Ambarawa
Tebersit pikiranku untuk singgah ke sini terlebih dahulu. Toh nanti lokasinya hanya sepelemparan batu dengan Museum Kereta Api Ambarawa. Kuminta supir untuk berhenti tepat di jalan kecil yang mengarahkanku ke perkampungan. 

Dari sini, aku harus jalan kaki menuju benteng. Kulihat peta di gawai, lalu mengikuti jalur yang arahkan. Sampai akhirnya aku pada plang kecil kusam berbentuk anak panah dengan tulisan kecil “benteng”. Lagi-lagi aku menapaki kaki menuju destinasi sejarah tersebut. 

Sudut benteng tersebar memanjang. Pada bangunan sebelum tempat pembayaran karcis, tembok menjulang tinggi berselimut semak belukar. Tembok tersebut mencolok di antara lahan persawahan. Aku mengabadikan sesaat, lantas melanjutkan perjalanan. 

“Mau masuk mas?” Sapa seorang ibu dari arah benteng. 

Aku mengangguk. Beliau mengarahkanku pada bangunan sisi kanan benteng. Di sini ada meja kecil dilengkapi beberapa kursi. Kemudian menginformasikan jika masuk kawasan benteng Willem I ini biayanya 5.000 rupiah. 

Uang pas kuserahkan, beliau memberikan secarik kertas karcis. Kami berbincang sesaat, beliau menerangkan jika membawa kendaraan area parkirnya di depan bangunan ini. Misalkan area teras penuh, bangunan di dalam juga berfungsi sebagai tempat parkir motor. 
Lokasi retribusi sekaligus area parkir kendaraan bermesin
Lokasi retribusi sekaligus area parkir kendaraan bermesin
Tembok kusam ditempeli kertas informasi tempat pengisian baterai gawai. Selain itu juga terpasang baner terkait protokol kesehatan untuk adaptasi kebiasaan baru. Mulai arahan untuk tetap menggunakan masker, mencuci tangan menggunakan sabun, serta menjaga jarak. 

Sepanjang area Benteng Pendem Ambarawa ini dipenuhi umbul-umbul merah putih. Bulan Agustus harusnya meriah menyambut HUT RI. Hanya saja semuanya dibuat lebih sederhana karena pandemi masih mengancam. 

Seingatku tadi, ibu yang menyerahkan karcis berujar jika tempat ini masih digunakan asrama ataupun lapas. Ini terlihat gelantungan pakaian di bagian-bagian tertentu. Anak tangga untuk akses lantai atas juga terlihat kokoh. 

Sebelum masuk benteng, kulihat sisi kiri tempat wudu. Tidak kuamati lebih detail, aku terus berjalan memasuki pintu berbentuk lorong. Di seberang sana, sudah hilir-mudik para pengunjung saling berfoto. Kuhidupkan gopro, mencoba merekam untuk keperluan vlog. 

Area dalam benteng memanjang. Tanah yang ditumbuhi rumput menghijau, kontras dengan bagian tengah yang bergenang air dan tampaknya sedikit berlumpur. Barisan bendera Merah Putih terpasang di salah satu sisi bagian. 
Lorong masuk utama Benteng Willem Ambarawa
Lorong masuk utama Benteng Willem Ambarawa
Benteng Pendem Ambarawa atau yang disebut dengan nama Benteng Willem I ini dibangun para tahun 1834 hingga selesai pada tahun 1845. Pada awalnya, benteng Willem I ini digunakan untuk pertahanan saat berperang. 

Pada masa selanjutnya, Benteng Willem I ini berubah fungsi. Catatan literatur menginformasikan bahwa benteng ini pernah menjadi lapas, kembali menjadi kamp militer pada masa KNIL maupun Jepang, hingga sekarang sebagai Lapas Kelas II A. 

Pengunjung tersebar di sudut-sudut tertentu. Rombongan pesepeda sedang asyik berfoto di tengah-tengah jalan, tepat di bawah jembatan penyeberangan antar tembok yang menjulang tinggi. Mereka bergantian memotret, sesaat aku menyingkir. 

Benar kata ibu yang menjaga tiket, beliau mengatakan tiap akhir pekan banyak pesepeda yang mengunjungi destinasi sejarah tersebut. Rata-rata mereka (pesepeda) menjadikan Benteng Willem I ini sebagai spot menarik untuk berfoto. 
Bangunan Utama Fort Willem I Ambarawa
Bangunan Utama Fort Willem I Ambarawa
Kuambil gambar para pesepeda kala mengayuh pedal, menunggu momen yang tepat agar lebih bagus. Salah satu pesepeda melintas, dia ingin melihat bangunan benteng yang ada di ujung, bergegas kuambil foto untuk stok. 

“Mas, kami foto bareng-bareng ya?” Pinta salah satu rombongan. 

Aku tak keberatan, toh sedari tadi mengambil foto mereka. Lantas rombongan sepeda tersebut berbarengan mengayuh pedal mendekatiku. Aku menjadi jurufoto dadakan, berusaha mengambil sebanyak foto mereka. 

Selesa semuanya, mereka berhenti dan kami berbincang. Rombongan ini ternyata dari Salatiga. Mereka sengaja menuju Benteng Pendem dari Salatiga karena rutenya relatif datar. Kami bertukar narahubung, dan pada akhirnya foto-foto mereka kukirim melalui pesan WA. 

Di sudut-sudut tertentu benteng ini lengang. Rombongan pesepeda melanjutkan perjalanannya. Aku mengitari sedikit jalur di dalam untuk menuntaskan rasa penasaran. Jalur semacam pintu lorong kulintasi, ini ternyata mengarah keluar. 
Bertemu dengan rombongan pesepeda dari Salatiga
Bertemu dengan rombongan pesepeda dari Salatiga
Semak belukar merambat pada tiap tembok, terkadang rombongan ayam melintas. Anak-anak ayam menciap, mereka berlarian mencari mangsa. Aku kembali masuk, lalu memotret lorong tersebut dari luar. 

Bangunan satunya tampak reruntuhan tak terawat. Pilar-pilar besar menjadi penyanggah. Aku memasuki salah satu reruntuhan bangunan, melongokkan kepala melihat langit. Di sini disambut bekas sarang Laba-laba. Pun dengan bau tembok yang tak terkena sinar matahari. 

Kayu-kayu kusam, engsel dan gembok karatan menjadi pemandangan yang biasa. Sempat aku hampir terjerembab menginjak tanah labil. Untung kaki masih kokoh, yang tersisa hanyalah sepatu menjadi berubah warna. 

Pengunjung silih berganti, mereka mencari sudut-sudut yang menarik untuk dijadikan spot foto. Tak hanya rombongan pesepeda, muda-mudi di sini pun memintaku untuk diambilkan gambar, kali ini menggunakan gawai mereka sendiri. 
Pengunjung pagi didominasi muda-mudi
Pengunjung pagi didominasi muda-mudi
Di bangunan yang masih berfungsi, tampak anak tangga untuk akses ke lantai atas. Lantai atas pada dasarnya hanya digunakan oleh penghuni setempat. Sayangnya, di beberapa kesempatan kulihat pengunjung abai dengan imbauan yang tertempal di dinding. 

Pada tiap dinding dekat tangga, tertera tulisan pengunjung dilarang menaiki tangga untuk keperluan berfoto. Entah karena tidak ada petugas yang berkeliling serta kesadaran wisatawan yang kurang, sehingga mereka dengan leluasa berfoto di lantai atas. 

Lumayan lama aku menyusuri sudut-sudut benteng, melihat bangunan tua yang penuh cerita panjang. Aku duduk di hamparan rumput, menghela nafas panjang, mendengarkan suara keriuhan rombongan yang asyik bercengkerama. 

Waktuku masih panjang, keringat mulai mengering. Aku menuju jalan yang tadi kulintasi, menyapa ibu penjaga karcis, dan menyusuri sawah menuju ujung gang dekat RSUD Ambarawa. Tak jauh dari sana, destinasi tujuanku berada. 
Akses tangga naik ke lantai dua
Akses tangga naik ke lantai dua
Nyatanya terik panas membuatku menyerah. Di teras dekat Rumah Makan Padang, aku memesan ojek daring menuju Museum Kereta Api Ambarawa. Pengemudi ojek daring menanyakan apakah aku benar-benar memesan. Mungkin karena memang jarak keduanya tak jauh. 

Ojek daring datang, aku menaiki motor. Belum juga lama, melintasi jalan rel kereta api, motor berhenti. Ini adalah perjalanan terpendekku saat naik ojek daring. Kali ini waktunya aku menyusuri Museum Kereta Api Ambarawa, melihat geliatnya kala masa adaptasi kebiasaan baru. 

Jauh di benak hati, aku kembali merencanakan untuk mengunjungi Benteng Willem satunya. Benteng Willem II lokasinya tak jauh dari Alun-alun Ungaran. Sepertinya bisa kuagendakan kala menyambangi Semarang dan sekitarnya di masa mendatang. *Benteng Willem I Ambarawa; 15 Agustus 2020.

17 komentar:

  1. Kalo dipugar bentengnya mantap nih. Apalagi jadi museum hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar juga, tinggal bagaimana pengelolaannya. Destinasi ini sebenarnya menarik untuk dikembangkan

      Hapus
  2. Disanalah awal pertama kita berjumpa����, sukses mas Sitam dg Traveling Vlog-nya ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, akhirnya bertemu dengan rombongan pesepeda yang difoto. Sehat selalu pak, kalau gowes ke Jogja berkabar nggih

      Hapus
  3. Benar sekali mas, tiap hari minggu benteng ambarawa selalu dijadikan tujuan bersepeda. Aku juga pernah bersepeda dari semarang menuju benteng ini. Sebagian besar rutenya menanjak dan ramai dengan kendaraan bermotor. Tapi baliknya tinggal meluncur saja..hahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini mirip ke kaliurang kalau di Jogja, mas. Tinggal meluncur deras pas pulang. Aku pengen gowes di Semarang haaaa

      Hapus
  4. AKu pernah sekali berkunjung ke Benteng Fort Willem. Tapi ga berani naik m=ke atas padahal penasaran banget. Ngeri2 gitu sih siapa tau ada hantu hahahaha :) Jadi cukup berkeliling sebentar dan foto2 deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhahha, kalau aku sebenarnya pengen naik. Tapi pas baca ada tulisan larangan naik, kutangguhkan. Sebenarnya bagus loh foto dari atas.

      Hapus
  5. Eh ternyata bisa ke Benteng Willem pake bus jogja-semarang ya mas. Berhentinya di sebelah mananya nih biar jalannya nggak kejauhan? Aku sih kalo naik bus bawaannya tidur aja, jadi kurang peka deh memperhatikan hal penting macam gini.
    Btw, Benteng Willem ini emang cakep yak, padahal kaya dibiarin aja gitu. Mungkin mau renov juga biayanya gila dan bisa merusak cagar budaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa mbak, tepat di pertigaan kecil itu (pas sawah-sawah). Nanti memang jalan kaki sekitar 1km-an, lewat jalan rumah warga. Kemarin sengaja jalan kaki sih, biar lebih santai.

      Hapus
  6. Jadi Mas, sekarang bentengnya juga berfungsi sebagai Lapas ya?
    Kondisinya kok kayaknya nggak aman buat lapas gitu, soalnya keliatan tua banget.
    Apa nggak khawatir ambruk dan tahanannya pada kabur?

    Secara keseluruhan, bentengnya oke sih, keliatan banget bersejarahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya masih berfungsi, dan bagian luarnya digunakan untuk wisata. Destinasi tujuan para pesepeda

      Hapus
  7. Liat foto2 bangunannya, aku agak spooky mas :o. Serem juga, rasanya EMG ga bakal berani baik2 ke atas, apalagi kalo sendiri :D. Dijadiin lapas sebagian?? Waaaaah kasian amat napi yg kebagian dapet di sini :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahhaha, bagus loh mbak.
      Malah enak dong di sini, kan banyak kedengaran suara orang dolan *eh

      Hapus
  8. benteng kuno begini keren bangettt ... pastinya banyak spot menarik.
    kalau pakai sepeda enak kluyurannya ... tidak terlalu cape

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas ke sini ketemu sama teman-teman pesepeda dari Salatiga. Seru kang heeee

      Hapus
  9. Bangunannya sudah berumur banget
    Tampak tua, tapi masih kelihatan gagah
    Tiket masuknya murah banget
    Saya jadi pengen kesana nih

    BalasHapus

Pages