Menyambangi Taman Sari dan Kuliner Brongkos Bu Rini - Nasirullah Sitam

Menyambangi Taman Sari dan Kuliner Brongkos Bu Rini

Share This
Taman Sari Yogyakarta
Taman Sari Yogyakarta
Taman Sari menjadi destinasi tujuan kala akhir pekan. Perjalanan singkat di mulai dengan kuliner Empal Bu Warno. Lantas kami lanjutkan menuju Taman Sari. Sedari awal, aku sudah menawarkan istri untuk mengunjungi Taman Sari. Tapi dia masih suka naik KRL menuju Solo, hingga akhirnya akhir bulan ini terealisasikan.

Seperti biasa, istri sudah mencari beberapa destinasi tujuan. Berhubung niat kami ingin kulineran, tercetuslah mengunjungi Taman Sari, lantas makan siang di Brongkos Bu Rini. Aku sendiri tidak tahu, darimana istri mendapatkan informasi brongkos tersebut.

Dari Pasar Beringharjo, kami sengaja berjalan kaki menuju Taman Sari. Jarak yang lumayan jauh untuk kami berjalan. Beruntung, aku tahu beberapa gang kecil yang bisa menyingkat perjalanan. Tetap saja capek, karena kami memutuskan berjalan kaki.

Parkiran Taman Sari ramai pengunjung, aku mengantre untuk membeli dua tiket, lantas membayarnya menggunakan pindai kode batang. Kepada petugas, aku menginformasikan kalau membawa kamera mirrolens dan Gopro.
Memasuki area Taman Sari
Memasuki area Taman Sari
“Selama untuk kebutuhan pribadi, bukan komersil, silakan digunakan,” terang petugas.

Seingatku, sewaktu pandemi sempat mencuat perihal wisatawan yang menceritakan pengalaman ketika membawa kamera saat berkunjung ke Taman Sari. Entah ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi atau bagaimana, intinya insiden tersebut mencuat di media sosial.

Aku sendiri menginfokan terlebih dahulu agar semuanya nyaman. Tiket sudah di tangan, kami berdua mengikuti antrean masuk ke Taman Sari. Di sudut-sudut jalan, para pemandu menawarkan jasa menemani agar nantinya beliau dapat menceritakan terkait sejarah Taman Sari.

Kami berdua memutuskan berjalan sendiri tanpa pemandu. Rute pertama mencapai taman kolam. Di sini banyak wisatawan yang mengabadikan pemandangan kala siang. Aku sendiri sesekali memotret, lebih banyak bersantai melihat bangunan.

Akhir pekan di Taman Sari memang ramai. Destinasi ini menjadi tujuan para wisatawan lokal yang sedang berada di Jogja. Aku dan istri mengabadikan momen beberapa kali, lantas menapaki tiap ruas jalan, mengikuti arah wisatawan yang ada di depan.
Memotret pengunjung di Taman Sari
Memotret pengunjung di Taman Sari
Bagi kalian yang ingin lebih dalam mengetahui sejarah Taman Sari, mungkin lebih baik memanfaatkan layanan pemandu. Sehingga setiap sudut bangunan dapat dituturkan dengan baik dan jelas. Kalau hanya ingin sekadar melihat keindahannya, memang diperbolehkan.

Rata-rata, pemandu di Taman Sari sudah tua, tapi semangat beliau dalam menuturkan berbagai sejarah yang berkaitan dengan Taman Sari begitu tinggi. Di salah satu bangunan, aku mendengarkan bagaimana seorang pemandu menerangkan ruangan yang ada di Taman Sari.

Setiap pemandu dapat diidentifikasi dengan adanya tanda pengenal. Beliau menuturkan sudut-sudut bangunan dengan rinci. Sesekali diiringi tawa agar suasana jauh lebih akrab. Aku menyusuri bangunan-bangunan di Taman Sari, sesekali mengingat sebagian rute ini pernah kulintasi saat bersama teman pesepeda.

Pertama kali aku menginjakkan kaki di Taman Sari tepatnya di tahun 2007. Aku diajak kenalan kakak yang ada di Jogja. Dia kuliah arsitektur di UII. Kami menyusuri bangunan Taman Sari hingga benteng di belakang Pasar Ngasem. Suasananya kala itu masih sepi.
Para pemandu menjelaskan sejarah Taman Sari
Para pemandu menjelaskan sejarah Taman Sari
Bertahun-tahun di Jogja, aku sering melintasi tiap gang di Taman Sari. Kami blusukan dengan menggunakan sepeda. Sesekali bertemu dengan rombongan wisatawan yang mengikuti pemandu. Hari ini, aku menjadi wisatawan tersebut bersama istri.

Istri begitu antusias ketika mengunjungi Taman Sari. Kami mengikuti arus langkah rombongan. Keluar bangunan, berjalan di semacam labirin Taman Sari. Di tengah perkampungan warga, ada banyak berbagai pernak-pernik yang ditawarkan ke wisatawan.

Kampung di Taman Sari menawarkan berbagai souvenir hingga kaus sebagai cinderamata yang bisa dibeli wisatawan. Mereka senantiasa bersemangat menawarkan barang dagangannya. Harapannya, ekonomi dapat tumbuh dengan baik di kawasan Taman Sari.

Salah satu spot ikonik di Taman Sari adalah lorong panjang yang berundak. Acap kali di tengah lorong ada penyanyi jalanan yang melantunkan lagu. Mengiringi langkah wisatawan di lorong. Suaranya cukup menggema, menjadi indah.
Menyusuri lorong di area Taman Sari Jogja
Menyusuri lorong di area Taman Sari Jogja
Lorong di Taman Sari tak gelap gulita, bentuk bangunan sudah dikonsep sedemikian rupa arsitekturnya. Sehingga, di sela-sela lorong terkena sinar matahari yang menjadikan lorong tersebut tetap terkena cahaya. Dari kejauhan, bentunya menyerupai gambar hitam-putih.

Kuambil kamera, lantas memotret istri yang sedang berjalan di depan. Menurutku, menghabiskan waktu akhir pekan dengan mengunjungi destinasi wisata yang dekat merupakan keputusan tepat. Kami dapat berbincang santai lebih lepas.

Sejak beberapa bulan, istri memang acapkali mengajakku bepergian ke destinasi wisata yang terjangkau dengan transportasi umum. Ketika lokasinya tak jauh, dia rela mengajakku untuk berjalan kaki. Bagiku ini menarik, sejak awal pacaran, dia paling malas jalan kaki ataupun menaiki transportasi umum.

Perubahan ini membuatku menjadi lebih senang. Kami menghabiskan waktu bepergian dengan bus, KRL, Trans Jogja, bersepeda, hingga jalan kaki. Seperti ke Taman Sari ini, kami menaiki Trans Jogja, lantas berjalan kaki menuju lokasi.
Menuju Brongkos Bu Rini dekat Pasar Ngasem
Menuju Brongkos Bu Rini dekat Pasar Ngasem
Selesai mengelilingi Taman Sari, istri mengajakku berjalan menuju Brongkos Bu Rini di Ngasem. Dia mendapatkan informasi dari media sosial. Kami menyusuri gang yang berbatasan langsung dengan pagar pasar Ngasem. Warung Brongkos Bu Rini cukup lengang.

Sewaktu kami datang, ada tiga pengunjung yang menikmati santap siang. Mereka adalah tetangga sekitar. Dari obrolan, sepertinya pengunjung ini selesai bersepeda santai, melanjutkan makan di Brongkos Bu Rini.

Kami berdua sudah sepakat memilih menu. Istri ingin mencicipi brongkos, aku sendiri memilih soto ayam. Tak ketinggalan tempe goreng yang menjadi pelengkap. Meski menjelang siang cukup lengang, tapi kami seperti sudah saling kenal. Kami berbincang dengan sesama pengunjung, sesekali pemilik warung pun turut bergabung.
Makan siang di Brongkos Bu Rini
Makan siang di Brongkos Bu Rini
Selain rasa kulinernya, sambutan hangat dan suasana warung yang menyenangkan menurutku menjadi nilai tambah. Di brongkos Bu Rini ini, aku merasakan suasana yang jauh lebih akrab. Bahkan, salah satu ibu pengunjung pun bercerita panjang kepada kami berdua.

Tanpa terasa, sajian makanan sudah tandas. Kusesap teh panas sedikit demi sedikit. Tak ketinggalan aku mengambil video pendek untuk kuunggah di media sosial. Beberapa kawan merespon dengan bertanya lokasi warung brongkos Bu Rini.

Waktunya pulang, kami menunggu mobil di ujung gang. Mobil melaju melintasi museum Sonobudoyo yang sedang ramai. Tercetus ide istri untuk mengunjungi museum Sonobudoyo di lain waktu. Kami berdua sepakat untuk mengagendakannya. *Taman Sari; Minggu, 14 Januari 2024.

4 komentar:

  1. Tamansari emang jadi destinasi utama kalau ke jogja. Tempatnya bagus, cerita sejarahnya menarik, dan paling menyenangkan kalau blusukan ke gang-gang yang ada di sekitar tamansari. Selalu suka ke sini, meski berulang kali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi wisatawan, Taman Sari memang menjadi opsi yang menarik

      Hapus
  2. Pengen deh maen ke Taman Sari pas hari biasa biar ngerasain sepinya suasana. Bebas foto2 juga ya :) Abis muter2 langsung makan enak brongkos Bu Rini hhhmm..Semangat terus gowesnya tiada akhir :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Susah mbak hahahahhaha.
      Tapi memang kalau hari biasa cenderung lebih sepi dibanding hari libur

      Hapus

Pages