Arti Tetesan Air Hujan Part II

Sepertinya air hujan kali ini membuyarkan semua rencanaku, kemarin terlihat begitu cerah dan semalam pun tak kalah cerahnya. Dan ketika aku bangun pagi mentari juga dengan semangatnya menyapaku dan berteriak menyuruhku untuk segera berjemur.

Tapi sore ini kenapa cuaca begitu cepat berubah? Padahal aku udah bersiap-siap menuju Temanggung dan berlanjut menuju Wonosobo, tepatnya menuju Dieng. Aisshhh antara kekecewaan dan kesabaran menyatu didalam pikiranku, namun ada hal positifnya dengan hujan selebat ini mengguyur kota Jogja.

Apakah itu? Yah dengan hujan seperti ini, aku kadang bisa menulis sebuah uraian sederhana yang terekam dalam otak ini untuk kembali menulis “ARTI TETESAN HUJAN PART II”. Walau coretan ini belum tentu bagus, namun aku wajib terus berbangga karena aku masih diberikan oleh TUHAN untuk menulis. Dan aku tahu tulisan ini tidak akan pernah sia-sia, karena sejelek-jeleknya tulisan ini adalah hasil karyaku sendiri.

Tetesan air hujan kali ini mengingatkanku pada masa dimana kau mempunyai teman banyak. Mempunyai sahabat-sahabat yang perhatian dengan diriku. Aku merasa banyak persamaan antara persahabatanku dengan tetesan air hujan.

Aneh bukan? Tapi aku membuat pernyataan yang kadang tidak logis, tapi aku suka dengan pernyataanku ini.

Persamaan yang paling mencolok adalah, keakraban itu kembali. Persahabatan kami yang sempat renggang karena sesuat hal kali ini bisa kembali erat. Sama dengan tetesan air hujan yang dulu tidak mau membasahi tanah, namun kini tiap hari hujan selalu menyapa tanah dan terlihat sangat akrab.

Selain itu juga keduanya sama-sama menghapus rasa kebencian, disaat aku dan sahabatku bisa melebur kembali menjadi satu. Disaat itu pula bumi yang gersang bisa melebur karena adanya tetesan air hujan.

Entahlah, aku tidak tahu kenapa apapun yang terjadi pada diriku selalu aku samakan dengan air hujan. Setidaknya setiap tetesan air hujan ini bisa membuat aku kembali mengingat bagaimana rasa persahabatan itu tidak pernah terlepas oleh apapun. Persahabatan itu tak bertanya sejak kapan kita berteman atau berkenalan, karena persahabatan itu adalah anugrah dari TUHAN yang tak terkira harganya.
Baca juga postingan sebelumnya 
Ketika Terabaikan
Nasehat Angin Malam
Senyum, Salam, Sapa
Arti Setiap Tetesan Air Hujan
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment