Jeruk Bokor dan Keramahan Masyarakat Karimunjawa - Nasirullah Sitam

Jeruk Bokor dan Keramahan Masyarakat Karimunjawa

Share This
Siang semakin terik, aku lantas mengayuh pedalku lebih kuat. Sudah cukup lama aku berburu foto di Padang Ilalang dekat pantai Pantura, dan sebelumnya menyempatkan diri untuk ngobrol santai dengan warga setempat mengenai pembuatan kapal. Tujuanku kali ini adalah balik ke rumah untuk melepas lelah, kususuri jalanan yang tadi pagi kulewati. Sampai akhirnya, aku bertemu dengan beberapa warga yang sedang duduk di balai bambu, menikmati buah jeruk. Aku pun menyapa beliau.

“Mampir, mas!!” Teriak lelaki tanggung yang mengenaliku.

“Eh, kamu,” Aku pun menghentikan laju sepeda lalu menyalaminya.

Aku lupa namanya, tapi aku tidak asing dengan wajahnya. Dia adalah salah satu orang yang jaga Trekking Mangrove, tempat yang beberapa waktu lalu pernah aku kunjungi saat naik sepeda. Aku pun ikut nimbrung dengan mereka, sesekali kami menggunakan bahasa Bugis untuk berbicara, namun apa daya; bahasa Bugisku terlalu lama tidak kugunakan, jadi agak kaku rasanya. Dari sekian banyak orang yang berkumpul, aku hanya kenal satu orang saja. Namun, mereka semua kenal keluargaku; hanya saja tidak mengenalku *nasib jarang di rumah.

“Lemo, kak? (Jeruk, kak?)” Seorang gadis kecil mungking berumur 15 tahun menawariku sebuah Jeruk khas Karimunjawa.
Jeruk Bokor yang ada di Karimunjawa
Jeruk Bokor yang ada di Karimunjawa
Jeruk Bokor yang ada di Karimunjawa
Aku pun mengiyakan, dan mengambil satu. Jeruk Bokor adalah Jeruk khas yang ada di Karimunjawa. Besar jeruk ini sama seperti Jeruk Pontianak, namun yang membedakan adalah kulitnya yang tebal. Selain itu, Jeruk Bokor harus dikupas dengan menggunakan pisau. Jika kita paksakan untuk mengupas dengan tangan, alhasil Jeruk tersebut pasti pahit akibat kulit yang mengeluarkan air.

Uniknya lagi, menikmati Jeruk Bokor ini tidak seperti kita menikmati Jeruk Pontianak ataupun Jeruk yang manis lainnya. Di Karimunjawa, menikmati Jeruk Bokor itu dengan garam dan cabai saja. Jadi, taburan garan diberi potongan beberapa cabai. Kemudian kita cocolkan irisan Jeruk tersebut, baru dimakan. Unik, kan? Untuk rasanya, Jeruk Bokor ini cenderung segar, rasa manis bercampur dengan asam. Jadi kalian bisa membayangkan bagaimana jika rasa manis, asam, asin (garam), serta pedas (cabai) menjadi satu dilidah. Malah seperti salah satu iklan permen haaa, tapi memang seperti itu kenyataannya. Sebenarnya, kita juga bisa langsung menikmati Jeruk tersebut tanpa dengan menggunakan garam untuk merasakan rasa aslinya.
Cocolan untuk Jeruk Bokor (Cabai dan Garam).
Cocolan untuk Jeruk Bokor (Cabai dan Garam).
Menikmati setiap irisan Jeruk Bokor seraya berbincang dengan warga setempat yang berkumpul, itulah yang aku lakukan. Obrolan sekitar bertanya tentang aktifitasku (apakah masih kuliah atau sudah kerja), sampai membahas juga tentang bersepeda. Mereka pun agak terperangah saat pemuda yang kukunali tersebut menceritakan kalau pernah melihatku bersepeda ke arah Karimunjawa. Sebenarnya jarak tidak terlalu jauh sih, hanya saja mereka heran saja dengan kegemaranku. Oya lupa, salah satu balita yang dari tadi asyik melihat helm sepedaku pun tertarik untuk memakai. Dipasangkan helm tersebut dikepalanya, ekspresi dia menggunakan helm sepeda mengundang gelak tawa tersendiri bagi kami.
Tingkah lucu anak kecil memakai helm sepedaku
Tingkah lucu anak kecil memakai helm sepedaku
Tingkah lucu anak kecil memakai helm sepedaku
Terima kasih sudah mengajakku untuk singgah sejenak, menikmati Jeruk Bokor yang sudah amat lama tidak pernah aku cicipi. Sampai aku menulis ini, aku benar-benar lupa nama pemuda yang mengundangku untuk singgah. Seperti inilah rasanya ingat wajah, namun lupa nama. Pokoknya dia itu salah satu alumni sekolah di MA Safinatul Huda II Karimunjawa (sekolah dekat rumah), dan dia juga merupakan muridnya kakakku di sana.
Baca juga tulisan lainnya 

48 komentar:

  1. aku malah kayanya belum pernah makan jerum bokor mas hehe

    aku lg ngerencanain ke karimun jawa nih,soalnya td malem liat liat gambar karimun jawa eh makin kebelet pengen kesana, homestay disana ada gak yg 50 rb an permalam?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah semoga bisa terlaksana ke Karimunjawa. Rata-rata 75an mbak, tapi kemungkinan ada sih yang segitu :-)

      Hapus
  2. Kelebihan dari jeruk bokor itu apa aja mas rula? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kurang paham, mbak. Tapi rasanya segar banget loh :-D

      Hapus
  3. kulit jeruk bokor memang tidak semulus jeruk jenis lainnya yang ada di Indonesia, tetapi rasa manisnya jeruk bokor justru yang terbaik dari yang baik, belum lagi keramah tamahan warga Karimun jawa, mirip sedikit dengan keramahan saya...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heee, pada dasarnya orang Indonesia itu ramah-ramah :-D

      Hapus
  4. Wahh blogger karjaw nanti kalo saya ke sana meet up yaa kakkk


    Ntar saya kok ngeces yaa bacanya past I segerrr lemonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal haaaa, untuk sementara aku stay di Jogja. Tapi kadang juga balik Karimunjawa :-D
      Semoga bisa diagendakan :-D

      Hapus
  5. penampakan daging jeruknya kaya gmana mas?
    baru liat saya jeruk bokor ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir seperti jeruk bali, tapi kecil dan putih.

      Hapus
  6. enak ga kalo di jus? :v salam kenal mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti enak, aku dulu pernah coba ngejus heee

      Hapus
  7. Kalo versi besarnya jeruk bali yah mas

    BalasHapus
  8. Perasaan dirumahku juga ada jeruk kayak gituaan,,, tapi menurtku sih rasanya lebih banyak asemnya deh, yah mungkin karena belum mateng kali yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah enak tuh, jeruk ini memang dimakan saat masih hijau kulitnya. Yang membedakan tua atau muda adalah tekstur kulitnya yang agak mengkilap berarti sudah siap dimakan. Kalau kuning nanti tidak enak dimakan karena dalamnya kering.

      Hapus
  9. baru tahu kalau ada nama jeruk bokor :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin di tempat lain namanya beda :-D

      Hapus
  10. Jadi kamu ama lelaki tanggung itu akhirnya jadian gitu ???? hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahhh, kalau sama adeknya (yang cewek) mau aku, om *eh

      Hapus
  11. widih.. sejenis kearifan lokal kah?

    BalasHapus
  12. Wew... wah lihat jeruk bibirnya gimana gitu rasanya.. wwkwkw

    BalasHapus
  13. wah kayaknya asemnya mantap ms hehehe....

    BalasHapus
  14. Rasanya belum pernah makan jeruk bokor itu deh, jadi kemecer :) .. itu jeruknya Organik ya mas? atau?

    BalasHapus
  15. Kayanya enak nih jeruk bokor, duh jadi penasaran.. thanks ya mba infonya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  16. Balasan
    1. Rasanya seger-seger gimana gitu, mas :-D

      Hapus
  17. aku baca sambil "mouthwatering" aka "ngiler" rasa asam, segar dan sedikit manis di tambah campuran garam dan sedikit cabe rawit "thnk's mas bikin sukses" ngidam wkwkw

    BalasHapus
  18. akunya malah jadi netesin liur gara gara liat jeruknya. enak banget itu kalo dicampur ama es. slurupssss

    BalasHapus
  19. Kemarin pas mudik pingn mampirin karimun, sayang waktunya gak pas :|
    Pernah nyobain naik susi air nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah harusnya mampir hehhehe, sudah mbak. Waktu dari Karimunjawa - Semarang saya naik Susi Air :-D

      Hapus
  20. Sekali ini dan berkat baca postingan ini mas, saya tau kalau jenis jeruk itu ada yang namanya jeruk Bokor... Oh ya mas, mungkin rasa jeruk ini kalau kita cocol pakai garam, mirip dengan rasa permen Nan* yang manis, asam, asin.. HaHa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeee, pokoknya kalo lagi Sariawan, langsung bisa merasakan nikmatnya dalam kepedihan hahahhaha

      Hapus
  21. Jeruk bokor kalau untuk kremabath rambut enak mas, pernah nyoba ? lumayan kalu buat terpi ini mah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum kang, wah baru dengar malahan hehhehheh

      Hapus
  22. Jeruk bokor istimewa, media penyambung keramahtamahan yang Mas Rullah alami yaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heeee, Jeruknya memang membuatku terkenang masa selama di Karimunjawa, mas :-D

      Hapus
  23. bentuknya mirip jeruk yang sering digunakan untuk campuran sambal (jeruk purut), tapi kok kayaknya bisa dimakan atau buat minuman ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini sebesar jeruk pontianak, hehehhehe. Kalo Jeruk Purut dia kecil :-D

      Hapus

Pages