Asyiknya Liburan di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri - Nasirullah Sitam

Asyiknya Liburan di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri

Share This
Bersepeda di jalanan Desa Wisata Kebonagung Imogiri, Bantul
Bersepeda di jalanan Desa Wisata Kebonagung Imogiri, Bantul
Sebenarnya akhir pekan ini aku tidak ada agenda yang jelas. Sempat menerima ajakan teman untuk ngecamp di salah spot yang berada di Mangunan, namun mendadak gagal. Tanpa sengaja ada tawaran untuk menginap di desa wisata. Aku langsung menerima tawaran tersebut. Terlebih tidak ada perjanjian untuk menulis di blog. Lagi pula yang menawari aku ke desa wisata adalah mitra.

“Desa wisata mana?” Aku sudah menyetujui ajakan tapi belum tahu lokasinya.

“Desa Wisata Kebonagung, Imogiri, mas.”

Aku kegirangan, ini artinya ada waktu bagiku menepi dari keramaian kota Jogja untuk sementara waktu. Tawaran ini bertepatan dengan waktu aku membeli beberapa koleksi buku. Sehingga aku bisa memanfaatkan waktu selama di sana dengan membaca buku. Aku sendiri pernah bersepedaan ke Desa Wisata Kebonagung, Imogiri waktu baru membeli sepeda. Dulu sempat berfoto di Tegal Bendung, lalu melanjutkan perjalanan ke Jembatan Gantung Selopamioro. Lokasi desa wisata ini memang tidak jauh dari Jembatan Gantung Selopamioro maupun kawasan Makam Imogiri.

Dari informasi warga setempat, awalnya Desa Wisata Kebonagung ini dikembangkan pada tahun 1998. Sebenarnya pengembangan yang pertama kali adalah Bendung Tegal. Di sana diadakan event Dayung. Namun event tersebut tidak berlangsung lama, sehingga warga setempat mulai berinisiatif untuk menjadikan Kebonagung sebagai desa wisata. Hingga sampai sekarang ini masih berjalan.

Aku akan tulis pengalamanku selama di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri nanti satu-persatu di blog. Sementara ini aku tulis daftar agenda yang kulakukan selama di sana. Selama dua hari, beberapa kegiatan yang aku ikuti selama di desa wisata ini banyak banget. Setiap kegiatan ini menjadi aktifitas sehari-hari para wisatawan yang menginap di sini. Adapun kegiatannya antara lain:

Berkunjung ke Museum Tani Jawa
Setiap wisatawan yang ingin menginap di Desa Wisata Kebonagung biasanya singgah di Museum Tani Jawa. Lokasi museum di dusun Candran, Kebonagung, Imogiri ini berdiri pada tahun 2005. Setelah gempa, museum ini kembali didirikan. Di dalam museum yang aku lihat adalah berbagai alat tani yang masih tradisional. Jangan salah, walau museum ini kecil, tapi banyak wisawatan manca yang berkunjung. Rata-rata mereka adalah tamu yang akan menginap di sini.
Yang lain pda masuk Museum tani, aku malah berfoto di depannya
Yang lain pda masuk Museum tani, aku malah berfoto di depannya

Melihat penduduk setempat bertani
Desa wisata Kebonagung ini cukup luas. Setiap jalur jalannya hampir sebagian besar adalah lahan sawah. Jadi jangan kaget jika di sini kalian nantinya akan melihat aktifitas warga yang sedang memanen padi atau malah sedang menanam padi. Aku sarankan kalian yang berkunjung di sini berinterasi dengan penduduk setempat. Beliau sangat ramah dan menghormati para tamu yang berkunjung.
Musim panen Padi di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri
Musim panen Padi di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri
“Itu masnya mau motret, menghadap ke kamera bu!” Teriak bapak-bapak sedang menggiling padi ke arah ibu dengan berbahasa Jawa.

Aku tertawa mendengar teriakan bapak sambil mengucapkan terima kasih telah sudi aku abadikan.

Keliling kampung naik sepeda ontel
Ini adalah salah satu aktifitas yang paling aku sukai. Biasanya akhir pekan aku bersepeda menggunakan sepedaku. Kali ini selama di Desa Wisata Kebonagung aku menggunakan transportasi sepeda yang disediakan oleh pihak pengelola desa wisata. Asyiknya di sini adalah bersepeda menyusuri jalan-jalan kampung dan menyapa penduduk setempat. Hampir sebagian besar sepeda yang disediakan adalah sepeda ontel/onta.
Sepedaan keliling kampung dan meyapa warga setempat
Sepedaan keliling kampung dan meyapa warga setempat
Bisa dibayangkan bagaimana serunya berkeliling naik sepeda, menikmati angin sepoi, jauh dari keramaian kendaraan bermesin, dan tentunya menikmati kelapa muda di tepian sawah. Sebenarnya ini adalah foto pencitraan saat baca buku. Tapi untuk bersepeda dan menikmati Kelapa muda bukan sebuah pencitraan.

Belajar membatik
Ada kegiatan membuat batik dan membuat gerabah dari tanah liat di sini. Aku lebih memilih membatik. Dibantu oleh warga setempat yang sudah mempersiapkan Canting, kain yang sudah digambar, dan peralatan lainnya. Aku mulai beraksi membatik. Jika kalian ingin membatik sendiri dan ingin menggambar sendiri juga dipersilahkan. Setiap hasil karya kita nantinya diberikan secara gratis saat akan pulang. Jadi jangan lupa kalian mencantumkan nama pada hasil batiknya.
Membuat gerabah dari tanah liat
Membuat gerabah dari tanah liat
Membatik. Ini bukan hasil karyaku
Membatik. Ini bukan hasil karyaku
Indah bukan hasil membatiknya? Ini bukan hasil karyaku. Hasil karyaku masih dijemur. Ini hasil karya salah satu pengunjung yang sedang dijemur namun aku pinjam buat berfoto. Modus!!

Makan Ingkung dan ikut Kenduren
Satu hal yang paling kuingat adalah acara makan malamnya. Aku berkumpul dengan rombongan lain yang sudah siap untuk makan malam di salah satu pendopo. Di sini makan malam bergabung menjadi satu, tidak seperti makan siang atau sarapan yang disediakan pihak rumah masing-masing. Makan malam kali ini adalah Kenduren. Kenduren/selametan adalah tradisi Jawa secara turun-temurun sudah dilakukan. Diawali dengan berdoa dan makan bersama.
Memakai Iket Kepala
Memakai Iket Kepala
Ingkungnya menggoda sekali
Ingkungnya menggoda sekali
Uniknya, setiap orang yang ikut Kenduren dan akan makan ayam Ingkung harus mengingat kepalanya menggunakan kain iket. Akupun dipasangkan kain iket sebelum bergabung makan dengan yang lainnya. Dan iket kepalan ini menjadi milikku karena dibagikan secara gratis. Lumayan dapat gratis lagi.

Menanam Padi dan membajak sawah
Sepertinya ini adalah aktifitas yang paling disukai para wisatawan selama di desa wisata Kebonagung. Pagi hari aku diajak menuju sawah. Di sana aku dan rombongan lain praktek menanam padi. Setiap wisatawan biasanya antusias untuk mencobanya. Aku juga tidak mau ketinggalan. Selain menanam padi, aku juga ikut membajak sawah menggunakan alat bajak tradisional yang ditarik dua ekor Kerbau.
Membajak sawah naik Luku
Membajak sawah naik Luku
Kalau dalam bahasa Jawa, alat untuk membajak sawah ini namanya Luku. Seru banget bisa main lumpur dan membajak sawah. Ini adalah kali pertama aku membajak sawah. Dulu waktu kecil sih pernah membajak kebun untuk Kacang tanah juga menggunakan Luku. Selain itu, menanam padi juga menjadi aktifitas pertamaku.

Karawitan/main gamelan
Tentu kalian pernah dengar suara tabuhan gamelan. Hampir setiap ada event budaya di Jogja, suara tabuhan gamelan biasanya menyertai acara tersebut saat pembukaan atau sat ada pentas tari. Aku beruntung ketika berkunjung di sini sempat berbaur dengan kelompok lain yang sedang main gamelan/karawitan.
Karawitan dulu, fokus pada arahan pendamping sambil liat angka yang mau diketuk
Karawitan dulu, fokus pada arahan pendamping sambil liat angka yang mau diketuk
Didampingi empat bapak yang mengarahkan kami memukul tiap alat musik tersebut. Seorang bapak di depan tak henti-hentinya mengintruksikan pada kami untuk memukul alatnya. Bagi kalian yang awam seperti aku tak jadi masalah. Cukup melihat angka yang tertera di atas alat musik sembari mendengarkan ucapan pendamping di depan.

“Tu, Ji, Lu, Nem,” Begitulah suara pendamping sambil membawa sebuah batang kayu kecil yang dipukulkan pada tulisan papan tulis.

Lu: Telu (Tiga), Ji: Siji (Satu), Lu: Telu (Tiga), Nem: Enem (Enam). Setiap angka disebut menggunakan bahasa Jawa.

Sedikit ulasan itu adalah kegiatanku selama dua hari di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri. Rencananya kegiatan yang berkunjung ke Museum Tani dan Membajak Sawah akan aku ceritakan lebih lengkap nantinya di blog. Bagaimana? Tertarik mengisi waktu libur dengan menginap di sini? Silakan berkunjung ke Desa Wisata Kebonagung dan menikmati setiap kegiatan di desa. *Berlibur di Desa Wisata Kebonagung, Imogiri pada hari Sabtu – Minggu; 17 – 18 September 2016.
Baca juga tulisan bertema Budaya lainnya 

51 komentar:

  1. Masih misterius tuuu yang ngajakin mitra mana :)
    Wuhh cedak banget sama omahku mas, tinggal nyebrangi kali opak

    Acarane penuh edukasi e... meenarik sekali :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pokoknya ada deh ahhahaha. Sengaja nggak kabar-kabar agar bisa lebih fokus bareng warga kampung :-)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Kembali mengenang masa kecil dan menikmatinya sebagai liburan kala kita terjebak dirutinitas kantor yang tinggi.

      Hapus
  3. Liburan yang betul-betul kembali ke desa ya, Mas. Banyak kegiatan untuk melepas kepenatan dan membangun sosialisasi dengan masyarakat sekitar, belum lagi pemandangan sekitar memang bagus banget buat foto-foto back to nature, hehe. Eh tapi saya tertarik banget makan ayam ingkungnya, ingkung sendiri artinya apa ya Mas? Ditunggu cerita lengkapnya ya Mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhehe, ikung itu adalah ayam yang sudah matang dan belum dipotong. Di Jogja ada banyak tempat seperti ini, menyediakan Ingkung :-D

      Hapus
  4. Ayam ingkung ini kayak bekakak ayam kalo di gresik, biasa nya juga kalo ada kenduren

    Aku merindu tinggal di daerah persawahan merasakan kedamaian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kenduren itu serunya bisa akrabd engan warga setempat om :-)

      Hapus
  5. Ayam Ingkung? baru denger unik namanya tapi kok harus pake iket kepala kenapa? ada mitos apa dibalik itu #kepoakut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhe, di sini memang harus pakai iket kepala. Katanya melakukan apa yang dilakukan oleh orang sebelumnya. Tradisinya masih tetap dipakai.

      Hapus
  6. Wisatanya lengkap ya mas, mulai dari belajar mbatik, cicipin kuliner, sampai lihat kegiatan bertani warga sekitar. Jangan lupa menghadap kamera, mau difoto! Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang fotoku itu tetep pakai pencitraan, mbak hahhaha

      Hapus
  7. Degannya seger tuh, pas rasanya kalo siang siang gini minum degan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget hehehe. Segar dan rasanya ajib airnya.

      Hapus
  8. ngontel di desa emang menyenangkan. ga punya kampung halaman :D
    thu sendirian ya mas?
    *kliatan foto pertamanya..itu kamera di timer yaa..hehhee :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sendirian. Pas nggak bawa tripod juga hehehhe

      Hapus
  9. ayam ingkungnya menggoda banget tuh bang :D
    Liburan di desa memang menyenangkan, apalagi jika melihat orang orang desa dengan santainya menjemur dan menggiling padi di pinggir jalan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa berinteraksi dengan warga setempat juga :-)

      Hapus
  10. Wow, semua kegiatan disini sederhana n membumi banget ya.
    Suka banget sama liburan ala warga lokal. Jadi lebih kenal n dekat sama orang-orang disana karena nyemplung langsung dikegiatan warga lokalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyenangkan banget sih bisa seperti ini lagi hehehe

      Hapus
  11. wah seru bgt kegiatannya mas. maaf baru sempat jalan2 blog euy. :'D

    BalasHapus
  12. huaaa ada ayam ingkung....
    udah lama banget gak makan itu
    di lombok enggak ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Jogja lagi mas, hahahaha. Nnati banyak desa wisata yang menyajikan Ingkung:-D

      Hapus
  13. bagus sekali konsepnya
    seharusnya konsep desa wisata seperti ini di aplikasikan di desa2 lain .. pasti dapat menaikkan perekonomian warga setempat, selain dapat income dari pertanian juga menndapatkan income dari pariwisata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jogja khususnya wilayah Sleman sudah maju untuk Desa Wisatanya kang :-)

      Hapus
  14. hmm ingkung e marakke ngiler mas :D

    BalasHapus
  15. masih kental ya suasana tradisionalnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu jadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan

      Hapus
  16. Aku pengen banget ke museum tani tapi lom sempet juga, salut deh mas Sitam mau mengeksplore Bantul, lanjutkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhee, ini nggak sengaja sekalian ke sini mbak :-D

      Hapus
  17. Asik sekali berlibur di desa. Keren nih desa Kebonagung. Wisatawan terhibur, warga dapat benefit juga tentunya, :)
    Perkiraan biayanya berapa mas Nasirullah?

    BalasHapus
  18. Aku agak takut kalau ke Imogiri :|
    Terakhir ke sana dan makndredeg ada yang "lewat."
    Langsung ngibrit bubar jalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, sepertinya nggaks engaja lewat itu mbak :-D

      Hapus
    2. Selama nggak aneh-aneh, tetep aman kok :-D

      Hapus
  19. Wah tadi komen pake akun G+ Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehhe, berarti ini kome bonus dong kakakakakka

      Hapus
  20. sepedaan keliling kampung dong kece badai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaa, mumpung ada kesempatan ini, jadi benar-benar dimanfaatkan :-D

      Hapus
  21. Syahdu banget kalau lihat pedesaan :-)
    jadi rindu kampung halaman. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mas, aku juga seringnya keingat rumah kalau seperti ini :-D

      Hapus
  22. waahh...aku penasaran pingin naik sepeda onthel.. selama ini naik sepeda keranjang 20inch biasa aja. gakberani naik onthel karena kok tinggi banget. nggak pede.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepeda lipat? Pilih sepeda yang nyaman mbak. Kalau misalnya naik sepeda seperti ini diharuskan memakai pakaian yang nyaman karena banyak geraknya.

      Hapus
  23. Dananya brp Mas untuk kegiatan 2 hari di desa wisata ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kurang tahu pastinya karena pas ke sini tidak bayar. Tapi setahuku dari perbincangan rata-rata perorang kena 100k/hari.

      Hapus
  24. Itu kalau nggak rombongan, misalnya cuma sekeluarga kecil dilayani nggak ya? Misalnya mau belajar batik apa juga boleh dengan rombongan kecil gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa kok mbak. Kemarin pas aku ke sana ada 2 bule saja dan dilayani :-)

      Hapus
  25. Sejenak menepi dari kota, menhikmati kehidupan bersama masyarakat desa sperti ini asyik ya, Mas. Saya belum pernah kemari. Beberapa kalau ke Desa Wisata Brayut, Sleman.

    >> Ohya, saya berkunjung ke post yang terbaru kok muter saja internetnya, ke sini ee lancar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berkunjung ke sini pak. Saya juga baru beberapa tempat desa wisata di DIY yang kukunjungi.

      Sekarangs udah baikan kok artikel terbaru pak :-)

      Hapus

Pages