Destinasi Liburan di Agrowisata Bhumi Merapi - Nasirullah Sitam

Destinasi Liburan di Agrowisata Bhumi Merapi

Share This
Agrowisata Bhumi Merapi Sleman
Agrowisata Bhumi Merapi Sleman

Suara pemandu sayup-sayup menghilang. Aku tertidur bersandar dinding bus yang melaju pelan. Dari Sua Coffee, rombongan bus yang diundang Dinas Pariwisata Sleman menikmati perjalanan singkat menuju sekitaran Kaliurang. 

Agrowisata Bhumi Merapi menjadi tujuan pertama. Tempat wisata edukasi yang berlokasi di Jalan Kaliurang KM 20 Sawangan, Pakem. Nama ini pernah samar terdengar di telingaku. Jika tidak salah, ada kawan beserta keluarganya yang pernah liburan di destinasi tersebut. 

Bus terus melaju pelan. Dari jendela terkadang kulihat pesepeda yang turun dari arah Kaliurang. Sesaat bus berhenti, kulongokkan pandangan. Ini sudah di pintu masuk kawasan Kaliurang. Perwakilan dari Dinpar Sleman turun menyelesaikan administrasi. 

Perjalanan berlanjut, pemandu kembali mengabarkan jika destinasi pertama sudah dekat. Lokasi berada di sisi kanan jalan. Benar adanya, Agrowisata Bhumi Merapi tidak jauh dari jalan besar. Di parkiran sudah ada beberapa bus, salah satunya Bus Patas Nusantara. 

Kami disambut pengelola agrowisata. Rombongan satu bus mendengarkan keterangan terkait Agrowisata ini. Aku sendiri tak banyak mendengar. Pandanganku fokus melihat para keluarga yang membawa anaknya untuk berlibur. 

Agrowisata Bhumi Merapi memang destinasi baru. Karena konsepnya ini membuat banyak keluarga yang berminat mengajak keluarganya bermain ke sini. Untuk tiket masuk, jika tidak salah harganya 20.000 rupiah. 

Lahan seluas 6.5 hektare ini disulap pengelola menjadi tempat wisata keluarga. Selain berkonsep wisata edukasi untuk anak-anak, pengelola juga menyediakan tempat kemping, fasilitas mancakrida (outbond), dan yang lainnya. 
Kawasan Agrowisata Bhumi Merapi dilarang merokok
Kawasan Agrowisata Bhumi Merapi dilarang merokok

Demi mendukung destinasi wisata ramah anak, Agrowisata Bhumi Merapi membuat aturan larangan merokok di area tersebut. Ada spanduk yang tersemat pada pepohonan yang bertuliskan larangan merokok. 

Aku masih termangu duduk di kursi belakang. Menunggu komando berkeliling dari pemandu. Sebagian kawan cukup antusias mendengarkan penjelasan dari pengelola. Suara teriakan anak-anak jauh lebih dominan masuk pendengaranku. 

Menyusuri Kawasan Hewan Peliharaan 

Usai berbincang, pengelola agrowisata mengajak kami berkeliling. Aku turut di rombongan, menyusuri jalur jalan kaki yang sudah tertata rapi. Kami melintasi semacam sungai kecil, di sana terdapat petilasan. Entah, di bawah itu namanya apa. Aku tidak sempat mendokumentasikannya. 

Spot foto mulai ramai dijadikan tempat berfoto. Kunaiki anak tangga yang mengarahkan kami pada area kecil yang lumayan ramai pengunjungnya. Hilir-mudik kelinci-kelinci berlarian. Di depan area masuk, disediakan wortel untuk dijual ke pengunjung yang ingin memberi makan. 

Satu bungkus wortel harganya 5000 rupiah. Ada pengunjung yang beli. Lumayan banyak yang antusias bermain di sini. Anak kecil maupun remaja sibuk mengejar kelinci. Kelinci-kelinci berlarian ke sudut untuk bersembunyi. 

Banyak juga kelinci yang berkeliaran. Ada juga yang berada di dalam sangkar. Setiap sangkar hanya ditempati satu kelinci. Di sinilah anak-anak kecil bersuka ria dengan memberi makan potongan wortel yang sudah dibeli. 
Anak kecil melihat Kelinci dalam sangkar
Anak kecil melihat Kelinci dalam sangkar

Seorang anak berumur kurang dari tiga tahun memegang potongan wortel. Sang ibu mendekatkan pada salah satu sangkar. Mereka berdua berharap kelinci merespon dengan makan wortel yang disodorkan. 

Benar adanya, tempat ini memang lebih banyak dikunjungi para keluarga. Bhumi Merapi menjadi salah satu opsi tempat berwisata di Jogja yang menarik bagi keluarga. Mereka semua tampak bergembira dengan aktivitasnya. 

Berdekatan dengan kandang Kelinci terdapat penangkaran besar yang berisi kucing. Aku lupa jenis kucingnya. Kalau terlihat, kucing-kucing ini lebih agresif. Di sebelahnya lagi penangkaran burung. 

Area penangkaran burung ramai juga pengunjung yang berfoto. Banyak yang ingin foto bareng burung. Aku sendiri merasa tempat ini terlalu kecil jika dikunjungi banyak orang. Pengunjung ramai memotret burung hantu, aku malah melihat burung-burung kecil yang tak merasa terganggu kala kupotret. 

Rombongan terus berjalan, area di sini memang dominan hewan. Ada juga luwak dan yang lainnya. Kandang Luwak agak lebih besar dan panggung. Beberapa hewan tersebut kelihatan, ada juga yang sedang sembunyi ataupun tertidur. 
Melintasi kandang Luwak
Melintasi kandang Luwak

Pada sangkar depan, tertulis larangan memberi makan hewan ini. Aku melintas di antara lorong kandangnya. Sesekali melirik apakah hewan tersebut sedang tidur atau malah melongok. Kucepatkan langkahku menyusul rombongan yang sudah pindah tempat. 

Seingatku, ada juga tempat kambing Etawa, lalu melintas ke arah koleksi hewan reptil. Di sini ada beberapa koleksi ular; mulai yang berbisa ataupun ular piton. Ular piton yang menjadi koleksi di sini sangat besar. Aku beberapa kali ikut memegangnya. 

Selain di kandang tertutup, ada juga hewan yang berlokasi di kandang terbuka. Rusa-rusa kecil ini berlokasi agak jauh dari kandang hewan yang lainnya. Mereka di kandang terbuka dan berlokasi dekat dengan jalan. Banyak keluarga yang memberi makan rusa-rusa jinak tersebut. 

Di selingan kandang hewan, tersempil lahan kecil yang berisi aneka bunga. Kita bisa memilih bunga yang ingin dibawa pulang dengan membayar di bagian kasir. Tidak banyak ragam bunganya. Mungkin suatu saat bisa ditambahi jenis bunga tersebut. 
Memberi makan rusa di kandang luar
Memberi makan rusa di kandang luar

Lorong Spot Foto Beragam Warna 

Area yang lebih banyak hewan ini memang sudah lebih dulu ada dibanding sisi satunya. Di bagian sisi yang lain ada tenpat untuk swafoto. Rumah-rumah kecil layaknya hobbit, atau tulisan Agrowisata Bhumi Merapi pun menjadi spot berfoto. 

Tidak ketinggalan tempat istirahat semacam gazebo yang berderetan untuk berteduh. Ada lahan kecil yang bisa dimanfaatkan anak kecil untuk bermain. Memang tidak lengkap, tapi lumayan jika membawa anak kecil bisa mendapatkan lahan bermain. 

Aku tercecer dari rombongan yang sudah masuk ke lorong spot foto. Lorong ini lebih banyak dikunjungi remaja ataupun muda-mudi. Mereka ingin berfoto di tiap sudut yang menurutnya menarik dijadikan latar foto. 
Area berfoto di sepanjang bangunan Agrowisata Bhumi Merapi
Area berfoto di sepanjang bangunan Agrowisata Bhumi Merapi

Lorong ini jalannya tidak luas, berkisar lebar 1.5 meter penuh dengan tembok yang sudah dikonsep sedemikian rupa. Entahlah, pikiranku malah teringat waktu berkunjung ke Museum Angkot, khususnya pada jalan yang dikonsep di beberapa kota besar di dunia. 

Ada tambahan tiket untuk menyusuri kawasan ini. Setiap orang dikenail tiket tambahan 10.000 rupiah. Nantinya tiap pengunjung yang masuk mendapatkan tanda pengenal dengan stempel pada lengan. Aku turut dalam keramaian, melihat pengunjung yang menahan panas berfoto di spot-spot tertentu. 

Berbagai replika menunjukkan kawasan Eropa. Mulai dari susunan batu bata merah, telepon umum ala London yang berwarna merah, area kawasan di Swiss, hingga rumah-rumah ala Mediterrania. Konon di beberapa spot ini juga menyediakan persewaan kostum. 

Jujur, siang ini sangat terik. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu duduk di tempat yang teduh. Melihat keramaian muda-mudi yang antusias antre berfoto di spot tertentu. Pun dengan dua gadis yang tidak sengaja ketemu denganku di pintu masuk. 

Kami berbincang, sesekali memotret mereka berdua ataupun sendiri-sendiri. Entahlah, aku tidak tahu kawan ini dari nama ataupun siapa namanya. Kami hanya berbincang sesaat, memintaku untuk memotret, lalu kami berpisah. 
Berfoto di spot warna-warni
Berfoto di spot warna-warni

***** 

Tak kutuntaskan mengelilingi lorong warna ini. Siang yang terik mengalahkan niatku menyusuri hingga pintu keluar. Aku balik arah melalui pintu masuk, berbincang dengan petugas yang menjaga, melihat kesibukan dua orang tersebut. 

Kuucapkan terima kasih dan mencari tempat yang lumayan teduh. Di sini, pepohonan masih belum besar, jadi belum sepenuhnya teduh. Aku beserta beberapa kawan rombongan duduk di bawah pohon, melihat orang-orang yang berdatangan. 

Bagiku pribadi, Bhumi Merapi menjadi destinasi pilihan yang menarik bagi keluarga yang tidak ingin bermain jauh-jauh dari Jogja. Konsep edukasi yang diterapkan menjadi daya tarik tersendiri. Tempat ini masih baru, jadi masih ada bagian yang belum rindang. 

Sedikit masukan dariku mungkin terkait musola. Jika tidak salah, lokasi musola ada di sekitaran kawasan dekat tempat hewan peliharaan. Mungkin lokasinya bisa diubah ke bagian depan, atau malah di dekat area tulisan Bhumi Merapi. Ini hanya sekadar saran saja. 

Rombongan sudah berkumpul, mereka membentangkan spanduk yang dibawa sedari pagi. Aku tak ikut berfoto, hanya mengabadikan dari bawah pepohonan. Selepas ini masih ada destinasi kunjungan yang kami singgahi. Salah satunya ke Ullen Sentalu. *Agrowisata Bhumi Merapi Sleman; Minggu, 23 Februari 2020.

38 komentar:

  1. Saya benar-benar ketinggalan kalau tempat tempat wisata di Yogya meski sering ke sana. Soalnya saya biasanya ke Yogya untuk urusan kerjaan jadi memang kalau siang hari fokusnya untuk kerja. Next time kalau ajak keluarga ke Yogya bisa coba coba main ke taman agrowisata ah. Terima kasih atas reviewnya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tahu ini juga karena kawan saya. Terus ada undangan buat dolan abreng, sekalian jadiin konten ahhahahah

      Hapus
  2. Melihat destinasi wisata ini, saya jadi tahu ternyata masih banyak tempat wisata yang belum saya kunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pun dengan saya sendiri, banyak juga destinasi yang belum saya kunjungi di Jogja

      Hapus
  3. ooohh. tempat ini kayaknya pernah viral dengan tampilan yg mirip di yunani itu ya mas.
    tempatnya bagus, aku suka sih. tapi terlalu rame, mungkin aku nanti bisa siasati dengan datang pas weekdays.
    itu yang pas ngasih makan rusa, berarti pengunjung masuk ke kandang rusa gitu ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah nggak tahu hahahahhaha. Soalnya, pas di sini panas. Terus aku mlipir ke bawah pohon buat nunggu rombongan.

      Hapus
  4. Udah lama banget nggak ke Jogja hehehe..
    Makin banyak aja wisata di Jogja, makin nambah tiap taunnya mas :)
    bikin yg pernah datang ke jogja gak bosen sama Jogja

    dJangki | Avant Garde

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Jogja selepas pandemi pasti menyenangkan ahhahaha. Bisa bawa keluarga ke sini

      Hapus
  5. wah bhumi merapi, udah kutandai di google maps, rencananya mau kesini ngajak anak anak pas libur lebaran kemarin, namun sayang sekali gak bisa mudik, heuheuheuheu,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha, ternyata kamu sudah tahu lebih dulu, mas. Aku malah baru tahu tahun ini Bhumi Merapi haaaaa

      Hapus
  6. Konsep tempat cakep untuk latar foto masih dominan di beberapa destinasi wisata di Indonesia ya. Padahal menurutku, lereng merapi sendiri juga cakep lho untuk jadi latar foto. Entah, aku kok bosen dengan konsep bangunan dummy warna-warni begini.

    Eh tapi, kalau udah masuk masa new normal, konsep begini masih relevan ndak ya,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas sebelum pandemi, tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit dikunjungi. Entah nanti kalu sudah selepas covid-19. Semoga geliatnya juga bagus

      Hapus
  7. Konsep edukasi agro-nya menarik, Mas Sitam. Tapi menurut saya bangunan warna-warni tempat berfoto itu malah bikin karakter tempat ini jadi kurang kuat. Seandainya difokuskan pada edukasi pertanian dan peternakan, mungkin ditambah dengan aktivitas-aktivitas menarik, mungkin akan lebih baik. Jadinya lebih segmented mungkin, tapi pengunjung akan loyal dan bisa berulang-ulang ke sana. Ah, tapi mungkin pengelola punya pertimbangan tersendiri. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, sepakat dengan pendapat kamu. Jika difokuskan peternakan dan pertanian, pasti sangat menyenangkan. Konsep itu sepertinya di Jogja belum ada.

      Hapus
  8. Baru pernah denger bhumi merapi ini Mas. Keren ya wisata edukasi yg ramah anak begini, ada larangan buat ngorkok juga. Tp sygnya kurang suka sm spot wrna warni itu, lah ya siapa aku komen2 konsep segala🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segmen spot foto memang menjadi turun temurun. Banyak tempat menduplikat konsep yang sama. Jadinya sekarang menjadi biasa.

      Hapus
  9. Baru denger juga tempat ini. Tapi di situ cuma ada hewan2 aja ya? Biasanya kalo agrowisata kan ada kebun buah trus kita bisa petik sendiri buahnya wkwk gitu gak sih?
    Sekarang banyak banget tempat wisata yang bertema eropa2an gitu yaa. Kenapa dia harus bayar lagi kan cuma buat foto :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seingatku ada kebun tapi khusus untuk bunga, itupun sepetak kecil. Buah hanya beberapa saja, pun hanya sebagai selingan. Memang sih, harusnya ada banyak buah hahahhahaha.

      Aku cukup lihat saja wisata ala-ala eropa, bingung juga mau menikmati apanya

      Hapus
  10. ini emang cocok buat keluarga, terutama yang masih punya anak2 kecil.. udah seperti kebun binatang mini ya, banyak hewan yang dipelihara.. tapi sayangnya itu kelincinya ditaruh di kandang besi kaya gitu. Kandang model seperti itu cocoknya buat kucing yang punya bantalan di telapak kakinya. Kalau kelinci cocoknya di kandang bambu/kayu,, atau kandang seperti itu juga bisa asal dikasih papan di lantainya.. kebetulan dulu pelihara kelinci dan sering gali informasi ttg kelinci.

    -traveler paruh waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini sebenarnya yang menjadi pertanyaanku sendiri. Ada kelinci yang dilepaskan, tapi ada juga di kandang kecil. Aku masih agak bingung dengan konsepnya, semoga mereka bisa berbenah

      Hapus
  11. Beberapa destinasi di Indonesia yang dilabeli dengan konsep wisata keluarga bagi sebagian orang dan komunitas dipandung justru tidak ramah bagi tumbuh kembang anak dan keluarga.

    Kecuali agrowisata tersebut menyediakan workshop berkebun atau bercocok tanam. Apalagi yang melibatkan hewan. Aku termasuk yang agak kurang sreg dengan wisata keluarga yang ada hewannya begini. Karena hewannya dikerangkeng. Hewan harus bebas. Paling tidak, bisa leluasa bergerak dan bermobilisasi. Sama persis seperti kesempatan yang dimiliki oleh pengunjungnya. Kelinci dan kucing itu hewan domestik. Dia biasa ada di lingkungan sekitar dengan bebas, bukan untuk ditonton di dalam kandang.

    Hehehe maaf ya, aku memang agak sensi kalau urusan satwa. Mereka makhluk hidup juga. Sama seperti kita. Mengajak anak-anak menikmati makhluk hidup lain yang stres terkungkung begitu sungguh tidak baik. Ini menurut pendapat dan pandangan pribadiku ya.

    PR untuk edukasi masyarakat Indonesia, terutama di dalam berinteraksi dengan satwa memang penuh jalan terjal dan masih panjang sepertinya perjuangannya. Tapi setidaknya ada yang menyuarakannya. Biar semakin banyak orang yang sadar dan mengetahui. πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini menjadi masukan yang bagus mas. Setidaknya banyak yang setuju dengan pendapat kamu. Sebenarnya ada beberapa juga yang tidak saya abadikan, takutnya banyak yang kurang setuju dan yang lainnya. Bisa jadi lahan sebesar ini dimodif untuk hewan-hewan agar lebih leluasa bergerak, Tidak sepenuhnya dalam sangkar kecil

      Hapus
    2. Nah itu dia. Aku berharap sih dirimu nulis apa adanya sesuai dengan isi hati. Tapi mungkin karena ini famtrip ya, jadi tone postingannya harus yang 'menjual'. Nah juga, konsen dinas pariwisata kita, terutama daerah itu diukurnya selalu dengan jumlah kunjungan.

      Jarang banget yang konsen pada sustainable. Makanya gelombang turisme yang merusak ekosistem (yang kasat mata) dan mental (yang gak kelihatan), gak pernah diurus dengan serius, yang penting cuan masuk. πŸ˜·πŸ™ˆ

      Hapus
    3. Hahahahha, meski famtrip, misalkan saya pemerhati hewan bakal menulis seperti kamu, mas. Saya pribadi tidak begitu paham, hanya ketika melihat banyak yang foto dengan burung, dipegang bergantian secara terus menerus, saya cuma bisa meninggalkan tanpa memotret. Lebih baik tidak ikutan alur hahahahha

      Hapus
  12. Tahun lalu ke sini, rupanya ada banyak spot baru sekarang. Dulu bangunan warna warni itu belum ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya sih itu baru,
      Aku cuma sekilas aja mendengar infonya. Mau lewat jalurnya panas banget ahahhahahah

      Hapus
  13. Yg tempat penangkaran hewan aku dan anakku pasti suka, kecualiiiiii kandang ular hahahahaha. Hisssssh jauh2 dari sanaaaaa :p. Bisa pingsan aku ngeliat reptil2 begitu :D.

    Tapi kayaknya aku jg ga tertarik yg bagian pintu warna warni. Dasar ga suka foto2 :p. Percuma kalo liat spot foto colorful sekalipun, aku LBH suka motretin drpd motret diri sendiri hihihi...

    Jadi pasti tempat hewan yg aku bakal lama melihat2 nya kalo ksana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah dolan ke bagian ular hahahhahah. Itupun lihat aja terus banyak bersantai di bawah pohon sambil lihat wisatawan yang berkunjung. Kalau adek-adek sukanya ke warna-warni ahahahha

      Hapus
  14. cocok untuk bawa liburan keluarga .... banyak spot buat anak dan ortu untuk dijelajahi.
    btw .... kadang di tempat2 seperti ini ... musholla seperti kurang di perhatikan ..
    padahal kalau bagus bisa jadi daya tarik menambah pengunjung datang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga masukan untuk musola bisa didengar, kang. Agar sama-sama nyaman ketika menggunakan saat beribadah :-)

      Hapus
  15. Wah itu kalo ngasih makan kelinci, kayaknya bukan anak-anak aja yang excited. Aku pun juga hahaha. Jadi inget dulu pernah ke KidZoo Bandung dan berinteraksi dengan hewan-hewan di sana, seperti sapi, domba, guinea pig, dll. Aku liat anak-anak juga pada antusias. Seru banget tempat kayak gini bisa jadi tempat bermain dan belajar juga. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang untuk anak-anak, tempat seperti ini menyenangkan. Berhubung aku rombongan, jadi di sini cuma duduk santai ahahhahah

      Hapus
  16. Udah lama tahu destinasi ini dan pengen ngajak anak-anak ke Bhumi Merapi, sampai masa pandemi gini, hanya wacana :)
    Padahal dekat ya, sesama Sleman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bisa ke sini jangan pas akhir pekan, mak. Biar nggak ramai banget ahahahhaha

      Hapus
  17. Aku sudah 3 kali ke Bhumi Merapi. Saat fieldtrip PAUD, TK, dan yang terakhir diajakin kakak ipar ke sana. Tapi kayaknya terakhir ke sana belum ada bangunan warna-warni itu. Buat anak-anak tempat ini cukup seru. Renjana bisa puas lari-lari dan mainan kelinci. Emaknya yang capek ngikutin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungguh ya mamak-mamak yang mengurusi Bre jadi sering ke sana. Aku mau ke sana buat apa kalau sendirian, mbak ahahahhahaha

      Hapus
  18. Rencananya aku kepengen ke Jogja Desember nanti trus mau mampir ke Bhumi Merapi ini :) Eh, ga jadi gara2 Merapi siang 1 kan hahaha. Btw ke Ulen Sentalu juga batal padahal udah niat banget wkwkwkwkwk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, risiko destinasi di sekitaran Merapi ya seperti ini. Termasuk desa wisata yang tak jauh dari sana. Semoga lekas berlalu dan geliat wisatawan makin banyak.

      Hapus

Pages