Menapaki Setiap Sudut di Lawang Sewu Semarang

Benar saja, tak berapa lama dari tempat Lumpia, aku sudah sampai di kawasan Tugu Muda. Di sebelah kananku banguan mencolok Lawang Sewu, sudah ada banyak pengunjung yang masuk. Aku sendiri melepaskan lelah duduk di dekat Kantor Polisi. Kulihat jam tangan, perjalanan dari Jalan Pandanaran (Lumpia) sampai di sini sekitar 15 menit saja. Jadi lengkap sudah perjalanan pagi tadi. Dari Terminal Terboyo – Simpang Lima Semarang – Lawang Sewu. Lumayan capek juga.

Tak kuceritakan sejarah tentang Lawang Sewu, aku yakin sudah banyak di antara kalian paham dengan tempat ini. Jika belum paham, ada banyak literatur yang mengulas tempat bersejarah tersebut. Sebuah pintu kecil di antara pagar terbuka, di sana ada lebih dari 15 pengunjung yang santai seraya mengabadikan diri. Aku memasuki pintu kecil, di sana ada dua satpam yang menjaga. Diarahkan aku ke tempat tiket yang ada di sisi kiriku. Sebuah stand kecil di dalamnya hanya berisi dua perempuan.
Lawang Sewu dari seberang jalan
Lawang Sewu dari seberang jalan
“Tiketnya Rp.10.000, mas.”

Kusodorkan uang pas ke arah perempuan tersebut. Lalu diberinya aku kertas tiket masuk.

“Boleh motret di dalam?” Tanyaku seraya menunjukkan kamera.

“Boleh mas, silakan masuk lewat sisi kanan,” Jawabnya memberi arahan.

Sebuah plang petunjuk arah masuk mengarahkan anak panah ke kanan. Sementara di sudut tulisan keluar sudah ada banyak pengunjung yang menumpuk. Bisa jadi mereka ingin beristirahat sebelum pulang atau menunggu teman-temannya yang masih di dalam. Setiap sudut sudah cukup ramai rombongan, sepertinya hanya aku yang datang sendirian tanpa teman. Seraya memanggul ransel, aku mengikuti jalan yang mengantarku pada pintu portable pengecekan tiket.

“Tiketnya mas?” Tanya lelaki di dekat pintu masuk.

Kuserahkan tiket tadi, lalu dicek dan plang pintu tersebut membuka. Aku bergegas mengambil tiket dan duduk di tengah-tengah halaman Lawang Sewu. Di sana terdapat sebuah pohon Mangga besar yang rindang, sementara di bawahnya ada banyak kursi panjang. Tak ketinggalan orang yang menawarkan foto sekali jadi menyapa setiap pengunjung. Aku mengabadikan salah satu sudut yang tampak dari tempatku duduk. Belum ingin rasanya mengelilingi setiap ruas lorong pintu Lawang Sewu.
Petugas memeriksa tiket masuk ke Lawang Sewu
Di dalam area Lawang Sewu, Semarang
Di dalam area Lawang Sewu, Semarang
Sedikit yang kuketahui tentang Lawang Sewu; penamaan yang mengartikan Seribu Pintu dalam bahasa Jawa. Tempat ini memang mempunyai banyak pintu, tapi tak sampai seribu. Hanya saja bangunan jaman penjajahan Belanda ini mempunyai jendela-jendela yang panjang mirip dengan pintu. Jika kubaca beberapa literatur; orang-orang pun menamakan jendela panjang hampir seperti pintu tersebut sebagai pintu. Kutapaki satu banguan dari yang paling dekat. Di sini ada banyak pintu yang terbuka. Sejajar dengan pintu-pintu lainnya, jarak antara pintu pun hanya sekitar dua meter saja. Pintu-pintu seragam berwarna gelap, dan modelnya pun sama. Tempat inilah yang paling banyak digunakan para pengunjung berfoto. Semacam ikon tempat Lawang Sewu. Satu pintu kupegang dan coba kugerakkan, terdengar suara berderit. Pintu-pintu ini memang sudah sangat lama.

Sementara itu, aku masuk ke dalam ruangan di sisi lainnya. Di sini tak terlihat jejeran pitu. Hanya jalan teras semacam lorong panjang dan pondasi menjulang tinggi. Jalannya tak lebar, hanya sempit tapi tinggi. Ornamen bata tersusun tiap pondasi, dikombinasikan dengan cat putih serta lantai agak coklat.  Ditambah lagi suasana hening menjadikan tempat ini cukup sunyi. Padahal ada banyak pengunjung yang berdatangan, tapi tetap saja suasana sunyi tak terelakakkan.
Memasuki sudut-sudut ruangan di Lawang Sewu
Memasuki sudut-sudut ruangan di Lawang Sewu
Memasuki sudut-sudut ruangan di Lawang Sewu
Kumasuki ruangan yang tersekat tiap tembok dan pintu. Tanpa sengaja aku memasuki ruangan yang di dalamnya ada sekeluarga menonton video yang menceritakan tentang Kereta Api. Jejeran kursi panjang dan meja bulat tak dipenuhi pengunjung, hanya sekeluarga itu saja duduk manis melihat ke arah monitor. Si kecil terdiam menikmati setiap tayangan yang dilihatnya. Berbeda dengan sekumpulan anak-anak SMP, mereka berlari ke sana-kemari tanpa tujuan, asal masuk ruangan, teriak-teriak bareng temannya dan keluar lagi. Cukup ramai kalau sedang bersua dengan segerombolan anak tersebut.

Masih diruangan yang sama, di sini ada miniatur Kereta Api yang dipajang. Sebuah tulisan dilarang menyentuh pun terpampang jelas. Ada banyak jenis miniatur Kereta Api pada masanya. Bisa jadi si kecil tersebut sangat antusias karena melihat video Kereta Api. Menyenangkan sekali rasanya mengenalkan sikecil dengan informasi-informasi penting seperti ini, Lawang Sewu bisa menjadi salah satu tempat berlibur anak-anak.
Asyik melihat video Kereta Api
Asyik melihat video Kereta Api
Miniatur Kereta Api terpajang di dinding
Miniatur Kereta Api terpajang di dinding
Kurang puas rasanya duduk di sini, aku melangkah menyusuri tiap sudut ruangan di lantai satu. Pintu-pintu terbuka di tengah ruangan, setiap ruangan serasa tembus ke ruangan lain jika seluruh pintu dibuka. Beberapa pajangan lukisan pun terpampang di tembok, aku asal melangkahkan kaki sampai sudut. Di sini pun kembali aku bertemu dengan sekelompok anak tadi yang berlarian. Mereka berhamburan menyelusup di antara pintu, berpencar dengan temannya diiringi teriakan gelakan tawa panjang. Aihh, anak-anak, ceria banget kayaknya. Tak hanya pintu yang terbuka, lorong panjang seperti sisi lain tadi pun juga ada di sini. Di dalam ruangan yang sunyi. Hentakan kaki para pengunjung terdengar dari segala penjuru. Terlebih jejakan kaki anak-anak yang berlarian.

Sampailah aku diruangan lain yang agak lebih gelap. Di sini aku bertemu dengan penjaga Lawang Sewu sedang membersihkan tembok dari sarang Laba-laba. Kembali lagi sekumpulan anak kecil di belakangku. Mereka mengamati tangga yang di lantai dua dan tiga terdapat jendela berornamen. Sejurus anak-anak ingin menaiki tangga dan berfoto di atasnya.
Suasananya lengang sekali
Suasananya lengang sekali
Suasananya lengang sekali
“Jangan naik ya dek, itu ada tulisannya dilarang naik. Kalau mau ke lantai dua dan tiga lewat tangga bangunan yang sana,” Kata bapak yang membersihkan.

“Kenapa pak kok nggak boleh?” Protes anak-anak.

“Kan ada tulisannya dilarang naik,” Sahut bapak lagi.

Sepertinya anak-anak tersebut sedikit kecewa, lalu mereka meninggalkan tempat tersebut sambil menggerutu. Namanya juga anak-anak, wajarlah bila menggerutu. Sebuah plang tulisan dilarang naik memang terpajang di antara rantai-rantai yang menutupi sebagian jalan menuju tangga. Walau sebenarnya rantai tersebut masih bisa dilewati jika mau sedikit miring atau melompati rantai. Aku mengabadikan dari bawah, dan ketika aku di sana datanglah dua sejoli yang juga ingin berfoto. Diabaikannya tulisan tersebut, sang perempuan pun berfoto dari tangga naik ke lantai tiga.

Aku hanya memberi isyarat tulisan tersebut, sang lelaki hanya tersenyum dan mengabaikan saja. Dia terus memotret perempuan dengan kamera smartphone. Ternyata anak-anak jauh lebih mudah diberi tahu daripada orang dewasa yang tak paham dengan bacaan larangan tersebut. Akupun berlalu saja meninggalkan dua sejoli yang asyik berfoto.
Indah sekali ornamennya dari bawah
Indah sekali ornamennya dari bawah
Dan jika kita berkunjung di suatu tempat tanpa mengabadikan tentunya kurang lengkap. Aku menapaki anak tangga yang berada dipojokan, dekat mushola dan toilet. Dari tangga tersebut aku naik ke lantai dua. Selama menaiki tangga, sempat aku berpapasan dengan rombongan lain. Cukup sempit sebenarnya tangga tersebut, aku berhenti seraya mempersilakan mereka jalan lebih dahulu. Di lantai dua bentuknya tak jauh beda dengan lantai pertama. Jejeran pintu menjadi tempat yang harus diabadikan, aku mengambil Tripod dan memasang Kamera Mirroless Nikon 1 J3. Tak lupa sebuah buku yang memang menjadi teman seperjalananku selama akhir pekan ini.
Halo Lawang Sewu...
Halo Lawang Sewu...
Halo Lawang Sewu...
Puas rasanya mengelilingi sebagian besar lokasi Lawang Sewu, aku pun turun ke bawah. Yang kutinggalkan adalah lantai paling atas, aku menuruni anak tangga dan keluar. Di luar dekat toilet terdapat tempat rak sepeda yang unik, tempat tersebut seperti menggantungkan sepeda. Tempat ini peninggalan dari Belanda. Tak hanya itu, di area halaman depan juga terdapat dua lokomotif. Di sini anak-anak mengabadikan diri bareng Kereta Api. Aku hanya duduk santai di kursi di bawah pohon mangga. Saat aku duduk santai, terlihat empat orang duduk santai di dekatku. Mereka terlihat berbeda dengan pengunjung lainnya, keempat orang tersebut memanggul carrier ukuran besar. Kami pun bertegur sapa.

“Habis ngecamp di mana?” Tanyaku mengawali sapaan sambil berjabat tangan.

“Merbabu mas. Mas sendiri?”

“Aku hanya main-main sini saja.”

Obrolan santai berlanjut, keempat orang ini adalah teman-teman dari Bogor, Banten, dan dua dari Jakarta. Mereka meminta ijin keliling Lawang Sewu, karena Kereta Api yang dinaiki nanti berangkat pukul 14.00WIB. Aku kembali duduk di kursi, kemudian datanglah pak polisi yang mengantarkan rombongan ibu dari Polda Jateng. Kami kembali ngobrol santai, membahas tentang liburan. Sangat supel bapak polisi satu ini, beliau bertugas di Semarang Tengah, tak lama berselang beliau ijin keluar terlebih dulu karena rombongan Ibu Polda melanjutkan ke Sam Poo Kong. Oya, aku sempat berfoto dengan empat teman yang tadi ngobrol. Senang kenal dengan kalian.
Bertemu dengan teman baru
Bertemu dengan teman baru
Tepat pukul 10.00WIB, aku keluar dari Lawang Sewu. Bergegas aku mencari taksi menuju Bandara Ahmad Yani Semarang. Rencananya pukul 11.00WIB aku terbang ke Karimunjawa menaiki Pesawat Airfast. Pesawat ini menggantikan Susi Air yang sempat melayani penerbangan Semarang – Karimunjawa. *Kunjungan ke Lawang Sewu Semarang pada hari Jum’at; 25 Maret 2016.
Baca juga tulisan budaya lainnya 
Share on Google Plus

About Nasirullah Sitam

Salah satu blogger Karimunjawa yang masih belajar menulis di blog, berharap teman-teman Karimunjawa lainnya bisa ikut menulis. Keturunan Bugis – Mandar. Jika ke Karimunjawa, singgahlah sejenak di rumah kami. Jika ada keperluan, bisa dihubungi via email.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

39 komentar :

  1. lawang sewu bikin saya penasaran, dari dulu belum kesampaian kesana, berkunjung malem kayaknya sensasinya beda ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahahha, kalau malam enaknya rame-rame :-D

      Delete
    2. pernah jadi lokasi uka - uka ya mas

      Delete
    3. Dulu iya mbak, wah kok inget banget ya hhehhehheh

      Delete
  2. wah kalo siang ternyata gak terllau seram ya mas keceh dah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahha, aku takut kalau malam, kan sendirian hahahahahh

      Delete
  3. Aduh, pas ke Semarang aku gak mampir ke sini... Padahal pengen banget... Ketika malam2 mau nekat masuk gak taunya lagi ada acara... GATOT deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heee, kalau malam aku juga belum tentu ke sana mbak. Apalagi sendirian :-D

      Delete
  4. Hmm jadi penasaran nih sama suasana disana soalnya saya belum pernah nih mas merasakan suasana asli dan berada langsung di sana seperti muantappp ya mas ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau siang seru, tapi kalau malam katanya lebih seru :-D

      Delete
  5. Ohh jadi foto mas yang di IG itu di lawang sewu thoo. Bagus ya kalau siang, tp kalau malem.. aku ndak berani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yapp hehehhehe, aku kalo sendirian ya nggak berani :-D

      Delete
  6. lawang sewu ya, saya tahunya dari TV saja belum pernah ke sana langsung, mudah2han lain kesempatan saya bisa datang ke tempat itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnn, kalau singgah di Semarang bisa mampir mas :-)

      Delete
  7. wow bnr-bnr indah ornamennya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serunya kalau berkunjung ke sini bisa mengabadikan banyak objek, mbak.

      Delete
  8. waduh kapn bisa kesana ya. ia keren2 banget mas potonya. bagian kereta api pada masanya itu loh yang oke kalau diabadikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mbak kalau berkunjung ke Semarang kan bisa sekalian ke sini. Dekat dan berapa di pusat kota tempatnya.

      Delete
  9. ya ampun, lawangsewu itu dalamnya itu toh?
    bagus juga yah ternyata.a
    terimaksih sharingnya, ditunggu lagi ceritanny

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, siap semoga tak bosan dengan tulisan sederhana ini :-)

      Delete
  10. Lawang Sewu tempat historis dan jalan-jalan liburan sik di Semarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener kang. Mumpung lokasinya juga mudah diakses

      Delete
  11. Lawang Sewu slalu berhasil buat orang penasaran yah....

    ReplyDelete
  12. kalau ada libur panjang mau kesini juga ah :)

    ReplyDelete
  13. Wah ini mah deket sama rumah ane mas, walaupun ane Kendal. Hehehhe...
    meski sering lewat sini, cuma beberapa kali masuk..
    btw, sekarang udah gak boleh masuk ke ruangan bawah tanah ya mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, ada beberapa tempat yang tidak diperkenankan masuk, salah satunya ruang bawah tanah :-)

      Delete
  14. Lawang sewu artinya Pintu 1000,, maklum orang jawa ya jadi tahu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heeee, saya bukan orang jawa mas. Saya orang Bugis + Mandar :-D

      Delete
  15. Dari dulu pengin banget main ke Lawang Sewu cman belum ada waktu dan kesempatan, sekarang baca artikel ini jadinya malah tambah kepingin banget...
    doakan mas semoga suatu saat bisa kesana
    salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mas Adams; Lawang Sewu ada di pusat kota, mas. Cukup gambang ditemukan kalo ke Semarang. Semoga ada waktu ke sana, mas :-)

      Delete
  16. eh .. itu foto model yang lagi baca buku .. kayaknya saya kenal deh .. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emmhhh itu nggak dibayar loh modelnya, kang :-D

      Delete
  17. malam hari foto2 di situ, kalo "beruntung" akan ada penampakan hantu wanita di hasil foto.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahuahua, sepertinya nggak ke sana malam-malam kalau bonusnya begitu, mas :-D

      Delete
  18. belum kesampeyan pengen liburan ke lawang sewu..

    ReplyDelete