Akhir Pekan Bersepeda Mengunjungi Watu Songgo Langit, Mangunan - Nasirullah Sitam

Akhir Pekan Bersepeda Mengunjungi Watu Songgo Langit, Mangunan

Share This
Mengunjungi Watu Songgo Langit, Mangunan
Mengunjungi Watu Songgo Langit, Mangunan
Cahaya mentari menerobos di antara dedaunan. Aku bersama kedua temanku (Febri & Ridwan) terus mengayuh pedal sepeda menuju arah Hutan Pinus, Dlingo. Tenaga sudah terkuras kala melewati jalanan tanjakan di Bukit BNI Imogiri, lalu melanjutkan perjalanan menuju Watu Lawang. Menyenangkan rasanya, setelah sekian lama aku tidak menikmati tanjakan, akhirnya kembali lagi merasakan bagaimana rasanya kaki ini mengayuh terus di tengah tanjakan.

Jika diruntut, jalan dari Bukit BNI menuju Mangunan jauh lebih menyenangkan. Memang ada beberapa tanjakan tinggi, tapi tetap ada jalan ratanya. Jika kita melewati jalur Makam Imogiri, sampai dekat pertigaan arah Pinus dan Mangunan baru ada jalan datar. Kami bertiga ini lebih memilih bersepeda santai, ketika teman terasa capek, kami berhenti menunggu dan kemudian rehat bareng sembari meneguk air mineral di tepian jalan.

“Tahu lokasinya, kan?” Kembali kulontarkan pertanyaan ke Febri.

“Iya tahu. Itu lokasinya satu jalur ke Pinus. Kita nanti naik sedikit, terus belok kanan. Dekat kok,” Jawab Febri mantap.

Febri sangat hafal daerah sini, tidak seperti aku dan Ridwan yang hanya paham beberapa lokasi saja di Mangunan. Sejak moncernya Hutan Pinus, diiringi dengan Puncak Becici, dalam kurun waktu satu tahun terakhir muncul banyak lokasi baru yang mirip dan memberikan pemandangan yang nyaris sama. Salah satunya adalah Watu Lawang yang tadi kami kunjungi sebelumnya.

Tepat di perempatan kalau belok kanan menuju Gardu Pandang Mangunan, lurus menuju Curug Lepo. Kami menanjak mengambil kiri jalan menuju Hutan Pinus. Aku ingat, terkahir kali aku bersepeda menyusuri jalan ini adalah tahun 2014. Kala itu aku juga sempat menyambangi Puncak Becici yang waktu itu belum dikenal dan belum berbenah. Tanjakan khas Mangunan kulalui, dan sekitar 100 meter dari perempatan tersebut, Febri membelokkan arah ke kanan. Sebuah jalan setapak dan di atasnya ada spanduk berwarna kombinasi hijau dan kuning.
Jalan masuk menuju Watu Songgo Langit, Mangunan
Jalan masuk menuju Watu Songgo Langit, Mangunan
“Selamat Datang di Wisata Alam Sribu Batu Songgo Langit”. Benar juga kata Febri, dia sudah duluan tahu lokasi yang aku tunjukkan di Instagram beberapa waktu lalu. Tak jauh dari jalan tersebut, kami sudah sampai ditujuan. Tidak ada biaya masuk (kala itu), kumpulan warga sedang bergotong-royong membuat bangunan terbuat dari bambu untuk kios. Aku menyapa beberapa bapak yang rehat. Bahkan beliau menawarkan Teh panas yang masih di dalam Teko pada kami.

Sepintas kupandangi sekeliling. Pohon Pinus menjulang tinggi, di bawahnya sudah bersih. Sepertinya lokasi ini memang sudah disiapkan warga untuk dijadikan destinasi baru lagi. Kusandarkan sepeda di salah satu pohon Pinus, lalu duduk di bongkahan kayu yang disulap menjadi kursi. Nyaman sekali rasanya, tempat ini tak ramai (belum ramai). Hanya beberapa pengunjung yang singgah sebentar, berfoto, lalu pergi ke lokasi lain.
Menyandarkan sepeda di pohon pinus
Menyandarkan sepeda di pohon pinus
Konsep Watu Songgo Langit ini sepertinya akan dijadikan tempat bersantai seperti di Hutan Pinus. Ada dua jembatan yang terbuat dari kayu, dan di bawahnya terdapat plang yang bisa kita pegang dengan tulisan bermacam-macam. Salah satunya tentu berkaitan dengan “mantan”. Sudah pasti target pengunjung ke sini untuk berfoto, diunggah di sosmed, dan secara tidak langsung dapat diketahui banyak orang. Benar kata beberapa teman, selain Mangrove, akhir-akhir ini, Hutan Pinus menjadi daya tarik tiap wisatawan. Di depanku juga ada tempat bersantai. Semacam cakruk yang bisa kita gunakan santai bareng keluarga.

Lahan di Watu Songgo Langit ini cukup luas. Di bawah sana ada semacam jalur aliran air yang kering. Di sanalah dua jembatan yang dibuat. Satu jembatan hanya pendek, sementara yang satu cukup panjang. Bongkahan batu besar di sini sangat mencolok. Inilah yang dikatakan sebagai Watu Songgo Langit. Belum kuketahui asal-usul penamaannya, yang kudapati hanya plang tulisan batu tersebut. Di sisi lain, tempat naik ke atas batu juga terdapat larangan agar alas kaki dilepas.
Suasana di Watu Songgo Langit, Mangunan
Suasana di Watu Songgo Langit, Mangunan
Suasana di Watu Songgo Langit, Mangunan
Semacam Trekking Hutan Pinus yang ditawarkan ketika kita ke sini. Ada jalan setapak naik ke atas disanggah dengan batang kayu kecil menyusuri pepohonan Pinus sampai atas. Aku tidak naik sampai atas karena masih capek. Dari beberapa gambar yang kudapati di Instagram, di atas sana ada semacam puncak yang di atasnya terdapat tiang bendera. Nanti jika aku ke sini lagi akan kuabadikan tempat tersebut.

Aku malah asyik mengikuti jalur terdekat. Mengelilingi tangga yang panjang lalu mengabadikan dari berbagai sudut. Tangga inilah yang menarik perhatianku waktu di Instagram. Cukup lumayan panjang tangga yang terbuat dari kayu ini melintasi di atas tanah aliran air. Jika dirasakan ada semacam memantul dan sedikit bergoyang ketika kita menyeberanginya. Asyik juga di sini, aku bisa bersantai menikmati suasana yang sudah mulai terik. Setiap jembatan di kedua sisinya diberi pembatas terbuat dari bambu. Masih baru bambunya, ini artinya lokasi ini memang baru bersolek.
Menyusuri pepohonan Pinus Mangunan
Menyusuri pepohonan Pinus Mangunan
Menyusuri pepohonan Pinus Mangunan
Kedua temanku (Ridwan dan Febri) sudah asyik sendiri. Mereka secara bergantian memotret, di beberapa sudut lokasi ini. Aku juga melakukan hal yang sama. Beruntung kali ini tidak lupa membawa Tripod, jadi kupasang kamera di Tripod dan mengabadikan diri. Setahuku ada tiga spot yang jadikan tempat memotret, di kedua jembatan, dan di jalan setapak naik di antara pepohonan Pinus. Selesai memutari tempat ini, aku rehat sembari menunggu kedua temanku yang masih asyik berfoto.
Mumpung sepi, foto sendiri dulu
Mumpung sepi, foto sendiri dulu
Mumpung sepi, foto sendiri dulu
Kami bertiga duduk santai di tempat semacam cakruk. Melepas lelah dan berbaringan. Febri turun menuju sepeda dan mengambil bekal yang dibelinya. Ternyata dia sudah membawa 3 bungkus bakmi, dan gorengan. Semacam liburan keluarga ini, kami makan bekal dengan lahap. Tak hanya untuk sarapan, dia juga membawa tiga bungkus susu kedelai. Weiihhh, sudah seperti sedang outbond kan. Pantes saja tas sepedanya tidak ditinggal, ternyata di dalamnya bawa bekal.
Sarapan bareng-bareng
Sarapan bareng-bareng
Ketika aku dan teman-teman ke sini, Watu Songgo Langit sedang berbenah. Semoga ke depannya sudah menjadi lebih bagu lagi. Lokasi ini sebenarnya asyik buat kumpul keluarga, dan cukup sepi juga. Jika memang dari pihak warga ingin mengembangkan, lebih baik ada arena outbond anak-anak sehingga bisa dijadikan tempat liburan alternatif bagi keluarga. Kan seru kaalu ada, jadi ketika membawa keluarga bisa main ke sini. *Bersepeda menuju Watu Songgo Langit Mangunan pada hari Sabtu; 03 September 2016.
Baca juga tulisan bertema Gowes lainnya

52 komentar:

  1. Belum sempat mampir hanya lewat, kapan2 kesitu.. Pemandangannya bagus, selain cocok buat liburan keluarga, makan bersama sahabat juga asik sepertinya..

    Akhir pekan yang seru mas Nasirullah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seringnya memang hanya buat lewat asja lokasi ini mas. Fokusnya ke Pinus dan Becici ahahhaha

      Hapus
  2. jalan-jalan di hutan pinus emang menyenangkan yaa mas...apalagi kalo sambil makan rame2...asyik bgt...hhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditambah lagi bisa saraban di sana hahahahha

      Hapus
  3. Entahlah berungkali ingin kesini, tapi gak pernah bisa..

    BalasHapus
  4. wuih namanya Songgo Langit, penyangga Langit

    semoga segera dibenahi, bagus tuh jadi lokasi wisata keluarga..
    adeeem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngeri toh mas hahahahhaha.
      Pengennya bisa jadi tempat outbond

      Hapus
  5. tempat yang bagus untuk next jalan-jalan nih, kayaknya rame kalau sama teman ke sonngo langit..
    liburan sedikit supaya gak jenuh belajar teruss...

    thanks infonya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, semoga bisa berlibur ahhahaha

      Hapus
  6. Main mu jauh banget ama sepada nya, gw naik mobil aja capek lhio

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga pesepeda om, adanya sepeda ahahahahah

      Hapus
  7. jadi pengen sepedahan lagi, dulu waktu muda sih sering, sekarang susah cari waktunya

    BalasHapus
  8. Cocok banget buat seger segeran ya mas :D
    apalagi pake sepeda..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mas hehehhe. Kalau buat lari sepebarnya juga bagus :-)

      Hapus
  9. Namanya keren ya Mas Rullah, Watu Songo Langit. Ya mungkin batu itu turun dari langit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, biasa penamaannya emmang bikin menarik :-)

      Hapus
  10. pepohonaaan, saya sukaaa, kalau di Bogor ke tempat yang seperti itu harus ke kaki gunung salak dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aihh jiwa petualangnya kembali muncul :-D

      Hapus
  11. Pepohonannya, serba hijau. Kira-kira disitu dingin gak mas?

    BalasHapus
  12. Oh wow, gowes kesini, medannya berat amat mas :D *cemen* hebat lah, jalan kaki aja aku ngos2an kayaknya, apalagi gowes hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahha, aku kan orangnya nggak kuat kakakkakak

      Hapus
  13. Sepedaan ya? Bayanginnya aja langsung pingsan. Duh aku pengen balik lagi ke Kebun Buah Mangunan sana pas subuh-subuh pas masih sepi orang >_< apa tempat ini juga ramai seperti sodaranya itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak sepedaan mas, bisa bikin gempor badan ahahhaha.
      Kalau subuh yang ramai itu di Gardu pandang, Bukit Panguk, Watu Mabur, dan Tembelan.

      Kalau sore lebih banyak berkumpul di Becici, jadi tempat ini kalau pagi sepi :-D

      Hapus
  14. ahhh kau ini kalo gak sepedaa, mesti narsis..hahha yokk aku diajak dolan jogja,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dolanku belum jauh kak. Jadi narsis aja hahahahha

      Hapus
  15. banyak tempat2 wisata baru yang bermunculan ya ... kondisi yang bagus ... apalagi tempatnya di tata dan rapih seperti ini ... banyak spot yang instragramable, pasti akan tambah ngetop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kang. Jadi nggak bingung pengen ke mana

      Hapus
  16. Aku kalau lewat cuma lirik papannya aja mas, belum pernah masuk sana aku.
    Belum ada magnet yang menarikku untuk singgah, wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bawa pasangan biar ada magnet untuk ke sini hahahahah

      Hapus
  17. udah lama nih ga sepedahan... jadi kangen sepedahan...

    BalasHapus
  18. Aku kangen bau pinus.. Aku kangen traveliiiiing.. 😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klik tiket pesawat ke Jogja hahahahhaha. Ayo main Jogja

      Hapus
  19. Nanti kalau aku mudik Jogja, boncengin aku ke sana ya mas. Wkwkwkwk. Btw itu bakmi sama gorengan nikmat banget, kangen :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak pinjami sepeda aja mas hahahha. Sepedaan bareng :-D

      Hapus
  20. Woh, asyik. Panggonan kayak begini ini cocok nggelar tikar, piknik makan2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhahahha, emang seru itu mas kalau makan-makan bareng teman :-D

      Hapus
  21. Wuih cakep tempatnya mas. Boleh dijajal nih.
    Asik bawa makanan ya. Mantap.

    BalasHapus
  22. Wah sayang kemarin pas liburan ke sana belum sempat naik. Mudah mudahan bulan juni atau juli bisa melipir kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga secepatnya bisa main ke sini lagi, mas.

      Hapus
    2. pingin bgd mas mudah mudahan ke sampaian

      Hapus
    3. Jangan lupa kalau ke sini kendaraan harus benar-benar sehat :-)

      Hapus
  23. Banyak banget y wisata di Bantul dan sekitarnya. Ini aja belom.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang banyak tempat wisata alternatif seperti ini di bantul kok. Semoga bisa main :-)

      Hapus

Pages